Belum Tuntas Kasus Sebelumnya, 35 Siswa SMK di Karo Kembali Diduga Terdampak MBG

Bagikan Artikel

KARO BONARINEWS — Dugaan gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Sebanyak 35 siswa SMK Negeri 1 Merdeka, Kecamatan Merdeka, dibawa ke rumah sakit setelah mengeluhkan kondisi kesehatan usai menyantap MBG pada Senin, 14 September 2026.

Kejadian ini muncul ketika penanganan kasus serupa yang sebelumnya terjadi di Kabupaten Karo masih menjadi perhatian DPRD Karo.

Ketua DPRD Karo Iriani Br. Tarigan menyayangkan munculnya kembali kejadian tersebut. Sehari sebelum peristiwa terbaru, ia bersama delegasi DPRD Karo mendatangi Badan Gizi Nasional (BGN) di Jakarta untuk menyampaikan aspirasi orang tua dan meminta pembenahan pelaksanaan program MBG.

“Belum kering air mata orang tua dan anak-anak kita yang menjadi korban sebelumnya, sekarang sudah ada lagi kejadian seperti ini,” kata Iriani.

Menurut Iriani, keselamatan siswa harus menjadi prioritas. Pemerintah juga diminta segera menelusuri penyebab kejadian secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga pengawasan di sekolah.

Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Rapidin Simbolon meminta pemerintah pusat memberi perhatian serius terhadap kejadian terbaru tersebut. Ia menilai kemunculan kasus baru di wilayah yang sama harus menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pengawasan MBG.

“Pemerintah pusat harus melihat persoalan ini secara menyeluruh, bukan hanya menangani korban setelah kejadian, tetapi memastikan sistem pencegahannya benar-benar berjalan,” ujar Rapidin.

Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Sumut Sutrisno Pangaribuan juga mendesak evaluasi menyeluruh. Menurut dia, pemeriksaan harus mencakup dapur penyedia makanan, proses pengolahan, kebersihan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima siswa.

“Belum selesai satu persoalan, muncul persoalan berikutnya. Ini harus menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh sistem,” kata Sutrisno.

Hingga kini, penyebab keluhan kesehatan yang dialami para siswa belum dipastikan. Penanganan medis terhadap siswa dan pemeriksaan terhadap makanan menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *