JAKARTA, BONARINEWS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi musim kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026 akibat penguatan fenomena El Nino. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga Oktober dan berpotensi memicu kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan hingga pertengahan Juni 2026, sekitar 37,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 47,16 persen wilayah tercatat mengalami curah hujan di bawah normal.
“BMKG memprediksi lebih dari 80 persen wilayah Indonesia akan mengalami kondisi curah hujan di bawah normal pada periode Juli hingga Oktober 2026,” kata Ardhasena dalam keterangan BMKG.
Menurut BMKG, penguatan El Nino berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan ketersediaan air bersih, serta berdampak pada sektor pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah segera melakukan langkah-langkah mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak kekeringan yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau.
Untuk sektor pertanian, BMKG menyarankan penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta diversifikasi tanaman agar risiko gagal panen dapat diminimalkan.
BMKG juga memastikan akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca dan iklim secara berkala setiap 10 hari sebagai dasar bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menyusun langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026.
Penulis: BNH