Ibu Penjual Monza Sebut Anaknya Bisa Kuliah Berkat Bantuan Sofyan Tan: Saya Bukti Nyatanya

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS — Jayanti, seorang ibu yang bekerja di toko pakaian bekas atau Monza, tak kuasa menahan haru saat menceritakan perjalanan pendidikan anaknya, Keysa. Perempuan keturunan India itu menyebut kesempatan anaknya mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi menjadi bukti bahwa bantuan pendidikan yang diterima tidak membedakan latar belakang suku maupun agama.

Kesaksian Jayanti disampaikan dalam kegiatan serap aspirasi bersama orang tua mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2026 di Aula Universitas Methodist Indonesia, Tanjung Sari, Medan, Jumat (30/10/2026).

Ia bercerita, tiga tahun sebelumnya Keysa mendapat kesempatan bersekolah di SMK Sultan Iskandar Muda melalui program anak asuh. Kini, anaknya kembali memperoleh bantuan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Methodist Indonesia melalui KIP Kuliah.

“Saya orang tua dari Keysa, pekerjaan saya kerja di toko yang jual pakaian Monza, Pak. Sudah tiga tahun, anak saya dulu Bapak beri kesempatan untuk sekolah di SMK Sultan Iskandar Muda program anak asuh dan kini dibantu kuliah gratis di Methodist,” ujar Jayanti dengan mata berkaca-kaca.

Ia menyampaikan terima kasih kepada anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, yang menurutnya telah membantu pendidikan anaknya tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang.

“Terima kasih untuk Bapak Sofyan Tan, karena tidak pernah membeda-bedakan agama dan suku. Sayalah bukti nyatanya, Bapak sudah berjuang membantu anak saya,” katanya.

Kesaksian serupa disampaikan Martinus Lase, orang tua mahasiswa asal Pulau Nias yang merantau ke Medan sejak usia sekolah menengah. Untuk menghidupi empat anaknya, Martinus bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Ia mengaku sempat khawatir anaknya tidak memperoleh kesempatan kuliah karena hingga mendekati jadwal masuk perguruan tinggi belum ada kepastian mengenai bantuan pendidikan.

Namun, kabar baik datang melalui surat elektronik pada Jumat, beberapa hari sebelum perkuliahan dimulai. Anak Martinus, Citra, dinyatakan memperoleh KIP Kuliah.

“Waktu itu, Seninnya sudah harus masuk kuliah. Anak kami belum ada kabar. Hari Jumatnya baru datang email, ‘Selamat anak kami Citra mendapatkan KIP Kuliah’. Wah, senangnya luar biasa. Hari ini betul yang Bapak tadi bilang, kita adalah orang tua yang paling bahagia hari ini,” tutur Martinus.

Menanggapi kesaksian para orang tua, Sofyan Tan mengingatkan para mahasiswa penerima bantuan agar menghargai perjuangan keluarga yang telah berusaha menyekolahkan mereka di tengah keterbatasan ekonomi.

Ia juga berpesan agar kesempatan pendidikan yang diperoleh tidak hanya dimanfaatkan untuk meraih masa depan pribadi, tetapi kelak mendorong mereka untuk peduli dan membantu masyarakat kecil.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Pendidikan Gereja Methodist Indonesia Pendeta Binran Sipayung, Ketua Pelaksana Kegiatan Yayasan Universitas Methodist Indonesia Pendeta James Gurning, Rektor Universitas Methodist Indonesia Rumuntal Hutapea, serta sejumlah tenaga ahli DPR RI dan orang tua mahasiswa penerima KIP Kuliah 2026.

Kisah Jayanti dan Martinus memperlihatkan bagaimana bantuan pendidikan dapat membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *