Jakarta, Bonarinews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Perum Bulog untuk menghadirkan teknologi iradiasi sebagai solusi pengendalian hama pascapanen beras. Langkah ini dilakukan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memastikan stok beras tetap bermutu tinggi selama penyimpanan jangka panjang.
Pertemuan resmi digelar di Gedung BJ Habibie Building pada Selasa (24/2), membahas kebutuhan Bulog akan solusi modern yang mampu menjaga kualitas beras hingga 10 bulan penyimpanan. Tantangan utama yang dihadapi adalah infestasi kutu beras (weevil) yang kerap tidak terdeteksi sejak proses penggilingan karena telur kutu menyerupai butiran beras dan baru terlihat saat sudah berkembang biak.
BRIN Turun Langsung ke Gudang Bulog
Usai pertemuan, tim peneliti ORTN melakukan inspeksi lapangan ke gudang Bulog di Jakarta Timur. Mereka meninjau sistem ventilasi, tata letak penyimpanan, alur distribusi, hingga potensi titik masuknya hama.
Hasil pengamatan awal memperlihatkan perlunya penguatan sistem pengendalian akses gudang, perbaikan ventilasi, dan peningkatan tata kelola kemasan agar tidak terjadi reinfestasi setelah penanganan.
Temuan ini menjadi dasar rancangan teknis penerapan iradiasi yang akan diintegrasikan ke sistem operasional Bulog.
Teknologi Iradiasi: Solusi Presisi Tanpa Residu Kimia
Dalam penjajakan ini, BRIN menawarkan teknologi electron beam irradiation, yaitu iradiasi berkas elektron berenergi tinggi yang mampu merusak struktur biologis telur, larva, hingga serangga dewasa tanpa meninggalkan residu kimia.
Peneliti ORTN Bimo Saputro menjelaskan bahwa teknologi tersebut aman untuk pangan.
“Teknologi ini mampu memutus siklus hama tanpa merusak mutu fisik maupun kandungan gizi beras. Lebih ramah lingkungan dibandingkan metode kimia,” ujarnya.
Kepala ORTN Syaiful Bahkri menambahkan bahwa dosis iradiasi yang dibutuhkan tergolong rendah, hanya 1–3 kGy. Keberhasilan implementasi bergantung pada sistem pergudangan dan kemasan yang tertutup rapat.
Kapasitas Awal 4–5 Ton per Hari
Teknologi iradiasi dapat diterapkan sebelum atau sesudah proses pengemasan. Pada tahap awal, BRIN menargetkan kapasitas layanan 4–5 ton beras per hari sebagai proyek percontohan.
Ke depan, BRIN bersama Bulog akan melakukan kajian lanjutan mencakup dosis optimal, uji keamanan pangan, serta perbandingan efektivitas dengan metode pengendalian hama lainnya.
Kolaborasi ini menjadi bentuk komitmen BRIN untuk menghadirkan inovasi berbasis riset demi menjaga mutu pangan nasional dan mendukung efisiensi distribusi beras di seluruh Indonesia. (Redaksi)
