LAMPUNG, BONARINEWS.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Institut Teknologi Sumatera (Itera). Dosen Program Studi Teknik Industri Itera, Rinda Gusvita, S.T.P., M.Sc., berhasil meraih Juara II Lomba Menulis Artikel Opini kategori umum dalam ajang Lampung Begawi 2024 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Alex Kurniawan, pada Minggu, 14 Juli 2024.
Rinda meraih penghargaan lewat artikel opini berjudul Singkong, Pangan Inferior yang Mampu Selamatkan Negara. Tulisan itu mengangkat persoalan klasik tentang stigma singkong sebagai pangan kelas bawah, sekaligus menawarkan solusi strategis menghadapi inflasi dan ancaman krisis pangan nasional.
Dalam artikelnya, Rinda menegaskan bahwa singkong merupakan komoditas potensial yang belum mendapat perhatian maksimal.
“Padahal komoditas singkong layak diperhitungkan untuk dikembangkan sebagai unggulan daerah dengan segala kebermanfaatannya,” ujar Rinda.
Ia memaparkan, Indonesia saat ini tercatat sebagai negara penghasil singkong terbesar keempat di dunia setelah Nigeria, Thailand, dan Brasil. Sementara Provinsi Lampung diproyeksikan mampu memproduksi 7,5 juta ton singkong pada 2024, meningkat dibanding 7,1 juta ton pada 2023 dan 6,7 juta ton pada 2022.
Namun ironisnya, di tengah tren peningkatan produksi, harga singkong masih fluktuatif dan cenderung rendah.
Menurut Rinda, singkong berpotensi menjadi alternatif pengganti beras di tengah lonjakan harga bahan pangan yang memicu inflasi. Bahkan, dalam tulisannya disebutkan bahwa singkong bisa menjadi tanaman penyelamat Indonesia jika dikelola secara serius dan terintegrasi.
Sebagai Kepala Pusat SDGs Itera, Rinda juga menilai perlu adanya elaborasi strategis dari seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya terkait akses pangan sehat dan pengendalian inflasi pangan.
Ajang Lampung Begawi 2024 sendiri digelar untuk meningkatkan apresiasi terhadap produk lokal sekaligus mengampanyekan pembayaran digital dan gerakan Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah.
Keberhasilan Rinda menjadi bukti bahwa dosen Itera tak hanya unggul dalam akademik dan riset, tetapi juga mampu melahirkan gagasan visioner yang relevan dengan persoalan bangsa.
Penulis: Dedy Hu