Dumai, BONARINEWS.com – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 semakin nyata dan harus diantisipasi sejak dini.
Peringatan keras itu disampaikan Hanif saat memimpin apel kesiapsiagaan karhutla di Dumai, Riau, Sabtu (26/4/2026), menyusul proyeksi musim kemarau yang lebih panjang disertai fenomena El Niño lemah hingga moderat.
“Menurut BMKG, musim kemarau tahun ini diproyeksikan berlangsung cukup panjang, dari April hingga Oktober. Artinya, kita punya waktu panjang juga untuk menghadapi risiko karhutla. Ditambah dengan El Niño, ini harus kita antisipasi sejak awal,” tegas Hanif.
Menurut Hanif, durasi musim kering yang panjang akan memperbesar risiko kebakaran, khususnya di wilayah rawan seperti Provinsi Riau.
Ia menegaskan ada sejumlah indikator wilayah prioritas yang wajib menjadi fokus pengendalian, seperti daerah dengan ekosistem gambut luas, penurunan tinggi muka air tanah (TMAT), riwayat kebakaran berulang, serta sebaran hotspot yang padat.
“Daerah-daerah dengan gambut luas, muka air tanah yang turun, riwayat kebakaran berulang, dan hotspot tinggi harus menjadi prioritas. Di wilayah ini kita tidak boleh terlambat,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, KLH/BPLH bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan pemantauan langsung ke wilayah rawan sekaligus memastikan kesiapan seluruh unsur pengendalian.
Langkah tersebut merupakan implementasi Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan.
Di tingkat daerah, penguatan kesiapsiagaan dilakukan melalui konsolidasi lintas sektor, peningkatan patroli di wilayah rawan, serta kesiapan sarana prasarana dan personel di lapangan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan pengelolaan ekosistem gambut melalui perbaikan tata air dan pembasahan lahan, serta pemanfaatan teknologi pemantauan hotspot yang terintegrasi dengan respons cepat di lapangan.
Hanif menegaskan, pengendalian karhutla harus dimulai sejak fase paling awal sebelum api membesar dan sulit dikendalikan.
Melalui langkah mitigasi permanen yang terencana dan berkelanjutan, pemerintah berharap seluruh pihak bisa bergerak lebih sigap, terkoordinasi, dan konsisten menekan potensi karhutla serta mencegah terulangnya bencana kabut asap yang merugikan kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Penulis: Dedy Hu