Dengan mengelus hewan, kita bisa meredakan stres, mengusir bosan, dan menciptakan kehangatan dalam hubungan. Tetapi tentu saja tidak semua hewan bisa kita peluk dan elus. Rasanya agak sulit memangku kerbau sambil mengelus kepalanya, kecuali mungkin orang Thailand dengan gajah-gajahnya.
Saya memang senang bersahabat dengan hewan.
Bagi saya, hewan bukan sekadar peliharaan. Mereka bisa mendatangkan kesenangan, menemani kesepian, sekaligus meninggalkan kesedihan yang kadang jauh lebih dalam daripada yang saya bayangkan.
Di Jara-Jara, Halmahera Timur, saya pernah memiliki seekor anjing bernama Jara. Saat saya pergi ke kota, Jara saya titipkan kepada seorang teman dan keluarganya. Bahkan ketika saya terbang ke kediaman orang tua untuk liburan akhir tahun, Jara tetap tinggal di pulau itu.
Ketika saya kembali, anjing remaja itu berlari menyambut saya. Ekornya terus bergoyang. Seolah-olah selama saya pergi, ia hanya menunggu satu hal: kepulangan saya.
Rindu terbayar.
Sebulan berlalu. Pada suatu malam ada acara barongge, hiburan warga yang biasanya membuat orang bergoyang hingga larut. Saya ikut meramaikannya. Gerakan kaki dan tangan saya mungkin lebih sering merusak ritme daripada mengikuti irama. Tetapi malam itu saya memang ingin bergerak. Seolah musik sedang memanggil saya untuk mengeluarkan semua penat yang tersimpan.
Siang sebelumnya, Jara sakit karena keracunan makanan. Saya menitipkannya kepada keluarga teman yang menurut saya memahami cara merawat anjing. Apa pun yang mereka minta untuk membantu kesembuhannya, saya berikan.
Tenang saja, nanti sembuh. Kerja saja, kata bapak teman saya.
Saya sebenarnya tidak tenang.
Saya bolak-balik memastikan Jara masih bernapas. Namun malam itu saya mencoba percaya kepada mereka. Saya membiarkan Jara beristirahat dan pergi mengikuti acara.
Setelah selesai, saya mencarinya.
Jara tidak ada.
Keponakan teman saya menyarankan agar saya pulang karena malam itu gerimis. Saya menolak. Saya terus mencarinya sampai akhirnya menemukannya di dekat dapur rumah tetangga teman saya.
Jara sudah mati.
Di sana banyak pemuda. Mereka seperti hendak melakukan sesuatu terhadap bangkai anjing saya. Mereka menyarankan agar saya membiarkannya dan mengatakan akan mengurusnya ketika matahari terbit.
Saya menolak.
Malam itu langit gelap. Hujan turun dalam rintik-rintik kecil. Entah mengapa saya merasa hujan itu seperti ikut berkabung.
Keponakan tertua teman saya menggali lubang dengan sekop di dekat kamar saya. Setelah lubang cukup dalam, saya menyuruhnya pulang.
Saya menangis seorang diri.
Saya meratapinya sambil menutup tubuhnya dengan tanah.
Paginya, mata saya bengkak.
Jara bukan sekadar anjing yang tinggal di rumah saya. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Saya membagi makanan dan minuman dengannya. Susu beruang yang biasanya saya minum kami bagi. Biskuit juga begitu.
Kalau saya lupa menutup pintu kamar, Jara akan tidur di tempat tidur saya.
Ia tahu saya berada di kelas berapa. Aroma tubuh saya mungkin menuntunnya. Suara saya juga menjadi petunjuk. Ia bahkan berusaha membuka pintu ketika tahu saya berada di dalam.
Jara terkenal di sekolah.
Kehilangan Jara mengajarkan saya bahwa kedekatan dengan hewan bisa sangat sederhana, tetapi kehilangan mereka tidak pernah sederhana.
Setelah Jara, ada Dara.
Dara adalah seekor burung yang diberikan anak-anak kepada saya karena saya memintanya. Kata orang, burung itu bisa dilatih berbicara. Saya pun mencobanya.
Jika terbangun tengah malam, saya melatih Dara berbicara sambil memberinya pisang.
Dara sebenarnya burung yang pendiam. Banyak orang mencoba berkomunikasi dengannya, tetapi ia lebih sering diam. Anehnya, ketika hanya kami berdua, ia mau mengeluarkan suara. Memang hanya beberapa bunyi, tetapi bagi saya itu sudah cukup menjadi percakapan.
Ketika saya pergi ke kota, Dara kembali saya titipkan kepada seorang teman.
Dara tidak mau makan.
Ia kemudian mati.
Teman saya berjanji akan mencarikan pengganti. Janji itu tidak pernah ditepati sampai saya meninggalkan tempat tersebut.
Kali ini tangisan saya tidak pecah seperti ketika Jara pergi. Mungkin karena setiap kehilangan memiliki bentuk dukanya sendiri.
Kemudian hidup membawa saya ke Sumba Timur.
Di sana saya memiliki seekor anjing bernama Bumbu.
Bumbu cukup menghibur saya. Jika saya pergi ke kamar mandi pada malam hari, kamar mandi yang letaknya di luar, ia akan mengikuti dan menunggu di luar. Ia rajin mengekor.
Ketika saya kembali dari kota, Bumbu menghilang.
Saya memanggil namanya berulang-ulang. Saya bertanya kepada orang-orang tentang keberadaannya. Karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya bahkan sempat mengatakan bahwa kematian Bumbu adalah sebuah konspirasi.
Begitulah kesedihan.
Kadang-kadang membuat kita berbicara ke mana-mana.
Beberapa hari kemudian, bangkai Bumbu ditemukan. Tubuhnya sudah membengkak dan mengeluarkan bau yang menyengat.
Lagi-lagi saya kehilangan teman.
Lalu ada sepasang entok.
Seorang teman memberikannya kepada saya ketika saya baru keluar dari rumah sakit. Saat itu tubuh mereka masih dipenuhi bulu jarum. Bulu mereka belum tumbuh sempurna.
Saya menyaksikan keduanya tumbuh.
Bulu mereka menjadi tebal. Tubuh mereka semakin besar. Saya menyukai suara mereka ketika ribut menunggu makanan. Saya bahagia ketika paruhnya menyentuh jari saya. Saya juga suka melihat bulu ekornya bergoyang.
Kemudian suatu hari, salah satu entok saya tinggal separuh badan di dalam kandang.
Saya tidak tahu apa yang terjadi.
Saya sedih. Sisa tubuhnya saya panggang dan saya berikan kepada anjing.
Temannya menjadi saksi bisu dari kejadian itu.
Saya memindahkannya ke wadah penampungan air agar lebih aman. Setelah itu saya mengembalikannya ke kandang.
Namun Kamis sore, ketika saya melihat kandangnya lagi, entok itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya beberapa helai bulu putih.
Saya sedih.
Saya mengatakan kepada ibu bahwa saya ingin pulang. Keinginan itu segera disambut Ibu dengan penuh bahagia.
Dalam kesedihan, saya bahkan mengirim pesan kepada orang yang memberikan entok tersebut. Saya menyalahkannya, seolah-olah ia tidak ikhlas memberikan entok sehingga kedua hewan itu mati dibantai pemangsa, entah apa. Mungkin biawak.
Teman saya menjawab bahwa ia ikhlas memberikan entok tersebut. Ia juga mengatakan bahwa saya aneh karena menyalahkannya.
Saya tertawa membaca pesannya.
Barangkali memang begitu bentuk kesedihan saya. Setelah menangis, saya bisa tertawa. Setelah marah, saya bisa menyalahkan orang yang sebenarnya tidak bersalah.
Dan kemudian saya bernyanyi dalam kesedihan.
Sekarang saya masih memiliki Gapa.
Gapa adalah seekor babi yang sudah lebih dari lima bulan bersama saya. Semakin lama, makannya semakin banyak dan tubuhnya berkembang dengan cepat.
Saya berniat menjualnya sebelum ia mati. Entah mengapa saya berpikir begitu.
Gapa juga bukan sepenuhnya milik saya. Saya memilikinya bersama seorang teman. Saya memberinya nama Gapa karena saat itu saya gagal pergi ke Papua.
Saya juga masih memiliki seekor anjing baru.
Tetapi kali ini saya membawa ketakutan yang berbeda.
Saya takut ia mati sebelum sempat memiliki pasangan dan berkembang biak.
Banyak hewan peliharaan saya mati ketika masih remaja atau baru mencapai usia dewasa.
Saya tidak pernah berhasil menjaga mereka sampai tua.
Mungkin itu sebabnya saya semakin menyadari bahwa mereka bukan sekadar makhluk yang kebetulan tinggal bersama saya.
Mereka adalah makhluk yang membuat saya merasakan kasih sayang dari makhluk lain.
Saya menyayangi Gapa. Hanya saja akan sulit memangkunya sambil mengelus kepalanya seperti saya mengelus anjing.
Kalau saya terbangun tengah malam, saya sering berkomunikasi dengan teman-teman saya. Jara, Dara, Bumbu, dan Gapa.
Mereka pendengar yang baik.
Mereka tidak menghakimi.
Mereka tidak bertanya mengapa saya belum berhasil.
Mereka tidak meminta penjelasan ketika saya sedang sedih.
Mereka hanya ada.
Dan mungkin, keberadaan semacam itu yang kadang paling kita butuhkan.
Saya tidak mampu menjaga mereka sampai mereka menua.
Itulah bagian paling menyedihkan dari persahabatan saya dengan hewan. Saya selalu ingin mereka hidup lebih lama, tetapi kehidupan tidak pernah meminta izin sebelum mengambil mereka.
Kalau suatu hari saya punya cukup uang, saya ingin seperti Prabowo dengan kuda kesayangannya.
Tetapi ah, di tengah keadaan ekonomi sekarang, saya masih cukup bersyukur jika dapat bertahan dan menghidupi diri sendiri.
Saya masih berada pada usia produktif dan masih lajang. Saya tidak bisa terlalu berharap ada seseorang atau bahkan pemerintah yang akan datang begitu saja untuk memastikan kesejahteraan saya. Saya harus berjuang sendiri.
Mungkin itu sebabnya kehadiran hewan menjadi penting.
Di tengah hidup yang kadang terasa berat, mereka tidak menyelesaikan persoalan saya. Mereka hanya membuat perjalanan terasa sedikit lebih ringan.
Dan ketika mereka pergi, mereka meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi.
Saya sering berharap suatu hari keberuntungan datang tiba-tiba, seperti seseorang yang memenangkan lotere. Saya merindukan kejutan.
Tetapi bukan kejutan seperti kematian teman-teman saya.
Bukan Jara.
Bukan Dara.
Bukan Bumbu.
Bukan kedua entok saya.
Saya ingin kejutan yang membuat saya tertawa tanpa harus kehilangan siapa pun.
Sebab setelah berkali-kali kehilangan, saya mulai memahami satu hal sederhana: menyayangi hewan berarti bersedia menerima kemungkinan bahwa suatu hari kita akan berduka karena mereka.
Tetapi mungkin justru karena hidup mereka tidak sepanjang hidup manusia, setiap kebersamaan menjadi lebih berharga.
Jara pernah berlari menyambut saya sambil menggoyangkan ekornya.
Dara pernah mengeluarkan beberapa bunyi hanya ketika kami berdua.
Bumbu pernah mengikuti saya ke kamar mandi dan menunggu di luar.
Kedua entok pernah membuat keributan hanya karena menunggu makanan.
Gapa masih makan semakin banyak setiap hari.
Dan anjing saya yang sekarang masih ada di sini.
Saya tidak tahu berapa lama lagi mereka akan menemani saya.
Saya juga tidak tahu berapa lama saya akan menemani mereka.
Tetapi untuk saat ini, saya akan menikmati suara, gerak tubuh, tatapan, dan kehadiran mereka.
Sebab mungkin persahabatan dengan hewan memang sesederhana itu.
Kita memberi mereka makanan.
Mereka memberi kita kehadiran.
Kita merawat mereka.
Mereka menemani kita.
Dan ketika suatu hari mereka pergi, kita membawa kenangan tentang makhluk-makhluk yang pernah membuat kita merasa dicintai tanpa pernah meminta kita menjadi siapa-siapa.
Penulis: Devilaria Damanik, pecinta anjing
Thank you ka for sharing, aku baca smpe habis loh 🥹 dan ternyata apa yang kaka tulis benar dan aku ngerasain juga 🤍🕊️