Malinau, BONARINEWS – Keberadaan kucing merah Kalimantan (Catopuma badia), salah satu karnivora endemik Pulau Kalimantan yang dikenal sulit dijumpai, kembali terkonfirmasi di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara.
Satwa berstatus terancam punah atau Endangered tersebut terekam kamera pengintai atau camera trap yang dipasang di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, Kabupaten Malinau. Rekaman ini menjadi catatan penting dalam upaya pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi tersebut.
Dokumentasi terbaru ini bermula dari pemasangan camera trap dalam kegiatan Patroli Perlindungan dan Pengamanan Kawasan TNKM di wilayah Resor Mentarang Tubu pada 2025. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Long Alango.
Operasional pemantauan satwa liar tersebut didukung pendanaan melalui Perjanjian Kerja Sama antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan PT Kayan Hydropower Nusantara.
Setelah terpasang selama berbulan-bulan di kawasan hutan primer, data visual dari kamera pengintai kemudian berhasil diunduh pada 2026 melalui kegiatan SMART Patrol yang dilakukan petugas Balai TNKM. Tim tersebut antara lain Jefry Frihardian Gumilar, Mahfu’at, Septian Adi Nugroho, Jatanai, dan Singga Pilipus.
Rekaman tersebut menambah catatan keberadaan kucing merah di TNKM. Sebelumnya, spesies yang sama pernah terdokumentasi di kawasan Resor Sungai Bahau pada 2023. Jauh sebelumnya, keberadaannya juga tercatat di kawasan TNKM sekitar 2003.
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, mengatakan rekaman kucing merah tersebut memberikan informasi penting bagi pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan TNKM.
Spesies ini sangat sulit dijumpai secara langsung sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu petugas memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan. Menurut Seno, temuan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya TNKM sebagai habitat bagi berbagai jenis satwa liar.
Karena itu, perlindungan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati perlu terus dilakukan secara konsisten, ujar Seno.
Kepala Resor Mentarang Tubu, Mahfuat, mengatakan pemasangan camera trap merupakan bagian dari upaya petugas memperoleh informasi mengenai satwa liar yang sulit diamati secara langsung di lapangan.
Bagi petugas di lapangan, hasil ini menjadi penyemangat untuk terus melakukan patroli, pemantauan, dan menjaga kawasan. Rekaman tersebut menunjukkan bahwa kegiatan lapangan dapat menghasilkan informasi penting bagi pengelolaan kawasan dan perlindungan satwa liar, kata Mahfuat.
Kucing merah Kalimantan merupakan salah satu jenis kucing liar dengan wilayah sebaran terbatas di Pulau Kalimantan. Satwa ini dikenal memiliki perilaku soliter dan cenderung menghindari keberadaan manusia sehingga pengamatan langsung terhadapnya relatif sulit dilakukan.
Karena sifatnya yang sulit dijumpai, camera trap menjadi salah satu metode penting untuk mendokumentasikan keberadaan kucing merah sekaligus mengumpulkan informasi mengenai satwa liar di habitat alaminya.
Rekaman di Resor Mentarang Tubu pada 2026, setelah dokumentasi sebelumnya di Resor Sungai Bahau pada 2023, menambah informasi mengenai persebaran kucing merah di bentang alam TNKM. Data tersebut dapat menjadi bagian dari basis informasi untuk mendukung pemantauan dan pengelolaan kawasan konservasi.
Keberadaan kucing merah juga memperkaya catatan keanekaragaman hayati TNKM yang menjadi habitat bagi beragam jenis satwa liar, termasuk spesies dengan nilai konservasi tinggi.
Bagi Balai TNKM, setiap rekaman satwa liar bukan sekadar dokumentasi, tetapi merupakan bagian dari rangkaian data yang dapat mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Dari sebuah kamera yang bekerja dalam senyap di tengah hutan, tersimpan informasi tentang kehidupan yang terus berlangsung di dalamnya. Kemunculan kucing merah di depan kamera menjadi pengingat bahwa menjaga keutuhan hutan berarti mempertahankan ruang hidup bagi satwa liar sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang.
Sumber: Jefry Frihardian Gumilar, S.Hut dan Humas Balai Taman Nasional Kayan Mentarang