Oleh: Mardi Panjaitan
Ketika mendengar istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), banyak orang langsung membayangkan kondisi yang tampak secara fisik atau hambatan akademik. Padahal, ada satu kelompok anak yang sering luput dari perhatian, bahkan kerap disalahpahami, yakni anak tuna laras.
Disebut “tak terlihat” bukan karena mereka tidak ada, tetapi karena hambatan yang dialami tidak kasat mata. Tidak seperti gangguan fisik atau intelektual yang mudah dikenali, anak tuna laras menghadapi tantangan pada aspek emosi, perilaku, dan penyesuaian sosial.
Mereka sering bergumul dengan ledakan emosi, kecemasan, kemarahan, atau kesulitan mengendalikan perilaku yang sesungguhnya tidak mudah mereka pahami sendiri.
Sering Dicap Anak Nakal
Di lingkungan sekolah, anak tuna laras kerap diberi label sebagai anak nakal, pembuat masalah, keras kepala, atau tidak bisa diatur.
Di rumah, mereka bisa dianggap pembangkang atau sengaja mencari perhatian.
Padahal, di balik perilaku tersebut, sering tersimpan persoalan yang lebih dalam. Bisa berupa kebingungan, luka batin, trauma, kesulitan beradaptasi, atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Mereka bukan sekadar “bertingkah”, tetapi sedang berjuang mengekspresikan sesuatu yang belum mampu diungkapkan dengan cara yang sehat.
Perilaku yang Sulit Diprediksi
Salah satu hal yang membuat anak tuna laras sering sulit dipahami adalah perubahan perilaku yang cepat.
Hari ini tampak tenang dan ceria, besok bisa marah besar atau menarik diri. Kadang terlihat baik-baik saja, lalu mendadak meledak karena hal kecil.
Kondisi ini sering membuat orang dewasa di sekitarnya kewalahan.
Namun justru pada saat-saat seperti itulah mereka paling membutuhkan dukungan.
Mereka Butuh Dipahami, Bukan Dilabeli
Anak tuna laras tidak membutuhkan cap negatif.
Mereka membutuhkan orang dewasa yang mau memahami.
Mereka tidak butuh dimarahi terus-menerus, tetapi diarahkan dengan konsisten.
Mereka tidak butuh dijauhi, tetapi dirangkul dengan batasan yang sehat.
Pendampingan terhadap anak tuna laras memang membutuhkan kesabaran ekstra, ketegasan yang hangat, dan konsistensi dalam pola asuh maupun pendidikan.
Lingkungan yang Tepat Bisa Mengubah Banyak Hal
Ketika anak tuna laras berada dalam lingkungan yang aman dan suportif—keluarga yang hangat, guru yang peduli, serta dukungan profesional seperti psikolog atau konselor—mereka dapat berkembang sangat baik.
Perlahan, mereka bisa belajar:
- mengenali emosi diri
- mengelola kemarahan
- membangun relasi sosial
- mengekspresikan kebutuhan dengan sehat
- menemukan kepercayaan diri
Punya Potensi dan Masa Depan
Pada akhirnya, anak tuna laras sama seperti anak-anak lainnya.
Mereka punya potensi. Punya mimpi. Punya masa depan.
Hanya saja, cara mereka berjuang berbeda.
Tugas masyarakat bukan memaksa mereka menjadi “seperti anak lain”, tetapi membantu mereka menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Karena setiap anak berhak dipahami, diterima, dan diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Penulis adalah Kepala SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara