Sofyan Tan: Dunia Kerja Tak Cukup Diisi Orang Pintar, Integritas dan Kemampuan Beradaptasi Jadi Modal

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS – Ijazah dan nilai akademik bukan satu-satunya bekal memasuki dunia kerja. Mahasiswa juga dituntut mampu bekerja sama, berkomunikasi, menjaga integritas, serta beradaptasi menghadapi perubahan.

Pesan itu disampaikan Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, di hadapan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Medan.

Sofyan Tan menyampaikan hal tersebut dalam Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Sofyan Tan, mahasiswa yang tengah menyiapkan diri menuju dunia kerja perlu melihat pendidikan lebih luas dari sekadar mengejar nilai dan ijazah. Kemampuan akademik tetap penting, tetapi dunia kerja juga membutuhkan karakter dan kemampuan menghadapi orang lain serta situasi yang terus berubah.

“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar secara akademik. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu bekerja sama, punya integritas, mau belajar dan mampu menghadapi perubahan,” kata Sofyan Tan.

Ia mengaitkan kesiapan tersebut dengan nilai-nilai Pancasila yang selama ini dipelajari mahasiswa. Baginya, Pancasila tidak seharusnya berhenti sebagai hafalan lima sila, melainkan terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang lain dan menyelesaikan persoalan.

“Pancasila jangan hanya dihafalkan sila-silanya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam perilaku kita sehari-hari,” ujarnya.

Salah satu bentuknya, kata Sofyan Tan, adalah kemampuan menghargai perbedaan, membantu orang lain, bermusyawarah, dan bekerja secara bersama-sama.

Di lingkungan mahasiswa, nilai tersebut dapat dimulai dari hal sederhana. Ketika ada teman yang mengalami kesulitan, misalnya, mahasiswa tidak seharusnya memilih menjauh. Mereka yang memiliki kemampuan lebih juga dapat membantu teman yang membutuhkan.

“Kalau ada teman yang kesulitan, jangan ditinggalkan. Kalau ada yang punya kemampuan lebih, bantu yang membutuhkan. Inilah bentuk sederhana gotong royong yang menjadi kekuatan bangsa kita,” katanya.

Bagi Sofyan Tan, kemampuan membangun relasi dan solidaritas tersebut akan menjadi bagian penting ketika mahasiswa memasuki lingkungan profesional.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa yang tergabung dalam Pamas dr. Sofyan Tan menjadikan organisasi sebagai ruang belajar. Bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan tempat untuk bertukar pengalaman, membangun jejaring, melatih kepemimpinan dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak takut memulai karier dari bawah. Menurutnya, keberhasilan membutuhkan proses, pengalaman dan ketekunan.

Pesan tersebut kemudian dikaitkan Sofyan Tan dengan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ia menjelaskan, UUD NRI Tahun 1945 tidak hanya berbicara mengenai sistem ketatanegaraan, tetapi juga berkaitan dengan hak masyarakat, termasuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, perlindungan dan kesempatan untuk berkembang.

Di sisi lain, keberagaman latar belakang suku, agama, daerah maupun perguruan tinggi tidak semestinya menjadi sekat bagi mahasiswa. Perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas.

Sosialisasi tersebut juga menjadi ruang dialog antara Sofyan Tan dan mahasiswa mengenai persoalan pendidikan, kehidupan sosial, tantangan generasi muda hingga persiapan memasuki dunia kerja.

“Mahasiswa adalah bagian penting dari masa depan Indonesia. Karena itu, jangan hanya menjadi generasi yang pintar, tetapi jadilah generasi yang peduli, mampu bekerja bersama, menghargai perbedaan, dan mau memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *