Oleh: Devilaria Damanik
Rabu pagi itu, aku berlayar dari dermaga desa Jara-Jara menuju pelabuhan Tobelo. Lima belas menit di atas kapal terasa seperti ujian kesabaran. Ombak datang dari depan, ganas dan tak bisa ditawar. Doro tampak seperti tirai yang memisahkan langit dan laut, dan aku—tanpa banyak pilihan—terpaksa menerjangnya.
Sekujur tubuhku basah, ponsel dan tas yang tergantung di badan ikut tersiram air laut. Penumpang lain di perut kapal aman, mereka duduk tenang, membiarkan ombak lewat tanpa menantang. Aku berbeda, mungkin terlalu ingin merasakan semuanya sekaligus.
Sore itu, setelah berganti pakaian dan menenangkan diri sejenak, aku tiba di Tobelo. Keesokan harinya, Kamis sore, aku melanjutkan perjalanan ke Ternate bersama temanku. Kami menempuh jalur darat dan laut: mobil membawa kami ke pelabuhan Sofifi, kemudian naik speedboat, dan perjalanan dilanjutkan dengan mobil lagi.
Kelelahan perlahan menumpuk, membuat penginapan terasa seperti satu-satunya tempat untuk sekadar memejamkan mata. Tubuh letih, pikiran berantakan, namun Jumat pagi menunggu dengan jadwal penerbangan. Aku mencoba menenangkan diri dan menata rencana perjalanan, tanpa sadar bahwa hari itu akan membawa kejutan yang sama sekali tak terduga.
Perubahan jadwal datang melalui pesan teks teman. Awalnya sepele, tapi kesalahpahaman terjadi. Pesan itu mengenai lokasi transit, bukan jam keberangkatan, namun aku membacanya seolah jam keberangkatan berubah menjadi pukul sembilan.
Sementara penerbanganku pukul enam pagi. Aku tidak menyadari kesalahan itu sampai tiba di check-in. Petugas bandara hanya bisa menyampaikan kenyataan pahit: aku ketinggalan pesawat. Temanku berangkat sendiri, dan aku tetap di sana, bingung, kecewa, dan sedikit marah pada diri sendiri.

Aku mencoba mencari solusi, menelepon beberapa orang, meluncurkan pesan teks, tetapi jawaban akhirnya sederhana: tiket harus dibeli ulang. Ada rasa campur aduk—sedikit menangis, kemudian tertawa. Gampang memang, tapi tetap terasa berat. Jadwal hari itu sudah habis, dan aku harus menunggu hingga besok.
Menjelang sore, dua petugas Dinas Perhubungan menghampiriku. Mereka memberi tahu bahwa bandara tidak buka 24 jam dan memberiku pilihan untuk tetap berada di dalam jika berkoordinasi dengan petugas malam. Aku duduk di sofa, sibuk dengan ponsel, membiarkan diri menikmati kesendirian. Bandara yang biasanya ramai kini sunyi, dan anehnya, sepi itu terasa nyaman. Seperti hatiku yang sedang mencari ruang untuk bernapas.
Malam itu berubah menjadi pengalaman yang tak terduga. Aku berbincang dengan petugas tentang maskapai, orang-orang yang duduk tanpa melakukan apa pun tapi tetap menghasilkan uang, tentang segala hal yang melintas di kepala. Aku meminjam motor salah satu petugas, keluar-masuk bandara tanpa karcis, merasa diterima dan seolah menjadi bagian dari suasana yang berbeda dari biasanya. Lampu malam menyala, bayangan membentang di lantai terminal yang sunyi. Aku berlarian tanpa tujuan tertentu, hanya menikmati detik-detik yang terasa begitu hidup.
Buka puasa malam itu bersama para petugas Dinas Perhubungan terasa hangat. Aku membeli takjil sederhana, menikmati setiap gigitan sambil menyadari bahwa malam ini, bandara ini menjadi rumahku sementara. Dengan tikar seadanya sebagai alas tidur, aku berbaring sambil menatap langit-langit terminal, bersyukur atas hari yang penuh pengalaman. Aku kehilangan tiket pesawat, tapi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: cerita dan kenangan yang akan selalu tertanam.
Saat matahari keesokan harinya menyingkap Ternate, aku tahu bahwa perjalanan ini belum berakhir. Aku belajar bahwa bukan hanya tujuan yang penting, tetapi setiap langkah, setiap salah paham, dan bahkan setiap kesalahan memiliki arti. Aku belajar menikmati momen, meski itu muncul dari kehilangan atau keterbatasan.
Ternate, dengan semua hiruk-pikuk dan ketenangannya, memberiku pelajaran tentang kesabaran, tentang manusia, dan tentang cara menemukan rumah di tempat yang paling tak terduga. Aku bukan pergi tanpa kembali—entah kapan, aku akan kembali. Namun malam itu, di bandara yang sepi, aku menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar tiket pesawat yang hilang. (*)
