PDIP Sumut Desak Penanganan Siswa MTsN 2 Kisaran, Jangan Ulangi Kasus Karo

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS — DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara meminta penanganan medis terhadap sekitar 30 siswa MTsN 2 Kisaran, Kabupaten Asahan, yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dilakukan secara cepat.

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Rapidin Simbolon mengatakan keselamatan siswa harus menjadi prioritas. Penyebab gangguan kesehatan, kata dia, tetap harus ditelusuri melalui pemeriksaan dan pengujian makanan.

“Kami sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa anak-anak kita di MTsN 2 Kisaran. Program Makan Bergizi Gratis tujuannya tentu untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak, bukan justru menimbulkan persoalan kesehatan,” kata Rapidin di Medan, Selasa, 15 September 2026.

Puluhan siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, pusing, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG pada Senin, 14 September 2026. Sejumlah siswa kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan. Polisi juga telah mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan.

Rapidin meminta pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan rumah sakit memastikan koordinasi penanganan berjalan baik. Menurut dia, keputusan rujukan harus didasarkan pada kondisi medis pasien, bukan pertimbangan administratif.

“Kita sudah punya pengalaman dari kasus serupa di Kabupaten Karo. Jangan sampai kasus seperti itu terulang lagi di Kabupaten Asahan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut Sutrisno Pangaribuan juga meminta proses rujukan tidak berlarut-larut. Jika berdasarkan penilaian dokter pasien membutuhkan fasilitas rumah sakit dengan kemampuan lebih lengkap, rujukan harus segera dilakukan.

“Kalau memang berdasarkan penilaian dokter membutuhkan rumah sakit tipe A, jangan lagi berhenti di rumah sakit tipe B seperti RS Haji. Langsung dirujuk ke RSUP H Adam Malik,” kata Sutrisno.

Selain penanganan medis, PDIP Sumut meminta pemerintah mengevaluasi seluruh proses penyediaan MBG, mulai dari pengolahan, distribusi hingga keamanan makanan. Evaluasi dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.

“Kita ingin program MBG berjalan dengan baik karena tujuan program ini sangat baik, tetapi keamanan dan keselamatan anak-anak harus menjadi hal yang tidak bisa ditawar,” kata Rapidin.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *