60 Kilometer dalam Hujan, 25 Sekolah, dan Mata yang Tak Lagi Saya Sepelekan

Bagikan Artikel

Tinggal tiga kilometer lagi.

Setelah menempuh sekitar 60 kilometer dari pelosok Serdang Bedagai, saya sudah membayangkan segera sampai di rumah. Hari sudah gelap. Hujan turun deras. Tubuh saya lelah setelah seharian melakukan liputan.

Namun, di sebuah tikungan licin, motor saya terpeleset.

Saya jatuh.

Untungnya, helm yang saya kenakan melindungi kepala saya dari benturan dengan aspal.

Saya selamat. Tetapi kejadian itu membuat saya takut: bagaimana jika kondisi mata membuat saya tidak lagi bisa berkendara dengan nyaman?

Ketakutan itu terasa serius karena saat itu saya sedang mengerjakan proyek buku Sekolah GCL: Potret Gerakan Pengembangan Karakter Cinta Lingkungan pada Anak di Kabupaten Serdang Bedagai.

Untuk menyelesaikannya, saya harus mengunjungi 25 sekolah dasar. Saya datangi satu per satu.

Saya harus berkendara ke berbagai lokasi, mewawancarai guru, kepala sekolah, dan murid, serta orangtua untuk mengumpulkan cerita, mengambil dokumentasi, lalu mengolah semuanya menjadi tulisan.

Mobilitas adalah bagian penting dari pekerjaan saya. Dan mata adalah bagian penting dari mobilitas itu.

Pulang 60 Kilometer dalam Hujan

Hari itu saya baru selesai melakukan liputan di salah satu sekolah di pelosok Serdang Bedagai. Sekitar pukul enam sore, saya berangkat pulang menuju Pancur Baru, Deli Serdang.

Jaraknya 55-65 kilometer. Dalam kondisi normal, perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam, naik sepeda motor.

Namun sore itu hujan turun sangat deras.

Air membasahi wajah dan kacamata. Saya harus menepi berkali-kali di pinggir jalan untuk mengelap wajah dan kacamata yang basah. Saya mengelapnya dengan ujung lengan baju.

Lalu mata saya mulai terasa sangat perih dan teriritasi.

Saya memiliki mata minus 5. Saat lensa kacamata terus terkena air hujan, pandangan saya menjadi semakin samar. Lampu kendaraan dan pantulan cahaya di jalan basah tampak seperti bintang-bintang kecil di depan mata.

Saya berhenti bukan sekali atau dua kali.

Belasan kali.

Menepi, mengelap wajah, membersihkan kacamata, lalu melanjutkan perjalanan.

Begitu terus.

Hari semakin gelap. Hujan belum reda. Tubuh semakin lelah.

Saat itu saya mulai sadar: mata yang terasa sepele bisa membuat perjalanan menjadi sangat merepotkan.

Saya Takut Buku Ini Gagal

Di tengah perjalanan, pikiran saya tertuju pada proyek buku.

Bagaimana jika mata saya semakin tidak nyaman?

Bagaimana saya bisa berkendara menuju sekolah berikutnya?

Bagaimana saya bisa fokus mewawancarai guru, kepala sekolah, dan murid serta orangtua?

Bagaimana saya bisa menyelesaikan buku ini jika mobilitas saya terganggu?

Saya tidak mau proyek itu gagal.

Namun, sekitar tiga kilometer sebelum sampai rumah, motor saya tergelincir di tikungan.

Saya jatuh.

Saya tidak ingin mengatakan kecelakaan itu semata-mata disebabkan mata perih. Ada banyak faktor: hujan deras, jalan licin, kondisi gelap, lensa kacamata basah, pandangan yang samar karena mata minus, dan kelelahan.

Tetapi pengalaman itu membuat saya semakin sadar bahwa mata yang tidak nyaman tidak boleh diabaikan, terutama ketika saya sedang melakukan perjalanan panjang.

“Tolong Belikan INSTO Dry Eyes”

Sebenarnya saya sudah lama mengenal INSTO Dry Eyes, tetapi sebelumnya jarang menggunakannya.

Malam itu saya menelepon istri yang masih rapat di kantor. Saya meminta tolong agar ketika pulang, ia membelikan INSTO Dry Eyes.

Sesampainya di rumah, istri membantu saya meneteskan INSTO Dry Eyes.

Namun, tetes pertama justru terasa perih sekali. Mata saya sangat tidak nyaman. Saya bahkan sempat hampir tidak mau melanjutkan pemakaian.

Tetapi saya teringat perjalanan tadi.

Saya teringat harus berhenti belasan kali.

Saya teringat pandangan yang samar di tengah hujan.

Saya teringat motor yang tergelincir saat jarak tinggal tiga kilometer dari rumah.

Dan saya teringat ada 25 sekolah yang harus saya datangi.

Saya tidak mau berhenti.

Dengan bantuan istri, malam itu mata saya diteteskan INSTO Dry Eyes dua kali. Setelah itu saya terus menggunakannya sampai habis.

Sejak kejadian tersebut, saya menjadi lebih memperhatikan kondisi mata.

Perih di Tengah Wawancara

Perjalanan menyelesaikan buku juga membuat saya beberapa kali mengalami mata perih saat sedang mewawancarai narasumber.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan. Saat saya sedang berbicara dengan guru, kepala sekolah, atau murid tentang Gerakan GCL, tetapi tiba-tiba mata terasa perih dan sangat tidak nyaman.

Saya beberapa kali harus meminta maaf dan izin ke kamar mandi untuk membasuh muka sebelum kembali melanjutkan wawancara.

Saya mengalami perjalanan panjang dari rumah menuju lokasi liputan, melewati jalan dengan debu dan asap kendaraan. Sesampainya di sekolah, saya harus langsung melakukan aktivitas liputan.

Pengalaman itu membuat saya semakin paham bahwa SEpet, PErih, dan LElah bukan gejala yang ingin saya abaikan.

Bagi saya, inilah makna Gejala Mata Kering yang perlu diperhatikan. Ketika mata mulai memberikan tanda peringatan, saya berusaha lebih peduli dan menggunakan solusi yang biasa saya gunakan sesuai aturan pakai.

Dan sampai sekarang, INSTO Dry Eyes masih saya gunakan ketika mata mulai terasa tidak nyaman.

25 Sekolah Itu Akhirnya Selesai

Ada satu hal yang membuat saya bersyukur.

Saya berhasil mengunjungi seluruh 25 sekolah. Satu per satu.

Walaupun jaraknya jauh. Walaupun harus bolak-balik. Walaupun ada hujan, debu, asap kendaraan, mata yang sesekali perih, dan berbagai tantangan selama liputan.

Yang paling penting, proyek buku itu selesai tepat waktu.

Saat mengingat kembali perjalanan 60 kilometer malam itu, saya sadar bahwa rasa takut saya tidak menjadi kenyataan.

Saya berhasil menyelesaikan buku.

Saya berhasil mendatangi 25 sekolah.

Dan saya belajar untuk tidak lagi menganggap kondisi mata sebagai hal kecil.

Mata membantu saya menemukan cerita, membaca ekspresi narasumber, melihat anak-anak yang sedang belajar mencintai lingkungan, berkendara menuju lokasi liputan, dan akhirnya menuliskan semua pengalaman itu menjadi sebuah buku.

Karena itu, ketika mata mulai terasa SEpet, PErih, atau LElah, saya tidak ingin lagi mengatakan, “Ah, sepele.”

Saya masih ingin berkendara menuju banyak tempat.

Masih ingin bertemu banyak orang.

Masih ingin menulis banyak cerita.

Dan mungkin masih ada buku-buku lain yang menunggu untuk diselesaikan.

SePeLe boleh terdengar sederhana. Tetapi mata yang menemani seluruh perjalanan dan pekerjaan saya, tidak pernah boleh disepelein.

#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein

Penulis: Deddi Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *