Yogyakarta, BonariNews.com – Sebuah riset terbaru dari BRIN mengungkap fenomena mengejutkan di perairan strategis Selat Bangka. Melalui pengembangan model simulasi hidrodinamika tiga dimensi, para peneliti menemukan adanya mekanisme “pompa raksasa” alami—dikenal sebagai tidal pumping—yang memengaruhi arus vertikal, pencampuran massa air, distribusi nutrien, hingga pergerakan sedimen.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal internasional bergengsi ini dipimpin oleh Widodo S. Pranowo dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Tim menggunakan pendekatan pemodelan numerik elemen hingga/volume segitiga tak beraturan untuk menelusuri dinamika pasang surut yang rumit di Selat Bangka.
“Model ini kami bangun dari data pasang surut milik Badan Informasi Geospasial dan data batimetri dari Pushidrosal TNI AL,” ungkap Widodo. Pendekatan tiga dimensi disebut menjadi kunci untuk membaca interaksi arus vertikal dan topografi bawah laut.
Dinamika Laut Menghasilkan “Pompa Vertikal” Alami
Hasil simulasi memperlihatkan perbedaan rentang pasang antara utara dan selatan Selat Bangka—bahkan mencapai hampir dua meter—yang kemudian menciptakan arus vertikal dramatis.
- Saat pasang (high tide) → terjadi upwelling dengan kecepatan 0,0005–0,0016 m/s
- Saat surut (low tide) → terbentuk /downwelling 0,0002–0,0035 m/s
Variasi kedalaman 2–6 meter semakin memperkuat pola arus naik-turun tersebut. Fenomena ini bekerja layaknya sistem pompa vertikal alami yang terus aktif mengikuti siklus pasang surut.
Validasi model menunjukkan akurasi sangat tinggi:
- Stasiun Muntok: RMSE 0,17 dengan korelasi 0,98
- Stasiun Sadai: RMSE 0,04 dengan korelasi 0,99
Angka ini menegaskan keandalan model sebagai dasar analisis ilmiah dan perencanaan berbasis sains.
Dipengaruhi Supermoon & Posisi Strategis Selat Bangka
Analisis harmonik pasang surut mengungkap konstituen K₁ (diurnal) sebagai komponen paling dominan. Amplitudonya meningkat signifikan pada fenomena supermoon Juli 2022, membuktikan sensitivitas Selat Bangka terhadap variabel astronomis.
Posisi Selat Bangka yang menjadi titik pertemuan arus dari Selat Malaka, Laut Cina Selatan, dan Laut Jawa membuatnya memiliki karakter hidrodinamika sangat kompleks. Pada era kejayaan maritim Nusantara seperti Sriwijaya, kawasan ini menjadi rute transit penting perdagangan antarpusat perairan.
Dampak Besar bagi Lingkungan & Tata Kelola Maritim
Widodo menjelaskan bahwa tidal pumping dapat meningkatkan pencampuran nutrien sehingga mendongkrak produktivitas primer. Namun, fenomena yang sama juga mampu memindahkan sedimen maupun polutan secara masif—yang berarti wilayah ini memerlukan tata kelola berbasis data ilmiah presisi.
Riset ini menjadi landasan penting untuk:
- penguatan pengawasan pesisir
- mitigasi pencemaran laut
- perencanaan infrastruktur pelabuhan
- perlindungan ekosistem pesisir
- pemanfaatan energi arus laut
Melalui pemodelan oseanografi canggih ini, BRIN menegaskan perannya sebagai penopang kebijakan maritim nasional yang adaptif dan berkelanjutan—menjadikan Selat Bangka bukan sekadar jalur pelayaran, tetapi laboratorium alam penting bagi ilmu kelautan Indonesia. (Redaksi)
