BANDAR LAMPUNG, BONARINEWS – Upaya penyelundupan ratusan burung tanpa dokumen resmi berhasil digagalkan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat kepolisian di ruas Tol Trans Sumatera, Lampung.
Sebanyak 203 ekor burung dari berbagai jenis diamankan saat petugas memeriksa sebuah bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang melayani rute Medan menuju Lampung Selatan.
Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Lampung, Itno Itoyo, mengatakan pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat terkait dugaan pengiriman satwa liar tanpa dokumen yang sah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas BKSDA Bengkulu berkoordinasi dengan Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Lampung untuk melakukan pemeriksaan terhadap bus yang dicurigai.
Sekitar pukul 10.26 WIB, petugas menghentikan bus ALS bernomor polisi BK 7392 LD di Kilometer 127B Tol Bakauheni–Terbanggi Besar.
Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan enam keranjang plastik dan tujuh kardus bekas minuman yang berisi ratusan burung.
“Dari hasil pemeriksaan ditemukan 203 ekor burung tanpa dokumen resmi,” ujar Itno.
Ratusan burung tersebut terdiri dari 27 ekor cica daun kecil, 22 ekor serindit Sumatra, empat ekor kacembang gadung, 120 ekor kacamata gunung atau pleci, serta 30 ekor tepus tunggir merah.
Petugas kemudian mengamankan pemilik burung beserta barang bukti ke Pos PJR Induk Tegineneng untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, seluruh satwa yang berhasil diamankan diserahkan kepada petugas KSDA Wilayah III Lampung untuk menjalani proses rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Menurut Itno, perdagangan satwa liar tanpa dokumen masih menjadi ancaman serius terhadap kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Ia mengapresiasi peran masyarakat yang memberikan informasi sehingga upaya penindakan dapat dilakukan dengan cepat.
“Peredaran satwa liar tanpa dokumen yang sah masih menjadi ancaman serius terhadap kelestarian keanekaragaman hayati. Kami mengapresiasi dukungan masyarakat yang telah memberikan informasi,” katanya.
Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, menegaskan pihaknya akan terus memperkuat pengawasan di jalur-jalur distribusi yang rawan digunakan sebagai jalur penyelundupan satwa liar.
Menurutnya, koordinasi lintas instansi menjadi kunci utama dalam menekan angka perdagangan ilegal satwa yang masih marak terjadi.
Direktur Eksekutif FLIGHT, Marison Guciano, juga mengapresiasi sinergi antara BKSDA, Karantina, Polda Lampung, dan TNI AL dalam menggagalkan penyelundupan tersebut.
Ia menilai kemampuan aparat dalam mendeteksi perdagangan satwa liar ilegal semakin meningkat sehingga berdampak positif terhadap perlindungan populasi burung di alam.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa tingginya permintaan pasar terhadap satwa liar masih menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi. Karena itu, pengawasan ketat dan partisipasi masyarakat dinilai sangat penting untuk mencegah praktik perdagangan satwa ilegal yang mengancam kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Penulis: Lindung Silaban