MEDAN, BONARINEWS — Jhonson Simanjuntak pernah menjadi aktivis yang menyuarakan perubahan sejak 1996. Kini, ia bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia bersyukur anaknya mendapat bantuan pendidikan sejak SMA hingga bisa melanjutkan kuliah.
Kesaksian itu disampaikan Jhonson dalam kegiatan Serap Aspirasi Masyarakat Bersama Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di Hall Universitas Bunda Thamrin, Jalan Sei Batanghari, Medan, Senin (2/11/2026).
Di hadapan Sofyan Tan, Jhonson mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan pendidikan yang diterima anaknya. Bagi dia, kesempatan menempuh pendidikan tinggi menjadi harapan agar kehidupan anak-anaknya kelak lebih baik daripada yang ia jalani sekarang.
“Saya Jhonson Simanjuntak, pekerjaan ojek online. Terima kasih kepada Bapak Sofyan Tan. Saya selalu dibantu, waktu SMA juga mendapat bantuan sampai kuliah hari ini,” ujarnya.
Jhonson mengaku memiliki banyak rekan sesama aktivis yang kini menduduki jabatan publik. Namun, menurut dia, pengalaman menerima bantuan pendidikan bagi anaknya membuat ia memiliki pandangan tersendiri terhadap upaya memperluas akses kuliah bagi keluarga yang membutuhkan.
“Ya bersukacitalah kepada Tuhan Yang Maha Esa memberkati Pak Sofyan Tan, membuat dia menjadi jalan hidup bagi anak-anak kita semua untuk mencapai cita-citanya,” kata Jhonson.
Jhonson bukan satu-satunya orangtua yang menceritakan beratnya memperjuangkan pendidikan anak. Dalam pertemuan itu, seorang ibu mengungkapkan bahwa suaminya bekerja sebagai pengemudi ojol dengan penghasilan tidak menentu. Ia sendiri memiliki penyakit bawaan, sedangkan suaminya menderita penyakit jantung.
Dengan kondisi ekonomi dan kesehatan keluarga tersebut, membiayai anak yang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Bunda Thamrin terasa sulit. Bantuan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah jalur aspirasi membuka kesempatan bagi anaknya melanjutkan pendidikan.
Sang ibu berharap anaknya kelak berhasil menjadi pengacara. Baginya, pendidikan tinggi merupakan jalan untuk mengubah masa depan keluarga yang selama ini dibatasi persoalan biaya.
Kesaksian serupa disampaikan orangtua Hanifah Iqbal, mahasiswa yang diterima di jurusan Keperawatan. Ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk membiayai kuliah anaknya.
“Jangan berhenti jadi orang baik, Bapak,” ucapnya kepada Sofyan Tan.
Rima Lumba Raja, warga Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, juga menyampaikan rasa syukur karena anaknya, lulusan SMA Sultan Iskandar Muda, memperoleh kesempatan kuliah di jurusan Keperawatan Universitas Bunda Thamrin.
Data kesejahteraan jadi sorotan
Di balik cerita para penerima bantuan, muncul persoalan ketidaksesuaian data kesejahteraan yang dapat memengaruhi akses calon mahasiswa terhadap bantuan pendidikan.
Sofyan Tan mengatakan, ia menemukan keluarga dengan orangtua yang bekerja sebagai pengemudi ojol, tukang becak, hingga pekerja rumah tangga, tetapi anaknya terkendala karena tercatat dalam desil 6 hingga 10.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar data administrasi tidak menghambat kesempatan anak dari keluarga yang membutuhkan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Sofyan mengaku membawa dokumentasi kondisi nyata keluarga penerima bantuan untuk disampaikan kepada pimpinan Badan Pusat Statistik (BPS). Ia ingin mendorong agar persoalan ketidaksesuaian data dapat ditangani sehingga calon mahasiswa yang membutuhkan tidak kehilangan kesempatan kuliah.
“Jangan mengubur orang miskin tidak bisa kuliah,” tegasnya.
Mahasiswa diminta menjaga kesempatan
Sofyan juga mengingatkan para mahasiswa penerima bantuan agar memanfaatkan kesempatan kuliah dengan sungguh-sungguh. Ia meminta mereka rajin belajar, tidak bolos, tidak putus kuliah, dan berupaya mempertahankan indeks prestasi di atas 3.
Menurut dia, bantuan pendidikan bukan sekadar meringankan beban biaya, melainkan juga membuka jalan bagi mahasiswa untuk memperbaiki kehidupan keluarga.
Ia meminta mahasiswa mengingat pengorbanan orangtua yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya.
“Suatu saat kalian harus mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga. Jangan sampai orangtua terus menderita. Jadikan kesempatan ini sebagai jalan untuk mengubah kehidupan keluarga,” pesannya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Dewan Penyantun Universitas Bunda Thamrin, Dr. Hely Widjaja dan Hendra Wibowo, serta unsur pimpinan sivitas akademika kampus. Hadir pula tenaga ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting, dan Pandapotan Tamba.
Bagi keluarga seperti Jhonson, kesempatan anak untuk kuliah bukan sekadar pencapaian akademik. Pendidikan menjadi harapan agar kerja keras orangtua dapat berbuah masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Penulis: Dedy Hutajulu