Industri Tekstil Indonesia Dipaksa Berubah BRIN Dorong Ekonomi Sirkular demi Tembus Pasar Global

Bagikan Artikel

Jakarta, Bonarinews.com – Transformasi besar tengah didorong di sektor industri tekstil nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional menegaskan pentingnya peralihan ke ekonomi sirkular sebagai kunci meningkatkan daya saing global sekaligus menjawab tantangan lingkungan.

Hal ini disampaikan oleh Agus Eko Nugroho dalam pelatihan konsep ekonomi sirkular dan penilaian daur hidup yang digelar di Kawasan Sains dan Teknologi Sarwono Prawiroharjo, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Menurutnya, pemahaman yang kuat, baik secara umum maupun teknis, menjadi faktor penting bagi pelaku industri dalam mengambil keputusan yang lebih berkelanjutan.

Program pelatihan ini merupakan bagian dari proyek InTex Indonesia yang diinisiasi United Nations Environment Programme dengan dukungan Pemerintah Denmark. Proyek ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk BRIN, Kementerian PPN Bappenas, Resilience Development Initiative, serta James Cook University.

Kolaborasi ini bertujuan mendorong transformasi industri tekstil menuju praktik berkelanjutan melalui pendekatan berbasis data dan standar internasional.

Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, Nizhar Marizi, menjelaskan bahwa proyek InTex Indonesia dirancang sebagai katalis percepatan ekonomi sirkular di sektor tekstil.

Ia menekankan bahwa penerapan metode Life Cycle Assessment menjadi penting untuk meningkatkan kesiapan industri dalam menghadapi tuntutan pasar global, terutama terkait transparansi dan keberlanjutan.

Indonesia sendiri telah menetapkan sektor tekstil sebagai prioritas dalam roadmap ekonomi sirkular nasional 2025 hingga 2045, mengingat tingginya konsumsi energi, penggunaan bahan kimia, serta produksi limbah di sektor ini.

Program InTex Indonesia akan berlangsung hingga 2027 dan menyasar sejumlah sentra industri tekstil, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya.

Sementara itu, perwakilan United Nations Environment Programme, Claudia Giacoveli, menilai sektor tekstil memiliki peran besar dalam ekonomi nasional, namun juga menghadapi tekanan untuk mengurangi dampak lingkungan.

Menurutnya, transisi ke ekonomi sirkular bukan hanya tuntutan lingkungan, tetapi juga peluang strategis untuk meningkatkan ketahanan dan daya saing global.

Dalam sesi materi, pakar internasional dari James Cook University, Adrian Kuah, menekankan pentingnya penerapan standar internasional ISO 59000 sebagai kerangka strategis transformasi industri.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar daur ulang, melainkan sistem yang menjaga nilai sumber daya tetap optimal melalui pendekatan menyeluruh, mulai dari desain produk, penggunaan ulang, hingga pemulihan energi.

Dengan pendekatan ini, industri tekstil Indonesia diharapkan mampu mengurangi limbah secara signifikan sekaligus memperkuat posisi di pasar global melalui praktik keberlanjutan yang terukur dan berstandar internasional. (Lindung Silaban)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *