Dengan Thrifting, Menyelamatkan Bumi

Bagikan Artikel

Oleh: Tiffany Trimahesa Panjaitan

Pemerintah belakangan ini gemar mengampanyekan efisiensi. Kata itu berulang kali muncul dalam pidato, kebijakan, hingga imbauan publik. Namun, efisiensi kerap dipersempit menjadi soal penghematan uang. Seolah-olah hemat identik dengan menahan belanja. Padahal, efisiensi juga bisa dimaknai sebagai upaya menekan dampak terhadap lingkungan.

Di titik ini, thrifting menemukan relevansinya.

Thrifting—membeli dan menggunakan pakaian bekas layak pakai—sering dipandang sekadar tren anak muda atau gaya hidup hemat. Padahal, praktik ini menyimpan dimensi ekologis yang jarang dibicarakan secara serius. Ia bukan sekadar pilihan gaya, melainkan bentuk perlawanan kecil terhadap industri yang rakus sumber daya: fast fashion.

Sejumlah riset menunjukkan betapa mahalnya harga lingkungan dari sepotong pakaian baru. Laporan Greenpeace mencatat industri fesyen menyumbang sekitar 20 persen limbah air global. Produksi satu kaos katun saja bisa menghabiskan hingga 2.700 liter air. Studi lain menyebut industri ini berkontribusi sekitar 10 persen terhadap emisi karbon dunia.

Angka-angka itu menyiratkan satu hal: setiap pakaian baru memiliki jejak ekologis yang panjang.

Di sinilah thrifting bekerja dengan cara yang sederhana tapi berdampak. Dengan memperpanjang usia pakai pakaian, kita secara tidak langsung menekan permintaan produksi baru. Artinya, ada air yang tidak jadi terpakai, ada emisi yang tidak jadi dilepaskan. Pilihan personal berubah menjadi tindakan kolektif yang signifikan.

Efeknya tak berhenti pada lingkungan. Thrifting juga membuka ruang ekonomi bagi pelaku usaha kecil, terutama di pasar-pasar tradisional. Lapak-lapak pakaian bekas yang sering dipandang sebelah mata justru menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Dalam skala tertentu, perputaran uang di sektor ini lebih merata dibandingkan keuntungan yang terkonsentrasi pada korporasi besar industri fesyen.

Bagi sebagian orang, termasuk saya, thrifting bahkan menghadirkan sensasi tersendiri. Ada kepuasan saat menemukan barang unik di antara tumpukan pakaian. Ada adrenalin kecil ketika berebut dalam siaran langsung penjualan daring, mengetik cepat kode barang sebelum didahului pembeli lain. Pengalaman itu tak bisa ditemukan di rak toko yang seragam.

Lebih dari itu, kualitas pakaian thrift kerap justru lebih baik. Tidak sedikit produk lama yang menggunakan bahan katun atau rajut yang lebih nyaman dan menyerap keringat. Bandingkan dengan sebagian pakaian baru berbahan polyester yang kini marak dijual. Selain kurang nyaman, bahan ini juga berkontribusi pada pencemaran mikroplastik saat dicuci.

Tentu, thrifting bukan tanpa risiko. Kebersihan menjadi syarat mutlak. Pakaian bekas yang tidak dicuci dengan benar dapat menjadi medium penularan penyakit kulit. Kasus infeksi seperti moluskum kontagiosum pernah dilaporkan terjadi akibat penggunaan pakaian thrift tanpa proses pembersihan yang memadai. Di titik ini, kesadaran dan kehati-hatian menjadi kunci.

Selain itu, semangat thrifting juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi konsumsi berlebihan dalam bentuk baru—over-thrifting. Membeli banyak barang hanya karena murah tetap saja bertentangan dengan prinsip efisiensi yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, thrifting menawarkan pelajaran sederhana: menyelamatkan bumi tidak selalu membutuhkan langkah besar. Ia bisa dimulai dari keputusan kecil—memilih untuk tidak membeli yang baru, dan memberi umur kedua pada yang lama.

Barangkali, di tengah riuhnya kampanye efisiensi, inilah makna yang kerap terlewat. (*)

Penulis adalah mahasiswa Prodi S1 Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *