GUNUNGSITOLI, BONARINEWS — Menjelang 81 tahun Indonesia merdeka, mahasiswa memilih cara yang berbeda untuk merayakannya. Bukan upacara atau panggung hiburan, melainkan duduk bersama di tepi Pantai Hoya, Gunungsitoli, membicarakan demokrasi dan peran generasi muda.
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Komisariat Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Nias (FST UNIAS) GMKI Cabang Gunungsitoli menggelar “Angkringan Kebangsaan”. Diskusi yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIB itu menjadi ruang bagi kader dan mahasiswa untuk melihat kembali arti kemerdekaan dari sudut pandang generasi muda.
Tema yang diangkat adalah “Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Meneguhkan Semangat Kebangsaan dan Partisipasi Demokrasi Generasi Muda”.
Dua senior GMKI, Yastina Warasi dan Foteli Zega, hadir sebagai pemateri. Mereka membahas tantangan yang dihadapi generasi muda sekaligus pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam menjaga kehidupan demokrasi.
Pilihan tempat membuat diskusi berlangsung dengan suasana yang jauh dari kesan formal. Pantai menjadi latar, sementara mahasiswa berdialog mengenai persoalan bangsa. Namun kemasan santai itu tidak mengurangi substansi pembicaraan.
Sejumlah fungsionaris Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Gunungsitoli masa bakti 2025–2027 turut hadir, di antaranya Ketua Bidang Organisasi dan Komunikasi Elifidarius Lase, Sekretaris Fungsional Pendidikan Kader Juni Arman Zebua, Sekretaris Fungsional Ekonomi Kreatif Septi Noniat Zebua, dan Sekretaris Fungsional Aksi dan Pelayanan Tuhoni Lase.
Pengurus Komisariat FE dan FKIP serta anggota dan kader Komisariat FST UNIAS juga mengikuti diskusi tersebut.
Ketua Komisariat FST masa bakti 2026/2027, Monica Lesta Endang Yanti Laoli, mengatakan refleksi kemerdekaan seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Menurut dia, mahasiswa perlu keluar dari sikap apatis dan mengambil bagian dalam persoalan publik.
“Kegiatan ini membuktikan bahwa kader GMKI FST UNIAS memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masa depan demokrasi kita,” kata Monica.
Bagi mahasiswa sains dan teknologi, ia melanjutkan, kemampuan berpikir kritis tidak cukup digunakan di ruang akademik. Nalar tersebut juga perlu dibawa ke ruang publik untuk membaca persoalan dan mengawal arah pembangunan.
Diskusi kemudian berkembang melalui sesi tanya jawab antara kader, fungsionaris BPC, dan para pemateri. Gagasan tentang demokrasi, kepemudaan, dan masa depan daerah dibicarakan dalam suasana terbuka.
Di Pantai Hoya, perayaan kemerdekaan akhirnya mengambil bentuk yang lebih sederhana: mahasiswa duduk, bertanya, berbeda pandangan, lalu mencari gagasan bersama.
Sebab bagi generasi yang akan mengisi masa depan Indonesia, merawat kemerdekaan mungkin memang dimulai dari hal yang sederhana—tidak memilih diam ketika ada persoalan di depan mata.
Penulis: Alfa Christofer