Gerakan Nabung Sampah di Belawan Menguat, Posyandu Jadi Titik Kumpul dan Bantu Ekonomi Warga

Bagikan Artikel

Program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Medan Belawan terus menguat. GNI Medan CDP menggagas Posyandu sebagai titik kumpul sampah terpilah yang bisa ditabung dan menghasilkan sirkulasi ekonomi warga.

MEDAN, BONARINEWS.com – Gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kecamatan Medan Belawan mulai menunjukkan dampak positif. Melalui program yang digagas GNI Medan CDP, masyarakat kini tidak hanya membuang sampah, tetapi juga bisa menabung sampah untuk menambah pemasukan ekonomi keluarga.

Project Manajer GNI Medan CDP, Anwar Suhut, mengatakan setiap bulan jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan masyarakat cukup signifikan dan tidak lagi seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Setiap bulan berapa sampah yang dikumpulkan masyarakat, dan itu tidak lagi berakhir di TPA. Sampah yang dikumpulkan masyarakat itu bisa ditabung dan menghasilkan sirkulasi ekonomi masyarakat,” ujar Anwar.

Menurutnya, GNI saat ini memiliki 18 fasilitator pendamping di Posyandu yang aktif turun ke masyarakat untuk mengedukasi warga agar memilah dan menabung sampah di bank sampah.

Untuk menjawab keluhan masyarakat terkait jauhnya akses ke bank sampah, GNI menjadikan Posyandu sebagai titik kumpul sampah terpilah.

“Selama ini masyarakat mengeluh sulitnya mengakses bank sampah karena jaraknya jauh. Dengan menjadikan Posyandu sebagai titik kumpul, ini menjawab persoalan masyarakat,” jelasnya.

Anwar menambahkan, persoalan sampah di Kota Medan sudah sangat mendesak. Setiap hari, masyarakat Kota Medan menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah. Jumlah ini menjadi persoalan besar yang membutuhkan penanganan sistemik serta melibatkan partisipasi aktif seluruh warga dan semua pihak.

“Kalau tidak ditangani bersama, persoalan sampah akan terus menumpuk dan berdampak pada kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi masyarakat,” katanya.

Selain itu, Anwar menegaskan kecamatan sebenarnya memiliki kewenangan dalam pengelolaan sampah dan menjaga kebersihan sesuai Peraturan Wali Kota Medan.

Sementara itu, perwakilan Kecamatan Medan Belawan, Dani Whardana, mengatakan lahirnya banyak bank sampah di Kota Medan merupakan respons atas semangat Wali Kota Medan dalam mengatasi persoalan sampah.

Menurut Dani, persoalan sampah di wilayah pesisir seperti Belawan berkaitan dengan dua hal utama.

“Pertama kultur masyarakat pesisir yang masih kurang peduli lingkungan dan gampang buang sampah sembarangan,” katanya.

Ia mencontohkan fenomena masyarakat Belawan yang membuang sampah ke laut, sementara sebagian warga Marelan memilih membakar sampah.

Masalah kedua adalah minimnya wadah pemilahan sampah dan mobilisasi sampah yang masih bisa dimanfaatkan.

“Harus dipilah mana sampah yang masih bisa didaur ulang, mana yang memang harus berakhir di TPA. Tujuannya jelas, apa benefit yang diterima masyarakat,” ujarnya.

Dani mendukung gerakan yang dibangun GNI, terutama upaya mengoptimalkan pemberdayaan sekolah serta menjadikan Posyandu sebagai drop point sampah terpilah.

Di sisi lain, Sekretaris Pengurus PKH Kecamatan menilai program ini sangat potensial jika diperluas.

Menurutnya, tidak semua masyarakat rutin datang ke Posyandu, sehingga diperlukan petugas yang dapat menjemput sampah terpilah langsung ke rumah warga.

“Perlu ada petugas yang datang ke rumah-rumah warga untuk menjemput sampah terpisah,” ujarnya.

Ia juga mendukung pelibatan peserta Program Keluarga Harapan (PKH) dalam gerakan memilah dan menabung sampah dari rumah.

Sebagai Sekretaris Pengurus PKH Kecamatan, ia menyebut ada sekitar 10 ribu peserta PKH yang berpotensi besar mendukung program penanganan sampah di Belawan.

Dengan kolaborasi antara komunitas, pemerintah kecamatan, Posyandu, sekolah, hingga peserta PKH, gerakan nabung sampah di Belawan diyakini bisa menjadi solusi konkret mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *