BONARINEWS – Banyak orang menjalani hidup bertahun-tahun tanpa menyadari ada virus yang perlahan merusak hati. Hepatitis C memang kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Sebagian orang baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau ketika kerusakan hati sudah berkembang.
Kabar baiknya, hepatitis C tidak lagi identik dengan penyakit yang harus dibawa seumur hidup. Obat antivirus yang bekerja langsung terhadap virus atau direct-acting antivirals dapat menyembuhkan lebih dari 95 persen penderita. Terapi oral ini umumnya berlangsung 8 sampai 12 minggu, meski lama pengobatan dapat berbeda bergantung pada kondisi pasien, termasuk ada atau tidaknya sirosis.
WHO memasukkan eliminasi hepatitis virus sebagai salah satu target kesehatan global hingga 2030. Namun, dunia masih belum berada pada jalur yang cukup cepat untuk mencapai target tersebut. Pada 2024, diperkirakan 47 juta orang hidup dengan hepatitis C kronis dan sekitar 240 ribu orang meninggal akibat komplikasi penyakit ini, terutama sirosis dan kanker hati.
Hepatitis C berbeda dari hepatitis A atau B dalam satu hal penting. Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah hepatitis C. Pencegahan terutama dilakukan dengan menghindari paparan darah yang terkontaminasi.
Virus ini terutama menular melalui darah. Penggunaan jarum suntik secara bergantian, alat tato atau tindik yang tidak steril, prosedur medis yang tidak aman, serta transfusi darah yang tidak melalui penyaringan merupakan beberapa jalur penularan. Risiko juga dapat muncul akibat tertusuk jarum yang terkontaminasi di lingkungan pelayanan kesehatan.
Sebagian orang mungkin terpapar puluhan tahun lalu, termasuk ketika standar keamanan transfusi darah dan sterilisasi peralatan medis belum seperti sekarang. Karena itu, seseorang dapat terinfeksi tanpa pernah merasa memiliki perilaku berisiko.
Diam-diam merusak hati
Hepatitis C akut umumnya tidak menimbulkan gejala. WHO memperkirakan sekitar 70 sampai 85 persen orang yang terinfeksi akan berkembang menjadi infeksi kronis. Dalam jangka panjang, infeksi tersebut dapat menyebabkan sirosis dan meningkatkan risiko kanker hati.
Gejala, jika muncul, dapat berupa mudah lelah, kehilangan nafsu makan, mual, nyeri perut, urine berwarna gelap, hingga kulit dan mata menguning. Namun, tidak adanya gejala bukan berarti seseorang terbebas dari kerusakan hati.
Itulah sebabnya pemeriksaan menjadi penting bagi orang yang memiliki riwayat paparan darah atau faktor risiko tertentu.
Siapa yang sebaiknya memeriksakan diri?
Pemeriksaan hepatitis C patut dipertimbangkan bagi orang yang pernah menggunakan jarum suntik secara bergantian, menerima transfusi darah atau produk darah pada masa ketika penyaringannya belum optimal, menggunakan alat tato atau tindik yang tidak steril, atau pernah mengalami kecelakaan tertusuk jarum yang berpotensi terkontaminasi.
Orang yang menjalani prosedur medis atau tindakan lain dengan risiko paparan darah juga dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan apakah pemeriksaan diperlukan.
Hubungan seksual juga dapat menjadi jalur penularan, terutama dalam situasi yang memungkinkan terjadinya kontak dengan darah. WHO memasukkan praktik seksual yang menyebabkan paparan darah sebagai salah satu jalur penularan hepatitis C.
Tes tidak cukup berhenti pada antibodi
Pemeriksaan hepatitis C biasanya dimulai dengan tes antibodi terhadap virus hepatitis C. Hasil reaktif menunjukkan seseorang pernah terpapar virus, tetapi belum otomatis berarti virus masih berada di dalam tubuh.
Untuk memastikan adanya infeksi aktif, diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi materi genetik virus atau HCV RNA. Pemeriksaan tersebut membantu dokter menentukan apakah pasien membutuhkan terapi.
Karena itu, seseorang yang memperoleh hasil antibodi reaktif sebaiknya tidak langsung menyimpulkan dirinya mengidap hepatitis C kronis. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Terapi kini jauh lebih sederhana
Perubahan terbesar dalam penanganan hepatitis C terjadi setelah hadirnya obat antivirus kerja langsung. Terapi ini menggantikan pengobatan lama yang lebih berat dan memiliki lebih banyak efek samping.
WHO menyebut obat antivirus tersebut mampu menyembuhkan lebih dari 95 persen penderita hepatitis C. Terapi umumnya berupa obat minum selama 8 sampai 12 minggu, dengan pilihan dan lama pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien.
Kesembuhan biasanya dinilai berdasarkan tidak terdeteksinya virus setelah terapi pada waktu pemeriksaan yang ditetapkan dokter. Meski demikian, pasien yang sudah sembuh tetap dapat terinfeksi kembali jika kembali mengalami paparan virus.
Bagaimana dengan pengobatan di Indonesia?
Untuk masyarakat Indonesia, langkah pertama adalah berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan. Pemeriksaan dan penentuan terapi perlu dilakukan berdasarkan hasil diagnosis serta kondisi hati pasien.
Jangan menunda pemeriksaan hanya karena tidak merasakan gejala. WHO kini mendorong model pelayanan hepatitis C yang lebih sederhana dan dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat, termasuk melalui layanan kesehatan primer oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
Terkait pembiayaan, masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional sebaiknya memastikan langsung kepada fasilitas kesehatan dan BPJS Kesehatan mengenai ketersediaan obat, ketentuan kepesertaan, serta prosedur rujukan yang berlaku. Ketentuan obat dan layanan dapat berubah sehingga informasi terbaru perlu dikonfirmasi sebelum memulai pengobatan.
Jangan menunggu hati rusak
Hepatitis C kini termasuk penyakit infeksi yang memiliki terapi dengan tingkat kesembuhan sangat tinggi. Tantangannya bukan lagi sekadar menemukan obat, melainkan memastikan orang yang terinfeksi mengetahui kondisinya dan memperoleh pengobatan.
Data WHO menunjukkan masih banyak penderita hepatitis C yang belum mengetahui status infeksinya. Pada 2024, hanya sekitar 36 persen orang yang pernah terinfeksi hepatitis C secara kumulatif pada periode 2015-2024 yang mengetahui diagnosisnya, sementara sekitar 20 persen dari mereka yang telah didiagnosis hepatitis C kronis telah mendapatkan terapi antivirus kerja langsung hingga akhir 2024.
Karena itu, bagi orang yang memiliki riwayat paparan darah atau faktor risiko, pemeriksaan lebih awal dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah persoalan yang lebih besar.
Hepatitis C mungkin datang tanpa suara. Tetapi ketika ditemukan, penyakit ini kini memiliki peluang sembuh yang sangat besar.
Penulis: Ahmad Amri Falah