Ketika Kita Masih Tinggal di Masa Lalu

Bagikan Artikel

Beberapa waktu lalu saya menonton film Senin Harga Naik di Netflix. Setelah selesai menontonnya, saya justru teringat ketika kuliah praktik konseling. Saat itu, dalam sebuah kelas, dosen memberikan sebuah kasus kepada kami. Dari kasus tersebut kami mulai memahami satu kondisi psikologis yang bagi saya cukup menarik: seseorang dapat tetap hidup di masa lalu.

Bukan sekadar mengingat masa lalu atau belum bisa move on, tetapi ketika pengalaman masa lalu masih begitu kuat sehingga pikiran, emosi, cara berelasi, bahkan keputusan-keputusan seseorang pada masa kini seolah-olah masih dibuat berdasarkan realitas yang sudah berlalu. Tubuhnya memang berada di hari ini, tetapi sebagian dirinya masih tinggal di masa lalu.

Kita semua tentu memiliki masa lalu. Ada kenangan yang menyenangkan dan ada yang menyakitkan. Masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup kita dan tidak mungkin dihapus begitu saja. Persoalannya, apakah masa lalu masih mengendalikan kehidupan kita sekarang?

Ada orang yang melihat pasangannya hari ini melalui pengalaman buruk dari hubungan sebelumnya. Ada orang yang terus takut mengambil keputusan karena pernah mengalami kegagalan. Ada pula orang yang terus menghukum dirinya karena kesalahan bertahun-tahun lalu, seolah-olah dirinya yang sekarang masih merupakan orang yang sama dengan dirinya pada waktu itu.

Pada kondisi seperti ini, masa lalu bukan lagi sekadar kenangan. Ia menjadi realitas yang masih hidup di dalam diri seseorang.

Saya melihat gambaran itu dalam Senin Harga Naik. Tokoh ibu dalam film ini seperti masih hidup dalam sebuah realitas masa lalu. Anak-anak yang dahulu ia besarkan sudah dewasa, bahkan sudah menikah dan memiliki kehidupannya sendiri. Namun, sebagian dirinya masih berelasi dengan mereka seperti ketika mereka masih menjadi anak-anak yang dekat dan membutuhkan dirinya.

Karena itu, realitas masa kini menjadi sulit diterima.

Bagi orang-orang di sekitarnya, beberapa perilakunya mungkin terlihat tidak masuk akal. Mereka mungkin bertanya, “Mengapa Ibu masih seperti itu? Bukankah semuanya sudah berubah?”

Tetapi ketika seseorang masih hidup dalam realitas masa lalu, apa yang sedang ia respons bukan hanya keadaan hari ini. Ada pengalaman, kehilangan, ketakutan, atau rasa aman dari masa lalu yang masih sangat kuat memengaruhi dirinya.

Hal ini sebenarnya dapat terjadi kepada siapa saja.

Seseorang yang sudah menikah dapat terus membawa pengalaman hubungan masa lalu ke dalam pernikahannya sekarang. Seorang dewasa yang masih single dapat terus mengambil keputusan berdasarkan penolakan atau kegagalan yang pernah dialaminya. Seorang ayah atau ibu dapat terus memperlakukan anaknya yang sudah dewasa berdasarkan gambaran tentang anak itu ketika masih kecil.

Bahkan kita sendiri mungkin pernah melakukannya tanpa menyadari bahwa keputusan yang kita ambil hari ini sebenarnya sedang dipengaruhi oleh sesuatu yang sudah lama terjadi.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit adalah orang yang mengalaminya sering kali tidak menyadari bahwa dirinya masih tinggal di masa lalu. Baginya, pikiran dan respons yang muncul terasa wajar. Justru orang-orang di sekitarnya yang kebingungan melihat mengapa seseorang terus merasa, berpikir, dan bertindak seperti itu padahal situasinya sudah berubah.

Di sinilah empati menjadi penting.

Orang yang masih tinggal di masa lalu tidak selalu membutuhkan orang yang segera menyuruhnya kembali ke masa kini. Kalimat seperti “Sudahlah, itu kan sudah lama” atau “Kamu harus move on” mungkin mudah bagi kita yang melihat dari luar, tetapi belum tentu mudah bagi orang yang masih hidup di dalam pengalaman tersebut.

Ia membutuhkan seseorang yang bersedia menolongnya memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Ia perlu diterima tanpa langsung disalahkan karena memiliki pikiran, emosi, atau keputusan yang bagi kita sulit dipahami. Menerima bukan berarti membenarkan semua perilakunya. Menerima berarti berusaha memahami sebelum menuntut perubahan.

Kadang-kadang seseorang perlu terlebih dahulu merasa aman untuk melihat masa lalunya sebelum akhirnya mampu melepaskannya.

Senin Harga Naik memperlihatkan bagaimana sang ibu mulai menerima realitas masa kini dan perlahan melepaskan realitas masa lalu yang selama ini begitu kuat di dalam dirinya.

Berdamai dengan masa lalu bukan berarti melupakan apa yang pernah terjadi. Kita tidak perlu menghapus kenangan untuk dapat hidup pada hari ini. Kita hanya perlu menempatkan masa lalu pada tempatnya.

Ia boleh menjadi bagian dari cerita kita, tetapi tidak harus terus menjadi tempat kita tinggal.

Mungkin karena itu, pertanyaan yang penting bukan hanya, “Apa yang terjadi pada orang ini?” tetapi juga, “Masa lalu seperti apa yang masih hidup di dalam dirinya?”

Dan sesekali pertanyaan itu perlu kita arahkan kepada diri sendiri:

Apakah saya sedang hidup di masa kini, atau sebagian diri saya masih tinggal di masa lalu?

Sebab kehidupan terus bergerak. Orang-orang berubah. Anak-anak bertumbuh. Relasi mengalami perubahan. Kita pun berubah.

Kita tidak mungkin kembali menjadi orang yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Namun, sering kali yang membuat kita sulit bergerak bukan karena kehidupan berhenti, melainkan karena sebagian diri kita belum selesai dengan apa yang telah berlalu.

Mungkin kedewasaan bukanlah ketika kita berhasil melupakan masa lalu.

Kedewasaan adalah ketika kita mampu berdamai dengannya.

Ketika kita dapat melihat luka tanpa harus terus hidup sebagai orang yang terluka. Ketika kita dapat mengingat kegagalan tanpa membiarkannya menentukan seluruh keputusan hari ini. Ketika kita dapat mencintai orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidup kita tanpa memaksa mereka tetap tinggal dalam versi masa lalu yang kita kenal.

Pada akhirnya, masa lalu memang tidak bisa diubah. Tetapi hubungan kita dengan masa lalu masih bisa berubah.

Dan mungkin, pada titik itulah kita benar-benar mulai hidup.

Penulis: Rigop Darmiko

Penulis adalah konselor Kristen yang tinggal di Rantauprapat. Pertanyaan dan topik seputar perkembangan dan kepribadian psikologis manusia dapat disampaikan melalui kolom komentar untuk dibahas. Pembaca juga dapat mengirimkan topik melalui email ke rigopsitorus@gmail.com. Topik yang dikirim melalui email akan dibahas tanpa menyebut identitas pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *