Medan, BONARINEWS – Peringatan Hari Anak Nasional di UPT SD Negeri 066658 Marelan berlangsung berbeda. Selain melaksanakan upacara bendera, sekolah juga melantik Detektif Sampah Tahun Ajaran 2026/2027 sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan sejak usia dini.
Pelantikan Detektif Sampah dilaksanakan di sela-sela upacara Hari Anak Nasional sebagai bentuk komitmen sekolah dalam menanamkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan kepada para peserta didik.
Salah seorang guru UPT SD Negeri 066658 Marelan, Eklimanis Damanik, mengatakan program tersebut bertujuan mengurangi volume sampah di lingkungan sekolah sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan secara proaktif yang diharapkan terus terbawa hingga di tengah masyarakat.
“Melalui Detektif Sampah, kami ingin membangun karakter anak agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Harapan saya para Detektif Sampah mampu menjadi pelopor sekaligus ‘menangkap basah’ para penjahat sampah, yakni mereka yang masih membuang sampah sembarangan. Tentunya pendekatan yang dilakukan adalah mengingatkan dan mengedukasi teman-temannya agar bersama-sama menjaga kebersihan sekolah,” ujar Eklimanis, Kamis (23/7/2026).
Komitmen UPT SD Negeri 066658 Marelan terhadap pengelolaan lingkungan juga telah membuahkan prestasi. Pada Pameran Daur Ulang Sampah yang diselenggarakan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP pada April 2026 lalu, sekolah ini berhasil meraih Juara III. Prestasi tersebut diraih setelah bersaing dengan puluhan sekolah se-Kecamatan Marelan, dengan Juara I diraih UPT SD Negeri 064006 Marelan dan Juara II diraih SD Swasta Anugerah Harapan Bangsa. Capaian ini semakin menguatkan komitmen sekolah untuk terus menghadirkan inovasi dalam pendidikan berbasis lingkungan.
Program Detektif Sampah pun mendapat apresiasi dari Project Manager Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP, Anwar Suhut. Menurutnya, gerakan yang diprakarsai sekolah ini memiliki pendekatan yang menarik karena melibatkan anak sebagai agen perubahan bagi teman-teman sebayanya.
“Yang menarik dari program ini adalah siswa sendiri yang menjadi Detektif Sampah. Ketika anak mengajak, mengingatkan, dan mengedukasi temannya sendiri, pendekatannya akan jauh lebih efektif dibandingkan jika hanya dilakukan oleh orang dewasa. Ada proses pembelajaran teman sebaya yang mampu menginspirasi anak-anak lain untuk ikut peduli terhadap kebersihan lingkungan,” katanya.
Anwar menjelaskan persoalan sampah masih menjadi tantangan di kawasan Medan Utara, termasuk Kecamatan Medan Marelan dan Medan Belawan. Karena itu, gerakan sederhana yang lahir dari sekolah dinilai mampu menjadi solusi edukatif dalam membangun kebiasaan baik sejak dini.
Selain menjadi agen edukasi, lanjut Anwar, para Detektif Sampah juga belajar mengenai tanggung jawab. Mereka diberikan amanah untuk mengingatkan teman-temannya, memantau kebersihan lingkungan sekolah, hingga mencatat perilaku yang masih belum disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya sebagai bagian dari proses pembinaan.
“Melalui peran tersebut, anak-anak belajar bertanggung jawab sekaligus menjadi pemimpin kecil di lingkungan sekolah. Ini bukan sekadar program kebersihan, tetapi juga pendidikan karakter,” ujarnya.
Ia berharap gerakan Detektif Sampah dapat terus berlanjut melalui berbagai inovasi sekolah, seperti pergiliran petugas Detektif Sampah, kegiatan berbagi pengalaman dengan sekolah lain, hingga kolaborasi dalam berbagai aksi peduli lingkungan.
Sebagai mitra sekolah, Gugah Nurani Indonesia (GNI) terus mendorong lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan. Selama ini GNI telah mendampingi guru melalui pelatihan integrasi pendidikan lingkungan ke dalam berbagai mata pelajaran, serta memperkuat koordinasi dengan kepala sekolah untuk mengembangkan program-program kreatif yang berkelanjutan.
“Tahun ini kami kembali bekerja sama dengan donor dari Korea Selatan untuk mendampingi sekitar 120 sekolah di Kecamatan Medan Belawan dan Medan Marelan dalam pengelolaan sampah berbasis sekolah. Harapannya setiap sekolah memiliki bank sampah sendiri sehingga gerakan Detektif Sampah dapat terintegrasi dengan kegiatan memilah, menabung, dan mengelola sampah secara berkelanjutan,” jelas Anwar.
Melalui kolaborasi antara sekolah, Gugah Nurani Indonesia, pemerintah, serta masyarakat, gerakan Detektif Sampah diharapkan menjadi langkah nyata membangun budaya bersih, mengurangi timbulan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian lingkungan.
Penulis: Dedy Hutajulu