Oleh: Rospide Sinaga, S.Pd
“Panggilan adalah titik temu antara siapa diri kita dan apa yang dibutuhkan dunia.”
Kalimat Gordon T. Smith itu baru benar-benar saya pahami setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai guru. Dulu, saya mengira menjadi guru hanyalah salah satu pilihan profesi. Kini saya menyadari, menjadi guru adalah sebuah perjalanan panjang untuk menemukan siapa diri saya sesungguhnya.
Perjalanan itu tidak dimulai dengan keyakinan, melainkan dengan kekecewaan.
Selepas SMA, saya diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Namun, impian itu kandas karena keterbatasan biaya dan berbagai keadaan yang tidak memungkinkan. Saat teman-teman mulai menata masa depan di kampus impian mereka, saya harus menerima kenyataan bahwa rencana hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dengan hati yang masih dipenuhi kecewa, saya memilih melanjutkan studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Pematangsiantar. Saat itu, saya tidak benar-benar tahu apakah kelak akan menjadi guru. Saya hanya berusaha menerima kenyataan bahwa inilah jalan yang terbuka di depan saya.
Empat tahun kemudian, saya lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Namun, ijazah ternyata tidak otomatis menghadirkan keyakinan. Sebaliknya, ia justru melahirkan pertanyaan baru.
Apakah saya sungguh mampu menjadi guru?
Ketakutan terbesar saya bukanlah mengajar materi pelajaran. Saya takut berdiri di depan banyak orang. Saya takut tidak mampu memahami anak-anak yang masing-masing memiliki karakter, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda.
Jawaban atas kegelisahan itu ternyata tidak saya temukan di bangku kuliah.
Saya menemukannya di sebuah pondok belajar sederhana bernama Sopo Na Met-Met.
Di tempat itulah saya pertama kali benar-benar belajar menjadi guru. Bukan hanya mengajarkan huruf dan angka, melainkan belajar hadir bagi anak-anak. Saya bertemu mereka yang datang dari berbagai latar belakang kehidupan. Kami belajar, bermain, bernyanyi, memasak, membuat berbagai karya, hingga sekadar mendengarkan cerita mereka.
Di sanalah saya memahami bahwa seorang guru tidak selalu hadir untuk memberi jawaban. Kadang-kadang, ia hanya perlu hadir dan mendengarkan.

Saya masih mengingat bagaimana beberapa anak sudah datang lebih awal sebelum kegiatan dimulai. Mereka duduk menunggu dengan wajah penuh harap. Kehadiran mereka diam-diam mengalahkan semua rasa takut yang selama ini saya pelihara.
Anak-anak itu tidak pernah tahu bahwa sebenarnya merekalah yang sedang mengajar saya.
Mereka mengajarkan kesabaran ketika sulit diatur. Mereka mengajarkan ketulusan ketika menyambut kami dengan senyum paling sederhana. Mereka juga mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan, melainkan membangun relasi yang membuat seorang anak merasa dihargai.
Lima tahun saya bertumbuh di ruang belajar itu.
Suatu hari, seorang rekan mengajar bercerita tentang kehidupannya sebagai guru di sekolah formal. Ia berbicara tentang kurikulum, administrasi, target pembelajaran, dan berbagai aturan yang harus dipenuhi. Pengalamannya sangat berbeda dengan kehidupan kami di pondok belajar yang lebih banyak berbicara tentang hati, kepedulian, dan proses menemani anak-anak.
Percakapan itu membuat saya berpikir.
Apakah panggilan yang sedang saya jalani hanya berhenti di pondok belajar? Ataukah saya harus melangkah ke ruang yang lebih luas?
Pertanyaan itu akhirnya membawa saya memasuki dunia sekolah formal.
Pada Februari 2020, saya resmi menjadi guru di SD Swasta GKPS Sibarou, Kabupaten Simalungun. Lingkungan baru itu menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda. Saya tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar mengelola kelas, memenuhi administrasi, memahami kurikulum, berkolaborasi dengan rekan sejawat, sekaligus tetap menjaga agar setiap anak merasa diperhatikan.
Di ruang kelas itulah saya semakin memahami bahwa tidak ada murid yang benar-benar sama.
Saya pernah mendampingi seorang anak yang mengalami disgrafia. Tulisan tangannya sulit dibaca, jarak antarhuruf tidak beraturan, bahkan menuangkan gagasan di atas kertas menjadi pekerjaan yang melelahkan baginya. Saat jam istirahat, kami berlatih bersama melalui permainan sederhana untuk melatih koordinasi motorik dan konsentrasinya.
Saya juga pernah membagi siswa menjadi kelompok pembaca pemula dan pembaca lanjutan agar setiap anak belajar sesuai kebutuhannya. Sebagian masih mengeja suku kata. Sebagian lain sudah saya ajak berdiskusi tentang isi bacaan.
Pengalaman-pengalaman kecil itu mengubah cara pandang saya.
Guru yang baik bukanlah guru yang mampu menyampaikan materi sebanyak-banyaknya. Guru yang baik adalah guru yang mau mengenali siapa anak yang sedang duduk di hadapannya.
Kesadaran itu membuat saya tidak pernah berhenti belajar.
Saya mengikuti berbagai pelatihan, bergabung dalam komunitas belajar guru, dan terus memperbarui pengetahuan. Sebab, dunia pendidikan berubah begitu cepat. Guru tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman. Ia juga dituntut terus bertumbuh agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Tentu saja perjalanan ini tidak selalu mudah.
Ada hari-hari ketika administrasi terasa menumpuk, energi terkuras, kurikulum berubah, teknologi berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita beradaptasi, sementara perhatian anak-anak semakin mudah terpecah oleh gawai dan media sosial.
Dalam situasi seperti itu, saya sering bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya masih bertahan?
Jawabannya selalu sama.
Karena setiap kali melihat seorang anak yang semula tidak percaya diri akhirnya berani tampil di depan kelas, setiap kali seorang murid yang kesulitan membaca mulai menikmati buku, atau ketika seorang anak datang sambil berkata, “Bu Guru, saya sudah bisa,” semua kelelahan itu seakan menemukan maknanya.
Kini saya telah berpindah ke sekolah yang baru. Tantangannya berbeda. Jaraknya lebih jauh. Lingkungannya pun tidak sama. Namun, saya menyadari bahwa yang berpindah hanyalah tempat mengajar, bukan panggilannya.
Sopo Na Met-Met memang sudah tidak ada. Pondok belajarnya telah tutup. Namun, saya percaya, rumah itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat—ke dalam hati orang-orang yang pernah dibentuk olehnya.
Begitu pula setiap sekolah tempat saya pernah mengabdi. Yang saya bawa bukan sekadar kenangan, melainkan cara memandang anak, cara memandang pendidikan, dan cara memandang diri saya sendiri sebagai seorang guru.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa panggilan tidak selalu datang sebagai suara yang lantang. Kadang ia hadir pelan-pelan, melalui kegagalan, perjumpaan, keraguan, bahkan kelelahan yang terus kita jalani dengan setia.
Saya pernah kecewa karena tidak dapat berkuliah di kampus impian. Namun, hari ini saya bersyukur, sebab jalan yang semula saya anggap sebagai pilihan kedua justru mempertemukan saya dengan panggilan hidup yang sesungguhnya.
Barangkali memang begitulah cara Tuhan bekerja. Ia tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita inginkan, tetapi selalu menuntun kita menuju tempat di mana hidup kita paling berarti.
Penulis adalah Guru SD Negeri 091265 Dolok Malela, Kabupaten Simalungun.