“Tempat di mana Allah memanggilmu adalah tempat sukacita terdalammu bertemu dengan kebutuhan terdalam dunia.”
— Frederick Buechner
Menjadi guru bukanlah impian masa kecilku. Sebagai pribadi yang cenderung introvert, berdiri dan berbicara di depan banyak orang—meski hanya di hadapan anak-anak—adalah sesuatu yang dulu terasa mustahil. Bahkan hingga kini aku masih mengingat dengan jelas hari ketika para calon mahasiswa menentukan pilihan jurusan. Aku memilih mundur. Ketakutan membayangkan masa depan sebagai guru membuatku mengubur kemungkinan itu sebelum sempat mencobanya.
Oleh: Nora Verawaty Saragih
Hidup kemudian berjalan menurut rencanaku. Aku memilih Jurusan Sastra Inggris di sebuah perguruan tinggi di Padang dan menyelesaikan studi di sana. Namun setelah lulus, aku tetap tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan. Aku hanya menjalani hari demi hari, masih dengan keraguan yang sama ketika harus berhadapan dengan banyak orang.
Belakangan aku menyadari, di balik perjalanan yang tampak biasa itu, Tuhan sedang bekerja dengan cara yang tidak kusadari.
Pada akhir tahun 2011, seorang teman mengajakku beribadah di Persekutuan Mahasiswa Kristen. Niatku sederhana: menambah kesempatan beribadah agar imanku tetap bertumbuh. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa keputusan kecil itu akan mengubah arah hidupku.
Dari persekutuan itu, aku diajak bergabung dalam kelompok kecil. Saat itu aku belum benar-benar memahami maknanya, tetapi aku memilih ikut. Sedikit demi sedikit, Tuhan membawaku melangkah lebih jauh. Aku dipercaya menjadi petugas acara, terlibat sebagai pengurus persekutuan, memimpin kelompok kecil, hingga akhirnya melayani penuh waktu selama dua tahun setelah lulus kuliah.
Di sanalah Tuhan mulai membentuk keberanianku.
Aku yang dahulu takut berbicara di depan orang lain perlahan belajar berdiri, memimpin, menyampaikan firman, dan melayani banyak orang. Bukan karena rasa takut itu hilang, melainkan karena Tuhan mengajarkanku bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kesediaan untuk tetap melangkah meski rasa takut masih ada.

Tahun 2017 aku kembali ke kampung halaman di Kabupaten Simalungun. Pertanyaan lama kembali muncul: ke mana aku harus melangkah sekarang?
Aku belum menemukan jawabannya. Namun satu hal menjadi semakin jelas. Selama masa pelayanan, aku menyadari bahwa aku dipanggil untuk bekerja bersama manusia. Aku tidak dapat membayangkan diriku menghabiskan hidup pada pekerjaan yang hanya berurusan dengan benda atau rutinitas yang mekanis. Yang belum kutahu hanyalah dalam bentuk pekerjaan apa panggilan itu akan diwujudkan.
Jawabannya datang tanpa diduga.
Saat bergabung dengan pelayanan mahasiswa di Pematangsiantar, seorang teman memberi tahu bahwa sekolah Kristen di bawah naungan gerejaku, GKPS, sedang membutuhkan guru. Keraguan langsung muncul. Aku bukan lulusan pendidikan. Bagaimana mungkin aku mengajar di sekolah?
Namun, dorongan dari teman-teman membuatku memberanikan diri melamar. Tak lama kemudian aku diterima.
Hari-hari pertama menjadi guru benar-benar menguji keyakinanku. Aku memasuki dunia yang sama sekali asing. Tidak ada bekal pendidikan keguruan yang memadai. Aku belajar sambil menjalani semuanya.
Realitasnya jauh dari bayanganku.
Ada siswa yang menendang pintu ketika aku mengajar. Ada yang meludahi saat ditegur. Ada kelas yang begitu aktif hingga hampir menguras seluruh tenaga dan kesabaranku. Saat itulah aku memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Menjadi guru berarti belajar mengasihi, bersabar, dan tetap hadir bagi anak-anak, bahkan ketika mereka belum mampu menghargai kehadiran kita.
Di sisi lain, penghasilan yang kuterima pun jauh dari kata ideal. Secara manusiawi, tentu ada banyak alasan untuk menyerah. Namun anehnya, aku tetap bertahan.
Semakin kujalani, semakin aku melihat kesetiaan Tuhan melalui hal-hal yang sederhana. Kebutuhan selalu dicukupkan. Tidak selalu berlimpah, tetapi tidak pernah berkekurangan. Aku mungkin belum memiliki banyak hal yang dianggap sebagai ukuran keberhasilan dunia, tetapi aku belajar bahwa pemeliharaan Tuhan jauh lebih berharga daripada semua itu.
Tak lama setelah mulai mengajar, sebuah sekolah lain yang sebelumnya juga pernah kulamar menghubungiku dan memintaku melanjutkan proses seleksi. Kesempatan itu tampak lebih menjanjikan.
Namun tanpa banyak pertimbangan, aku menjawab, “Aku sudah bekerja.”
Kini, ketika mengingat keputusan itu, aku sadar bahwa saat itu Tuhan sedang meneguhkan langkahku. Aku memilih bertahan, belajar menjadi guru, dan menghidupi pekerjaan ini dengan setia.
Seiring berjalannya waktu, dunia pendidikan tidak lagi terasa sebagai tempat asing. Justru di sanalah aku menemukan sukacita yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku mulai bertanya dalam doa, “Tuhan, apakah ini panggilan-Mu bagiku?”
Di tahun keempat mengajar, aku memutuskan kembali kuliah mengambil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Aku ingin memperlengkapi diri agar mampu melayani dengan lebih baik, bukan hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga melalui pemahaman yang benar.
Hari demi hari, keyakinanku semakin bertumbuh.
Aku percaya bahwa menjadi guru bukanlah pekerjaan yang secara kebetulan kutemui di tengah jalan. Inilah panggilan yang Tuhan percayakan kepadaku.
Karena itu, profesi ini tidak lagi kupandang sekadar sebagai cara mencari nafkah. Menjadi guru adalah sebuah vocation—sebuah panggilan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Melalui ruang kelas, percakapan sederhana dengan siswa, maupun keputusan-keputusan kecil setiap hari, Tuhan memberiku kesempatan menghadirkan kasih, kebenaran, dan pengharapan.
Aku percaya Kerajaan Allah juga dapat dihadirkan melalui dunia pendidikan. Ketika seorang guru mengajar dengan hati, membimbing dengan kasih, bekerja dengan integritas, dan mengerahkan talenta terbaiknya demi pertumbuhan peserta didik, saat itulah pekerjaan sehari-hari berubah menjadi ibadah.
Firman Tuhan dalam Efesus 2:10 terus menguatkanku:
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.”
Ayat ini mengingatkanku bahwa setiap kesempatan mengajar, membimbing, menegur, menguatkan, bahkan mendengarkan seorang anak, adalah bagian dari pekerjaan baik yang telah Tuhan persiapkan. Tugasku hanyalah menghidupinya dengan setia.
Perlahan aku juga memahami bahwa guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan. Guru ikut membentuk hati, karakter, dan cara pandang seorang anak terhadap kehidupan. Sering kali, kehidupan guru sendiri menjadi pelajaran yang lebih diingat daripada materi yang diajarkannya. Karena itu, setiap guru dipanggil menjadi “Alkitab yang terbuka”—kehidupan yang dapat dibaca melalui keteladanan, bukan hanya melalui kata-kata.
Sampai kapan aku akan berada di dunia pendidikan, aku tidak tahu. Entah suatu hari tetap berada di ruang kelas ataupun dipercaya melayani dalam bidang manajerial, satu doaku tetap sama: kiranya aku tidak sekadar bertahan dalam sebuah profesi, tetapi tetap setia pada panggilan yang Tuhan percayakan.
Dulu aku melarikan diri karena takut menjadi guru.
Hari ini aku mengerti, bukan aku yang memilih jalan ini. Tuhanlah yang menulis ulang jalan hidupku.
Dan jika suatu hari aku harus mengulang seluruh perjalanan ini dari awal, dengan segala keraguan, keterbatasan, dan tantangannya, aku akan tetap menjawab panggilan yang sama.
Menjadi guru bukan sekadar profesi. Menjadi guru adalah panggilan iman—tempat Tuhan mengubah ketakutan menjadi keberanian, keterbatasan menjadi kesaksian, dan pekerjaan sehari-hari menjadi jalan untuk menghadirkan kasih-Nya bagi sesama.
Penulis adalah Kepala SD Swasta GKPS Sibarou, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara.