Wili Pulang Sebelum Sempat Menjalani Mimpinya

Bagikan Artikel

Wajah seorang ayah memenuhi layar ponsel. Rambutnya telah memutih. Matanya berkaca-kaca, seolah menahan haru ketika melihat wajah anak gadisnya di seberang panggilan video.

Di sudut kanan atas layar, tampak Wili Mbuik dalam jendela kecil. Ia beberapa kali menyeka air matanya dengan tisu.

Itulah potongan video call yang kini beredar. Tidak ada suara asli dalam rekaman tersebut. Namun, ekspresi keduanya cukup menggambarkan suasana ketika sebuah kabar baik sedang dirayakan: Wili baru saja lulus sebagai calon pegawai negeri sipil.

Bagi Wili dan keluarganya, menjadi aparatur sipil negara bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah buah dari perjuangan dan kebanggaan seorang anak kepada orangtuanya.

Wili Mbuik, perempuan kelahiran Mbaoen, 29 November 2001, mendapat kesempatan mengabdi sebagai CPNS di Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Ia berangkat dari Nusa Tenggara Timur menuju tanah rantau dengan membawa harapan. Ada pekerjaan yang hendak dimulai, pengabdian yang hendak dijalani, dan masa depan yang baru saja terbuka.

Namun, perjalanan itu tidak berlangsung lama.

Pada Rabu, 9 September 2026, Wili bersama rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya menjalankan tugas di wilayah Distrik Muliama. Dalam perjalanan, rombongan tersebut mengalami insiden penembakan.

Wili mengalami luka tembak. Ia sempat mendapat perawatan di RSUD Wamena, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Ia meninggal bersama dua anggota rombongan lainnya.

Keesokan harinya, Wili meninggalkan Wamena.

Bukan sebagai seorang CPNS yang pulang setelah menyelesaikan tugas pertamanya. Bukan pula dengan membawa cerita tentang hari-hari pertamanya mengabdi di tanah Papua.

Ia pulang dalam peti jenazah.

Di kampung halaman, keluarga yang sebelumnya menyambut kabar kelulusannya dengan air mata kebahagiaan kini harus menerima kepulangannya dalam suasana duka.

Video call itu pun berubah makna.

Wajah sang ayah yang memenuhi layar. Wili yang terlihat kecil di sudut kanan atas, berkali-kali mengusap air matanya. Dua orang yang saat itu sedang berbagi kebahagiaan atas sebuah pencapaian yang telah dinantikan.

Kini, rekaman itu menjadi kenangan yang sangat berarti bagi keluarga.

Di dalamnya, seorang ayah terlihat bangga kepada anaknya. Sementara Wili, di layar kecil itu, tampak berusaha menghapus air mata yang jatuh di tengah kebahagiaan.

Dalam waktu kurang dari dua bulan, kebahagiaan itu berubah menjadi kehilangan.

Wili belum sempat menjalani panjangnya masa pengabdian. Belum sempat membawa pulang banyak cerita tentang pekerjaannya. Belum sempat menjalani perjalanan panjang yang mungkin telah dibayangkan bersama keluarganya.

Perjalanan itu berhenti ketika baru saja dimulai.

Mungkin karena itulah video tersebut terasa begitu menyentuh. Tidak ada yang tampak seperti perpisahan di sana. Hanya seorang ayah yang bangga dan seorang anak yang sedang berbagi kebahagiaan.

Tak seorang pun dalam rekaman itu tahu bahwa momen sederhana tersebut kelak menjadi salah satu kenangan yang paling berharga bagi keluarga.

Wili telah pulang.

Terlalu cepat.

Bagi keluarganya, kebahagiaan yang pernah hadir di layar ponsel itu kini menjadi kenangan tentang seorang anak yang baru saja memulai langkahnya.

Selamat jalan, Wili Mbuik.

Semoga cinta dan kebanggaan keluarga yang pernah hadir dalam panggilan video itu tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang kenangan tentangmu.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *