MEDAN, BONARINEWS – Chandra Kumala School menggelar Seminar Sekolah Inklusi bertajuk “Mendidik dengan Hati, Menginspirasi dengan Aksi” sebagai upaya memperkuat komitmen mewujudkan pendidikan yang ramah, adil, dan berkualitas bagi seluruh peserta didik. Kegiatan yang diikuti seluruh guru di lingkungan Chandra Kumala School itu berlangsung di Medan, Jumat, 10 Juli 2026.
Seminar menghadirkan Kepala SLB E Negeri Pembina Provinsi Sumatera Utara, Mardi Panjaitan, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber. Praktisi pendidikan khusus yang dikenal dengan julukan “Guru di Atas Garis” tersebut mengajak para pendidik membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman serta memberikan kesempatan belajar yang setara bagi setiap anak.
Dalam pemaparannya, Mardi menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, melainkan perubahan cara pandang bahwa setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan memperoleh layanan pendidikan sesuai kebutuhannya.
“Sekolah yang hebat bukan sekolah yang hanya menerima anak-anak yang mudah diajar, tetapi sekolah yang mampu menghadirkan ruang belajar bagi setiap anak tanpa diskriminasi,” kata Mardi.
Materi seminar mencakup konsep dasar pendidikan inklusif, filosofi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, karakteristik anak berkebutuhan khusus, tantangan penerapan sekolah inklusi di Indonesia, hingga strategi membangun lingkungan belajar yang ramah bagi seluruh siswa. Para peserta juga diajak memahami pentingnya kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif.
Selain membahas teori dan regulasi, Mardi turut membagikan pengalaman selama memimpin SLB E Negeri Pembina Provinsi Sumatera Utara. Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki potensi yang dapat berkembang apabila memperoleh kesempatan, dukungan, dan lingkungan belajar yang tepat.
Seminar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang membahas berbagai tantangan dalam proses pembelajaran, mulai dari identifikasi kebutuhan belajar peserta didik hingga penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi di kelas inklusif.
Melalui kegiatan tersebut, Chandra Kumala School berharap seluruh tenaga pendidik semakin siap mengembangkan budaya sekolah yang menghargai keberagaman, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan pembelajaran yang adaptif dan berpihak kepada setiap peserta didik. Langkah itu merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menumbuhkan karakter, empati, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Menutup seminar, Mardi mengajak seluruh guru untuk terus mengedepankan nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan. Menurut dia, setiap anak memiliki keistimewaan yang harus didukung melalui dedikasi dan ketulusan para pendidik dalam mengajar.
Penulis: Lindung Silaban