MEDAN, BONARINEWS – “Saya cuma jual kerupuk dan cuci piring, Pak!” Kalimat itu disampaikan Nirma Br. Ginting dengan tangis saat menceritakan perjuangannya membiayai keluarga. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia menyimpan harapan agar anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Warga Simalingkar B, Kecamatan Pancur Batu, itu sehari-hari berjualan kerupuk dan menerima pekerjaan mencuci piring. Suaminya bekerja sebagai sopir. Penghasilan keluarga yang terbatas membuat biaya kuliah sempat menjadi kekhawatiran besar.
Namun, harapan Nirma terbuka setelah anaknya memperoleh bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah melalui jalur aspirasi yang diperjuangkan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan.
Kisah Nirma terungkap dalam kegiatan serap aspirasi masyarakat bersama Sofyan Tan di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 100 orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi yang diterima di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN).
Bagi Nirma, kesempatan anaknya melanjutkan pendidikan bukan hanya soal keberhasilan masuk perguruan tinggi. Lebih dari itu, ia berharap anaknya tidak harus menjalani kehidupan sesulit yang selama ini dialaminya.
Perjuangan serupa disampaikan Anita br Surbakti, guru honorer asal Simalingkar. Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan, ia mengaku kesulitan membayangkan bagaimana membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi.
Kesempatan memperoleh KIP Kuliah akhirnya membuka jalan bagi anaknya untuk melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Medan (Polmed).
“Saya adalah guru honorer, Pak, dengan gaji satu juta rupiah. Saya tak menyangka anak saya bisa kuliah dengan bantuan Bapak. Terima kasih, Ibu Lisna, Pak Tamba, dan Pak Sofyan Tan,” ujar Anita dengan suara bergetar.
Cerita lainnya datang dari Evi Purba, warga Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Ia membesarkan dua anak seorang diri setelah keluarganya menghadapi persoalan narkoba.
Ketika anaknya mengalami kendala administrasi yang mengancam kelanjutan kuliah, Evi kembali dihadapkan pada kesulitan. Melalui bantuan Rumah Aspirasi Sofyan Tan, anaknya akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di Fakultas Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Medan (Unimed).
“Suami saya sudah tiada karena narkoba, saya hidup bersama kedua anak saya. Berkat bantuan Rumah Aspirasi dan dr Sofyan Tan, anak saya bisa terus kuliah tanpa biaya sepeser pun,” tuturnya.
Sementara itu, Santi Dewi, buruh harian lepas asal Simalingkar B, juga menceritakan perjuangannya menyekolahkan anak di tengah penghasilan di bawah upah minimum. Anak Santi kini diterima di Jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui KIP Kuliah jalur aspirasi.
Sejumlah orang tua lainnya, termasuk Sugiarti, turut menyampaikan rasa syukur atas kesempatan pendidikan yang diperoleh anak-anak mereka.
Menurut informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, penerima bantuan melalui Rumah Aspirasi Sofyan Tan tersebar di sejumlah perguruan tinggi negeri, antara lain USU, Unimed, Polmed, kampus di Aceh, Universitas Jember, Universitas Udayana di Bali, serta beberapa PTN di Pulau Jawa.
Mendengar kesaksian para orang tua, Sofyan Tan mengingatkan mahasiswa penerima KIP Kuliah agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia meminta mereka tidak mudah menyerah dan menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarga.
“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah salah satu jalan paling ampuh untuk mengubah nasib keluarga. Jangan pernah patah semangat, kejarlah cita-citamu setinggi langit, karena negara harus hadir untuk memastikan anak-anak kurang mampu berhak memiliki masa depan yang cerah,” pesannya.
Kesaksian para orang tua itu memperlihatkan besarnya arti bantuan pendidikan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Bagi mereka, kesempatan kuliah bukan sekadar meringankan beban biaya, tetapi juga membuka peluang bagi anak-anak untuk meraih kehidupan yang berbeda.
Nirma mungkin hanya mampu mengumpulkan penghasilan dari berjualan kerupuk dan mencuci piring. Namun, melalui kesempatan pendidikan yang diperoleh anaknya, ia kini memiliki harapan agar perjuangan hidup keluarganya dapat berujung pada masa depan yang lebih baik.
Penulis: Dedy Hutajulu