PGRI Dairi Dorong Guru Menulis, Pengalaman di Kelas Jangan Berhenti Jadi Cerita

Bagikan Artikel

DAIRI, BONARINEWS — Pengalaman guru di ruang kelas kerap menyimpan cerita tentang keberhasilan, tantangan, hingga cara menyelesaikan persoalan pembelajaran. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Dairi mendorong pengalaman itu tidak berhenti sebagai cerita, tetapi diolah menjadi tulisan yang bisa dibaca dan memberi manfaat bagi orang lain.

Dorongan tersebut disampaikan dalam Pelatihan Menulis untuk Guru yang digelar PGRI Kabupaten Dairi dengan menghadirkan Anggi Afriansyah, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus penulis buku. Kegiatan itu diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah.

Anggi mengatakan guru memiliki bahan tulisan yang sangat dekat dengan keseharian mereka. Pengalaman menghadapi beragam karakter siswa, menemukan metode pembelajaran, menyelesaikan persoalan di kelas, hingga menjalankan praktik baik merupakan modal untuk menghasilkan tulisan.

Menurut dia, pengalaman tersebut tidak seharusnya hanya tersimpan dalam ingatan atau menjadi percakapan di ruang guru. Pengalaman mengajar dapat diolah menjadi tulisan populer yang dapat dibagikan kepada sesama guru maupun masyarakat.

Salah satu materi yang dibahas adalah penulisan artikel populer untuk media massa. Kemampuan menulis, kata Anggi, dapat menjadi sarana bagi guru untuk menyampaikan gagasan dan perspektif mengenai pendidikan kepada publik.

Ketua PGRI Kabupaten Dairi Binari Tulus Rajagukguk mengatakan guru tidak perlu ragu menulis pengalaman mereka. Setiap guru memiliki cerita yang berbeda, mulai dari keberhasilan siswa, persoalan pembelajaran, inovasi di kelas, hingga pengalaman yang memiliki nilai inspiratif.

“Pengalaman tersebut perlu dituliskan agar tidak berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang,” kata Binari dalam kegiatan tersebut.

PGRI Kabupaten Dairi, kata dia, berupaya memfasilitasi guru untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus memperluas ruang bagi guru untuk membagikan praktik baik pembelajaran.

Peserta juga mendapat contoh praktis dari Maruntung Sihombing yang membagikan pengalamannya mengubah praktik pembelajaran menjadi tulisan. Ia memperkenalkan metode STAR, singkatan dari Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi.

Dengan metode itu, guru dapat memulai tulisan dari situasi yang dihadapi di kelas, menjelaskan tantangannya, menguraikan tindakan yang dilakukan, lalu menutupnya dengan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa bahan tulisan sebenarnya tersedia dalam keseharian guru. Guru tidak harus menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis.

Pengurus PGRI Kabupaten Dairi Togap Siringo juga berbagi pengalaman. Penulis dua buku itu menyarankan guru membangun kebiasaan menulis dengan menyediakan waktu secara konsisten.

Ia menyebut pagi hari, sekitar pukul 04.00-05.00, sebagai salah satu waktu yang dapat dimanfaatkan karena suasana cenderung tenang dan membantu menjaga konsentrasi.

Pengalaman lain datang dari Gerardus Kuma Apeutung, guru asal Nusa Tenggara Timur yang pernah menerbitkan tulisan opini di Kompas. Ia mendorong guru berani menyampaikan gagasan melalui tulisan.

“Menulis itu jalan ninja guru untuk bersuara,” ujar Gerardus.

Bagi guru, menulis tidak hanya berkaitan dengan menghasilkan buku atau artikel. Tulisan juga dapat menjadi cara untuk mendokumentasikan pengalaman, menyebarkan pengetahuan, sekaligus menyampaikan persoalan pendidikan dari sudut pandang orang yang mengalaminya langsung.

PGRI Kabupaten Dairi berencana melanjutkan gerakan tersebut melalui lomba menulis bagi guru dan siswa dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional. Kegiatan itu diharapkan menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk menuangkan gagasan dan pengalaman dalam bentuk karya.

Dari ruang kelas, pengalaman guru kemudian dibawa ke ruang publik. Guru mengajar, mengalami, berefleksi, lalu menulis.

Penulis: MS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *