DULU BELUM, SEKARANG SUDAH

Bagikan Artikel

Oleh: Nova Radisma

Tahun ini merupakan tahun kedua saya bertugas sebagai wali kelas I setelah lebih dari sepuluh tahun menjadi wali kelas VI. Perpindahan jenjang ini membuat saya kembali belajar memahami dunia anak-anak yang sedang berada pada masa transisi dari TK/PAUD menuju sekolah dasar. Bahkan, beberapa di antara mereka belum pernah merasakan pengalaman bersekolah sebelumnya.

Saya mendampingi 27 anak dengan karakter, kemampuan, dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Saya menyadari bahwa menjadi wali kelas I membutuhkan cara yang berbeda. Anak-anak tidak cukup hanya diberi tahu tentang aturan. Mereka perlu mengalami, melihat, mencoba, dan mendapatkan ruang untuk tumbuh.

Saat mengikuti WARDAH WIT GEN 8, saya berharap mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman baru yang dapat saya terapkan dalam pembelajaran. Saya menggunakan grup WhatsApp kelas sebagai sarana komunikasi dengan orang tua. Saya juga mengajak paguyuban kelas berdiskusi tentang kegiatan WARDAH WIT GEN 8. Alhamdulillah, orang tua memberikan dukungan dan motivasi. Mereka senang menjadi bagian dari perjalanan saya bersama anak-anak di WIT GEN 8.

DULU: ATURAN MASIH SEBATAS NASIHAT

Pada awal perjalanan bersama kelas I, saya menemukan beberapa hal yang menjadi keresahan saya sebagai pendidik.

Saat upacara hari Senin, masih banyak murid yang belum disiplin waktu dan belum mematuhi aturan. Di kantin sekolah, suasana sering riuh karena anak-anak belum terbiasa mengantre. Di dalam kelas, beberapa murid belum menunjukkan tanggung jawab terhadap tugas dan kesepakatan kelas. Keaktifan belajar juga belum terlihat merata.

Saya sering mengingatkan dan menasihati mereka. Namun, saya menyadari bahwa nasihat yang diberikan berulang kali belum tentu langsung menjadi kebiasaan.

Saya mulai bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana membuat anak-anak tidak hanya mengetahui aturan, tetapi memahami dan menjalankannya sebagai bagian dari tanggung jawab mereka?

Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya mencoba sesuatu yang berbeda.

SEBUAH KEJADIAN YANG MEMBUAT SAYA SEMAKIN PEDULI

Setiap memasuki kelas saya selalu menyapa anak-anak dengan penuh semangat.

“Selamat pagi, kesayangan Ibu.”

Mereka menjawab, “Selamat pagi, Ibu Guru.”

Bahkan sesekali ada yang menambahkan, “Selamat pagi, Ibu Guru cantik.”

Jawaban sederhana itu selalu membuat hati saya bahagia.

Namun, suatu hari kegiatan belajar kembali terganggu karena tercium aroma tidak sedap dari dalam kelas. Kejadian itu bukan pertama kali. Anak-anak langsung mencurigai Indra.

“Indra buang air besar, Bu. Bau sekali, Bu.”

Saya segera menghampiri Indra dan bertanya dengan lembut, “Indra, anak kesayangan Ibu Guru, kamu buang air besar di kelas, ya?”

Seperti biasanya, Indra hanya merespons dengan anggukan atau gelengan kepala.

Mama Indra selalu menunggu di sekitar sekolah dan bertanggung jawab membersihkan kelas. Saya bersyukur anak-anak sudah terbiasa untuk tidak membully Indra. Mereka tetap mau bermain bersamanya sehingga Indra tidak merasa minder.

Saya kemudian memberikan perhatian khusus kepada Indra. Saya berusaha menasihati dan mengajaknya berbicara agar ia merasa nyaman saat berkomunikasi. Namun, membangun komunikasi dengan Indra tidak mudah.

Dari situ saya semakin memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda. Saya tidak ingin hanya melihat perilaku yang muncul di permukaan. Saya ingin mencari cara agar anak merasa aman, diterima, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

AKSI: “AKU PATUH PADA ATURAN”

Saya kemudian memilih melaksanakan projek “AKU PATUH PADA ATURAN”.

Saya ingin anak-anak tidak hanya mendengarkan aturan dari guru, tetapi menemukan aturan melalui pengalaman mereka sendiri.

Projek berlangsung selama satu bulan dan dilakukan di sekolah maupun di rumah.

Pada minggu pertama, murid melakukan pengamatan dan observasi di kelas, kantin, lapangan sekolah, bahkan ketika upacara. Mereka mengamati perilaku yang sudah sesuai dengan aturan maupun yang belum sesuai.

Mereka menemukan berbagai hal. Saat upacara, misalnya, masih ada murid yang tidak menggunakan dasi dan topi.

Inur kemudian berkata,

“Ibu Guru, Kakak sudah beli topi. Upacara nanti Kakak tidak dibariskan lagi bersama murid yang tidak mematuhi aturan.”

Saya tersenyum mendengar perkataan itu. Anak-anak mulai melihat aturan bukan hanya sebagai perintah guru, tetapi sebagai sesuatu yang dapat mereka amati dan pahami.

Pada tahap berikutnya, murid mengelompokkan aturan yang berlaku di sekolah dan di rumah. Mereka menuliskannya pada daun-daun pohon aturan. Mereka juga mencari gambar dari berbagai media tentang sikap mematuhi aturan di rumah maupun di sekolah.

Dari rumah, anak-anak membawa alat dan bahan yang dibutuhkan. Orang tua ikut mendampingi dan mengirimkan laporan kegiatan melalui grup WhatsApp.

Saya melihat antusiasme yang berbeda dari anak-anak.

“Ibu Guru, ini ditempelkan di sini, ya?” tanya Nana sambil menunjukkan hasil guntingan daun pohon aturan.

“Ibu Guru, batang pohonnya boleh dikasih warna, nggak?” tanya Azzam yang sebelumnya sering tidak menyelesaikan tugas.

Di tengah kegiatan, Indra menghampiri saya sambil membawa karton bergambar pohon.

Saya tersenyum dan bertanya, “Siapa yang membuat gambarnya, sayang?”

“Saya dan Mamak, Bu,” jawabnya pelan.

Jawaban sederhana itu membuat saya bahagia. Indra mulai menunjukkan keberanian untuk berkomunikasi.

SETIAP ANAK MENDAPATKAN TEMPAT

Pelaksanaan projek tidak selalu mudah.

Kemampuan 27 anak di kelas saya berbeda-beda. Masih ada murid yang belum bisa membaca dan menulis. Kemampuan berkomunikasi dan tampil di depan kelas juga belum merata. Tidak semua orang tua tergabung dalam grup WhatsApp. Selain itu, PjBL bersama WARDAH merupakan pengalaman pertama saya melaksanakan pembelajaran projek di kelas I.

Saya belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk membuat anak tertinggal dari proses.

Murid yang belum mampu membaca dan menulis tetap dapat terlibat melalui kegiatan menggambar, menggunting, mewarnai, menempel, mengamati, dan menyampaikan pendapat secara lisan. Mereka bekerja dalam kelompok dan saling membantu.

Saya pun belajar untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa seorang anak “tidak mampu” hanya karena ia belum menunjukkan kemampuan tersebut pada awal kegiatan.

Ternyata ketika diberi kesempatan, mereka mampu menunjukkan hal-hal yang sebelumnya tidak saya duga.

MOMEN PERUBAHAN

Setelah pelaksanaan projek, saya mulai melihat perubahan kecil yang sangat berarti.

Indra yang sebelumnya sulit berkomunikasi mulai berani berbicara. Ia bahkan sudah mau meminta izin ketika ingin pergi ke kamar mandi.

Sejak itu, tidak ada lagi drama Indra buang air di dalam kelas.

Azzam yang sebelumnya sering tidak menyelesaikan tugas mulai mampu menyelesaikan tugasnya.

Alkhayri yang sebelumnya sering tidak menyelesaikan pekerjaan bahkan mulai mengajak teman kelompoknya bekerja bersama.

“Woi, cepat kasih warna pohonnya biar kita cepat siap.”

Saya tersenyum mendengarnya.

Ramadhan yang selalu ingin tampil ke depan kelas mulai menunjukkan keberanian. Bahkan ketika jawabannya belum tentu benar, ia tetap mau maju.

“Nanti awak ke depan, ya, Bu,” katanya dengan bangga sambil membawa hasil projek bersama teman-temannya.

Bagi saya, perubahan-perubahan kecil itu jauh lebih berarti daripada sekadar hasil karya yang selesai.

Saya melihat anak-anak mulai belajar bertanggung jawab, bekerja sama, berkomunikasi, dan percaya pada kemampuan dirinya.

DULU BELUM, SEKARANG SUDAH

Jika saya melihat kembali perjalanan mereka, perubahan itu terasa begitu nyata.

Indra.
Dulu belum berani berkomunikasi dan sulit menyampaikan kebutuhannya. Sekarang sudah mulai berbicara dan berani meminta izin ke kamar mandi.

Azzam.
Dulu sering tidak menyelesaikan tugas. Sekarang sudah mulai menyelesaikan tugas sampai tuntas.

Alkhayri.
Dulu sering tidak menyelesaikan pekerjaan. Sekarang sudah bersemangat mengajak teman kelompoknya menyelesaikan projek.

Ramadhan.
Dulu ingin tampil ke depan tetapi masih ragu. Sekarang sudah berani tampil dan tetap percaya diri meskipun mungkin melakukan kesalahan.

Perubahan mereka belum mencapai seratus persen. Namun, saya belajar bahwa perubahan tidak harus menunggu sempurna untuk dapat disebut sebagai kemajuan.

Momen perubahan itu ada.

Sebelum projek, ketika murid melanggar aturan, saya lebih banyak menasihati dan mengingatkan agar mereka tidak mengulanginya. Setelah projek, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Ketika ada murid yang melanggar aturan, teman-temannya mulai mengingatkan.

Aturan yang sebelumnya lebih banyak datang dari guru perlahan mulai menjadi kesadaran bersama.

DARI SEKOLAH KE RUMAH

Saya juga melihat bahwa pembiasaan tidak hanya terjadi di sekolah.

Salah satu orang tua, Iriana, mengirimkan video kegiatan Iriana ketika tiba di rumah sepulang sekolah.

Iriana mengucapkan salam ketika masuk rumah, menyalami opung yang menunggunya, meletakkan barang pada tempatnya, berganti pakaian, mencuci tangan dengan sabun, lalu beristirahat.

Video tersebut kemudian dibagikan melalui grup WhatsApp untuk memotivasi teman-teman yang lain agar mencontoh kebiasaan positif tersebut.

Bagi saya, keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dari proses ini. Anak-anak belajar bahwa aturan dan kebiasaan baik tidak hanya berlaku ketika berada di depan guru, tetapi juga ketika mereka berada di rumah.

PEMBIASAAN SETIAP HARI

Bagi saya, projek tidak boleh berhenti ketika hasil karya selesai.

Karena itu, setelah projek berakhir, pembiasaan untuk mematuhi aturan terus dilakukan setiap hari.

Saya terus mengingatkan dan menguatkan kesepakatan kelas dalam kegiatan sehari-hari. Anak-anak juga mulai belajar saling mengingatkan ketika ada teman yang belum mematuhi aturan.

Dengan demikian, aturan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan projek selama satu bulan, tetapi perlahan menjadi bagian dari kebiasaan mereka di kelas.

Saya menyadari bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses yang terus-menerus. Karena itu, pembiasaan menjadi langkah penting agar pengalaman yang mereka dapatkan dalam projek dapat tetap hidup dalam keseharian.

REFLEKSI: SAYA PUN BELAJAR

Saya belajar bahwa projek bukan hanya tentang menghasilkan sebuah karya berupa pohon aturan. Yang jauh lebih penting adalah proses ketika anak mengamati, bertanya, berdiskusi, bekerja sama, berani mencoba, dan akhirnya melihat perubahan pada dirinya sendiri.

Saya juga belajar bahwa setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda.

Ada anak yang berubah melalui keberanian berbicara. Ada yang tumbuh melalui kemampuan menyelesaikan tugas. Ada yang menemukan kepercayaan dirinya ketika diberi kesempatan tampil. Ada pula yang belajar bertanggung jawab dengan mengingatkan temannya.

Saya pun berubah.

Sebelum projek, ketika murid melanggar aturan, saya lebih banyak memberikan nasihat dan mengingatkan. Saya menyadari bahwa nasihat yang berulang belum tentu langsung menghasilkan kebiasaan.

Projek ini mengubah cara pandang saya. Anak-anak ternyata lebih mudah memahami aturan ketika mereka terlibat menemukan, mendiskusikan, membuat, mempraktikkan, dan saling mengingatkan.

Saya belajar:

Lakukan dahulu, hargai proses, lihat hasilnya. Jika gagal, ulangi kembali dengan cara yang berbeda, tetapi tetap dengan tujuan yang sama.

CERITA YANG TERUS BERLANJUT

Kini mereka sudah duduk di kelas II.

Ketika bertemu, mereka masih menyambut saya dengan pelukan hangat.

Mereka bertanya,

“Ibu Guru, kapan jadi guru kami lagi?”

“Ibu Guru saja yang ngajar kami.”

“Sama Bu Guru belajarnya asyik, kami suka.”

Pertanyaan dan pernyataan sederhana itu membuat hati saya haru.

Bagi seorang guru, ada kebanggaan tersendiri ketika melihat muridnya tumbuh. Namun, ada kebahagiaan yang lebih besar ketika kehadiran kita pernah membuat mereka merasa aman, percaya diri, dan senang belajar.

Pengalaman bersama WARDAH WIT GEN 8 semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil di dalam kelas.

Saya datang ke kelas I dengan membawa pengalaman lebih dari sepuluh tahun sebagai wali kelas VI. Namun, justru anak-anak kelas I yang kembali mengajarkan saya tentang kesabaran, keberanian mencoba, dan arti menghargai setiap proses.

Karena pada akhirnya, perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.

Kadang perubahan itu hadir ketika seorang anak yang dahulu diam mulai berani berbicara.

Ketika anak yang dahulu tidak menyelesaikan tugas mulai berkata, “Ayo kita selesaikan.”

Ketika anak yang dahulu ragu mulai berani berdiri di depan kelas.

Dan ketika teman-temannya mulai saling mengingatkan untuk berbuat baik.

Dulu belum. Sekarang sudah.

Bagi saya, itulah makna sebuah aksi perubahan: bukan tentang membuat semua anak berubah dalam satu waktu, tetapi tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi lebih baik.

Penulis adalah seorang guru yang mengabdi di UPT SDN 060968 Jalan Hiu Pajak Baru, Belawan.

One thought on “DULU BELUM, SEKARANG SUDAH

  1. Semoga kisah perubahan dari kelas I A menginspirasi rekan guru dan orang tua untuk terus berproses bersama anak.daru kelas untuk dampak yang nyata.Terima kasih bang dedi.sukses selalu untuk karir ABG In sya Allah aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *