Guru Pembelajar: Menolak Sekadar “Ada” di Ruang Kelas

Bagikan Artikel

Oleh: Nora Verawaty Saragih

“Dari ruang kelas sederhana lahir generasi luar biasa. Tuhan pakai hidup kami jadi guru sejati. Setiap langkah kecil hari ini akan jadi besar nanti.”

Potongan lirik itu terus terngiang di kepala saya sejak mengikuti Kamp Guru 2026, sebuah ruang belajar bagi para pendidik di Sumatera Bagian Utara untuk menguatkan spiritualitas sekaligus kompetensi diri. Saat lagu itu dinyanyikan, pikiran saya melayang ke sekolah dan ruang kelas tempat saya mengabdi. Saya seperti diajak berhenti sejenak untuk merenungkan kembali makna menjadi seorang guru.

Pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan. Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Pernahkah saya menyerah pada keterbatasan sekolah? Sudahkah saya mengupayakan ruang belajar yang benar-benar dibutuhkan murid? Dan yang paling penting, sudahkah saya sungguh-sungguh menjadi guru?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga layak diajukan kepada kita semua.

Ketika Guru Acuh, Dunia Luar Mengambil Alih

Mari jujur pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita bawa setiap kali melangkah masuk ke ruang kelas?

Jika guru datang tanpa persiapan, pembelajaran hanya akan berjalan sekadarnya. Kelas kehilangan arah, proses belajar berlangsung tanpa makna, dan ruang belajar gagal menjadi tempat yang menghidupkan rasa ingin tahu murid.

Ketika keadaan seperti ini terus berlangsung, anak-anak akan mencari jawaban dari tempat lain. Dunia digital menawarkan segalanya dengan cepat, menarik, dan tanpa batas. Internet menjadi “guru” yang selalu siap menjawab rasa ingin tahu mereka, meski belum tentu memberikan jawaban yang benar.

Di sisi lain, para orang tua menitipkan harapan besar kepada sekolah. Mereka percaya anak-anaknya tidak hanya bertambah pengetahuan, tetapi juga bertumbuh dalam karakter. Jika guru kehilangan kepedulian, sekolah hanya akan menjadi tempat menjalankan rutinitas. Murid memang hadir setiap hari, tetapi proses pendidikannya perlahan diambil alih oleh arus informasi yang tidak selalu membawa kebaikan.

Krisis Motivasi untuk Terus Belajar

Jika gambaran itu terasa dekat dengan kenyataan, kita perlu bertanya lagi: apa sebenarnya motivasi kita menjadi guru?

Apakah profesi ini perlahan berubah menjadi sekadar pekerjaan untuk mencari nafkah? Apakah perhatian kita terhadap perkembangan murid mulai tergeser oleh rutinitas administratif?

Seharusnya, panggilan sebagai guru mendorong kita memberikan yang terbaik dalam setiap pembelajaran. Namun kenyataannya, tidak semua guru memiliki semangat yang sama. Masih ada cara pandang bahwa yang terpenting adalah kebutuhan pribadi terpenuhi, sementara urusan meningkatkan kualitas pembelajaran bisa menunggu.

Inilah yang memprihatinkan. Tidak semua guru memiliki kerelaan untuk terus belajar.

Saya teringat ketika pemerintah meluncurkan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Saat itu tersedia ruang belajar yang terbuka, mudah diakses, dan kaya materi. Harapannya sederhana: guru memiliki kesempatan untuk bertumbuh secara mandiri.

Sayangnya, yang banyak terdengar justru keluhan. Kesempatan belajar sering dipandang sebagai tambahan beban, bukan sebagai peluang untuk berkembang.

Belajar demi Bertumbuh, Bukan Sekadar Administrasi

Sebagai salah satu pengguna PMM, saya merasakan manfaat yang besar. Materinya disusun secara sistematis, bahkan dimulai dari pertanyaan paling mendasar: mengapa seseorang memilih menjadi guru, lalu bagaimana panggilan itu diwujudkan dalam praktik mengajar sehari-hari.

Saya sering membayangkan, seandainya semakin banyak guru memanfaatkan ruang belajar ini dengan kesadaran sendiri, tentu perubahan cara berpikir dalam dunia pendidikan akan jauh lebih terasa.

Namun realitas di lapangan sering kali berbeda.

Di lingkungan tempat saya mengajar, penyelesaian materi PMM tidak jarang dilakukan semata-mata karena tuntutan administrasi. Fokusnya bergeser dari proses belajar menjadi sekadar memenuhi kewajiban.

Fenomena ini pernah disinggung dalam salah satu tulisan di Kompasiana berjudul “Pengelolaan Kinerja PMM 2024: Berburu Sertifikat atau Menjaga Akal Sehat?”. Guru seolah berlomba mengumpulkan sertifikat sebagai bukti administrasi. Akibatnya, semangat belajar berubah menjadi beban.

Alasan yang sering muncul adalah materi PMM menyita waktu mengajar. Tidak sedikit yang mengerjakannya saat jam pelajaran berlangsung. Bahkan lebih memprihatinkan lagi, ada yang menyerahkan pengerjaannya kepada orang lain.

Fenomena “joki” tugas menunjukkan bahwa belajar telah kehilangan maknanya. Belajar dipandang sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai kebutuhan untuk meningkatkan kualitas diri.

Pola pikir ini ternyata tidak berhenti di ruang digital. Dalam berbagai pelatihan tatap muka pun muncul kecenderungan serupa. Ada guru yang enggan mengikuti pelatihan jika tidak memperoleh uang duduk. Seolah-olah belajar baru layak dilakukan ketika ada imbalan.

Saya teringat percakapan dengan ibu saya, seorang pensiunan guru. Setiap kali saya pulang dari pelatihan, pertanyaan pertama yang beliau ajukan hampir selalu sama.

“Berapa uang duduknya?”

Pertanyaan sederhana itu membuat saya merenung. Jangan-jangan kita telah terlalu lama memandang belajar sebagai beban yang harus dibayar, bukan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Fenomena serupa juga terlihat ketika menghadapi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Menjelang seleksi dan ujian, banyak guru mendadak sangat disiplin belajar. Mereka rela meluangkan waktu, membaca berbagai referensi, bahkan belajar hingga larut malam demi memperoleh sertifikat pendidik.

Namun setelah semuanya selesai, semangat itu perlahan memudar. Persiapan mengajar kembali seadanya. Keinginan memperbarui pengetahuan ikut menghilang.

Padahal tujuan belajar bukan sekadar lulus ujian atau memperoleh sertifikat. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan perubahan nyata dalam cara mengajar dan mendampingi murid.

Jika pola pikir transaksional terus dipelihara, pendidikan akan berjalan di tempat. Kita sibuk memenuhi administrasi, tetapi lupa membangun kualitas.

Saya sempat mendiskusikan persoalan ini dengan beberapa peserta Kamp Guru 2026. Jawaban mereka hampir sama. Tidak semua guru mampu menjaga semangat belajar setelah kembali ke sekolah masing-masing.

Growth Mindset: Kemauan Menentukan Kemampuan

Persoalan administrasi atau ketiadaan insentif seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Guru perlu mengelola waktu dengan baik agar tanggung jawab mengembangkan diri berjalan seiring dengan tugas mendidik murid.

Apalagi, kesempatan belajar kini semakin terbuka. Pemerintah terus menghadirkan berbagai platform dan program pengembangan kompetensi. Tinggal satu pertanyaannya: apakah kita benar-benar ingin bertumbuh?

Ketika kemauan belajar tinggi, kemampuan mengajar pun akan ikut meningkat.

Tentu tidak semua guru memiliki persoalan motivasi. Masih banyak guru yang terus belajar dengan penuh kesadaran. Mungkin jumlahnya belum sebanyak yang kita harapkan, tetapi merekalah yang menjadi harapan bagi perubahan pendidikan.

Semangat ini selaras dengan konsep Growth Mindset yang diperkenalkan Carol Dweck. Kemampuan bukan sesuatu yang tetap. Setiap orang dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan kemauan untuk terus belajar.

Karena itu, guru seharusnya belajar bukan karena diperintah atasan, melainkan karena menyadari bahwa murid berhak mendapatkan versi terbaik dari dirinya.

Guru juga harus siap menghadapi perkembangan zaman. Ketika murid hidup di tengah derasnya arus teknologi, guru tidak boleh tertinggal. Guru harus hadir sebagai pembimbing yang membantu murid memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Dalam tugas ini, guru dan orang tua perlu berjalan beriringan agar pendidikan di rumah dan di sekolah saling menguatkan.

Komitmen Menjadi Guru Pembelajar

Sudah saatnya kita meninggalkan budaya “asal hadir”, “sekadar menggugurkan kewajiban”, atau merasa cukup hanya karena pekerjaan selesai.

Sungguh menyedihkan jika ada guru yang tidak mengenal muridnya sendiri, tidak memahami kebutuhan mereka, bahkan kesulitan menjelaskan pekerjaannya karena hatinya tidak lagi berada di ruang kelas.

Guru sejati bukan hanya mengajar mata pelajaran. Guru menghadirkan ruang belajar yang hidup, menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun karakter, serta mendampingi murid menemukan masa depannya.

Mari terus belajar agar Tuhan memakai hidup kita semakin maksimal dalam mendidik. Langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini mungkin tampak sederhana, tetapi kelak bisa menjadi perubahan besar bagi kehidupan murid-murid kita.

Guru yang berhenti belajar akan perlahan kehilangan pengaruhnya. Sebaliknya, guru yang terus belajar akan selalu menemukan cara baru untuk menyalakan semangat belajar murid.

Pada akhirnya, menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan. Panggilan untuk terus bertumbuh, terus melayani, dan terus memberi teladan.

Sebab guru sejati adalah pribadi yang layak digugu karena integritasnya, dan layak ditiru karena kehidupannya.

Penulis adalah seorang guru di Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *