PADANG, BONARINEWS — Menjadi kepala sekolah tidak membuat Mardi Panjaitan berhenti mengejar pendidikan. Di tengah tanggung jawab mengelola Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara, Mardi tetap menjalani perkuliahan hingga akhirnya diwisuda Universitas Negeri Padang (UNP) dengan predikat cumlaude.
Mardi merupakan salah satu wisudawan pada Wisuda Angkatan ke-145 UNP yang dimulai Senin (28/9/2026). Ia datang ke Padang bukan hanya membawa toga, tetapi juga pengalaman membagi waktu antara tugas sebagai kepala sekolah dan kewajiban akademik.
Sebagai kepala SLB, Mardi harus menjalankan tanggung jawab pengelolaan sekolah sekaligus memastikan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus tetap berjalan. Di sisi lain, ia harus menyelesaikan proses pendidikan yang membutuhkan waktu, tenaga, dan konsistensi.
“Sebagai wisudawan saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan izin kepada kami mengikuti perkuliahan di UNP,” kata Mardi.
Menurut dia, kesempatan melanjutkan pendidikan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan bagi guru-guru SLB di Sumatera Utara untuk terus meningkatkan kompetensi.

Mardi mengakui membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah bukan perkara mudah. Namun, proses panjang tersebut akhirnya terbayar ketika ia berhasil menyelesaikan pendidikan dengan predikat cumlaude.
“Walau memang tidak mudah membagi waktu bekerja dengan kuliah, namun akhirnya semua hari ini terbayar. Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil,” ujarnya.
Ia berharap pencapaiannya tidak berhenti sebagai prestasi pribadi. Sebagai pimpinan sekolah, ia ingin pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi para guru untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi profesional.
Pengalaman Mardi juga memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi tenaga pendidik tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang ideal. Tuntutan pekerjaan dan kewajiban akademik harus berjalan bersamaan, sehingga diperlukan dukungan institusi serta kemauan individu untuk menyelesaikannya.
Wisuda 2.629 Lulusan
Wisuda Periode ke-145 UNP berlangsung mulai 28 hingga 30 September 2026 dengan total 2.629 wisudawan dan wisudawati. Informasi akademik UNP mencantumkan periode tersebut sebagai salah satu agenda wisuda September 2026.
Dalam pidatonya, Rektor UNP Krismadinata mengingatkan para lulusan agar tidak memandang wisuda sebagai akhir dari perjalanan pendidikan. Menurut dia, gelar akademik harus diikuti dengan pengabdian, integritas, dan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengajak para wisudawan mengingat peran orang tua dan keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan mereka.
Pesan tersebut menempatkan keberhasilan akademik tidak semata-mata pada pencapaian gelar, tetapi juga pada bagaimana ilmu yang diperoleh digunakan setelah seseorang meninggalkan kampus.
“Jangan pulang hanya membawa gelar. Pulanglah membawa bakti,” demikian pesan yang disampaikan dalam pidato Rektor UNP.
Rektor juga menekankan pentingnya karakter dan kepedulian sosial. Menurut dia, perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kemanusiaan.
Tantangan Generasi di Era Digital
Pesan mengenai tanggung jawab setelah wisuda juga disampaikan Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Dedie Tri Hariyadi dalam orasi ilmiah pada Wisuda UNP Periode ke-145.
Dalam orasinya bertema “Integritas dan Kepemimpinan Generasi Muda dalam Mewujudkan Indonesia yang Berkeadilan di Era Transformasi Digital”, Dedie menekankan bahwa gelar akademik bukan tujuan akhir pendidikan.
Ia mengingatkan para lulusan bahwa dunia kerja dan masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Integritas, kemampuan berpikir kritis, penguasaan teknologi, serta kemampuan memverifikasi informasi dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan zaman.
Dedie juga menyoroti tantangan disinformasi di era digital. Menurut dia, kemampuan menggunakan teknologi harus dibarengi kemampuan membedakan informasi, opini, propaganda, manipulasi, dan fakta.
Ia mengingatkan bahwa sesuatu yang viral tidak otomatis benar. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk memeriksa sumber, bukti, dan konteks sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi.
Selain literasi digital, Dedie menekankan pentingnya integritas dalam kehidupan profesional. Menurut dia, perkembangan teknologi dan perubahan cara kerja tidak boleh menggeser nilai kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan etika.
Bagi Mardi, pesan tersebut sejalan dengan alasan dirinya terus berusaha menyelesaikan pendidikan meski harus membagi waktu dengan tanggung jawab sebagai kepala sekolah.
Ia berharap pencapaiannya dapat menjadi contoh bagi guru-guru SLB di Sumatera Utara bahwa peningkatan kompetensi tetap dapat dilakukan di tengah kesibukan menjalankan tugas.
Dengan selesainya pendidikan tersebut, Mardi kini membawa pulang bukan hanya gelar akademik, tetapi juga pengalaman bahwa proses belajar bagi seorang pendidik tidak berhenti ketika memasuki dunia kerja.
Penulis: Dedy Hutajulu