Sutarto Ajak Siswa dan Anak Muda Kelola Sampah, Kenalkan Teknik Teba di Deli Serdang

Bagikan Artikel

DELI SERDANG, BONARINEWS – Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara Sutarto mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui edukasi pemilahan dan pengolahan sampah organik. Salah satu langkah yang diperkenalkan adalah teknik Teba, yakni metode pengolahan sampah organik menggunakan lubang komposter.

Gerakan tersebut dilakukan bersama siswa Yayasan Pendidikan Delisha di Desa Tandem Hilir II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Senin (2/11/2026).

Sutarto menjelaskan, Teba berasal dari bahasa Bali yang merujuk pada halaman atau pekarangan belakang rumah. Dalam tradisi masyarakat Bali, area tersebut dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas rumah tangga, termasuk penampungan alami sisa-sisa organik.

Dalam penerapannya, Teba diwujudkan melalui lubang tanam atau sumur komposter yang umumnya memiliki kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, diperkuat dengan buis beton dan dilengkapi penutup. Sampah organik rumah tangga dimasukkan ke dalamnya untuk diolah menjadi kompos.

“Masalah tumpukan sampah rumah tangga yang kerap menjadi polemik di lingkungan masyarakat, kita bersama para siswa melakukan gerakan ini sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Sutarto.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara itu mengatakan, teknik Teba yang dilengkapi bio-decomposer dapat membantu warga mengolah sampah organik di lingkungan terdekat tanpa menimbulkan bau tidak sedap apabila dikelola dengan baik.

Ia berharap metode tersebut dapat diterapkan secara kolektif sehingga volume sampah rumah tangga yang harus dibuang dapat dikurangi.

Kegiatan di Yayasan Pendidikan Delisha merupakan bagian dari rangkaian Pekan Peduli Sampah Nasional yang digagas DPP PDI Perjuangan. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung serentak di seluruh Indonesia pada 9–14 November 2026.

Ketua Yayasan Pendidikan Delisha, Arief Winarto, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai pengelolaan sampah organik.

Menurut Arief, sampah yang akan diolah menggunakan teknik Teba berasal dari sisa makanan kantin sekolah dan sampah organik di lingkungan sekitar. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai program sesaat.

Libatkan komunitas anak muda

Selain mengenalkan pengolahan sampah organik, Sutarto juga menggelar kerja bakti massal dan pemilahan sampah di kawasan Sumut Sport Center, Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, Deli Serdang, Minggu (1/11/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah komunitas anak muda, di antaranya Gen Bright dan Yayasan Edukasi Indonesia.

Sutarto mengatakan, kegiatan itu berawal dari masukan komunitas anak muda yang ingin terlibat dalam gerakan kebersihan lingkungan. Ia menyambut inisiatif tersebut dengan mengajak mereka melakukan kerja bakti sekaligus memilah sampah.

Dari kegiatan itu, terkumpul hampir setengah ton sampah anorganik yang kemudian disetorkan ke Bank Sampah Induk Berseri di Lubuk Pakam, Deli Serdang.

Menurut Sutarto, pemilahan sampah dapat memberikan nilai ekonomi apabila dilakukan dengan tepat. Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai penting agar gerakan pengelolaan sampah dapat berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Inisiator Yayasan Edukasi Indonesia, Benz Dachi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Ia berharap gerakan serupa dapat terus dilakukan.

Benz juga mengingatkan dampak sampah plastik yang dibuang sembarangan, termasuk potensi pencemaran laut dan terbentuknya mikroplastik yang dapat masuk ke rantai makanan.

Dua kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Pengolahan sampah organik melalui Teba dan pemilahan sampah anorganik menjadi langkah yang dapat dilakukan bersama untuk mengurangi beban sampah sekaligus membangun kebiasaan peduli lingkungan.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *