Oleh: Rigop Darmiko
“Bukan kematian benar menusuk kalbu,
Keridlaan menerima segala tiba.
Tak kutahu setinggi itu atas debu,
Dan duka maha tuan bertahta.”
Saya kembali membaca puisi “Nisan” karya Chairil Anwar. Empat baris pendek, tetapi terasa berbeda ketika dibaca dari pengalaman kehilangan.
“Bukan kematian benar menusuk kalbu.”
Barangkali yang paling menyakitkan dari kematian bukan hanya saat seseorang pergi, melainkan kehidupan yang harus dijalani setelahnya.
Ada ruang yang tiba-tiba kosong. Ada kebiasaan yang tak lagi bisa dilakukan bersama. Ada kursi yang tetap berada di tempatnya, tetapi orang yang biasa duduk di sana tidak pernah kembali. Waktu terus berjalan, sementara sebagian diri kita seakan masih tertinggal bersama seseorang yang telah pergi.
Karena itu, duka cita bukan sekadar reaksi terhadap kematian. Duka adalah pengalaman emosional ketika seseorang berhadapan dengan kehilangan. Kita bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan bagian dari kehidupan yang selama ini dibangun bersamanya.
Itulah sebabnya duka tidak selalu dapat diselesaikan dengan kalimat, “Sudahlah, ikhlaskan saja.”
Ada sesuatu yang memang harus dialami.
Dalam perjalanan berduka, seseorang dapat mengalami berbagai respons. Ada yang menyangkal kenyataan, seolah orang yang telah pergi masih akan kembali. Ada yang dipenuhi pertanyaan dan penyesalan: seandainya waktu itu saya melakukan sesuatu, jika saja saya membawanya ke dokter lebih cepat, atau seandainya saya sempat mengatakan bahwa saya mengasihinya.
Kemarahan pun dapat muncul. Kepada keadaan, kepada diri sendiri, kepada orang lain, bahkan kepada Tuhan.
Setelah itu, kesedihan yang mendalam dapat membuat seseorang kehilangan semangat, menarik diri, atau merasa hidup tidak lagi memiliki warna. Namun, duka tidak memiliki jalan yang sama bagi setiap orang. Respons itu dapat datang bergantian, berulang, atau bahkan tidak dialami sama sekali.
Pada suatu titik, seseorang mungkin mulai menerima kenyataan. Penerimaan bukan berarti melupakan. Bukan pula berarti rasa kehilangan tiba-tiba menghilang. Penerimaan adalah ketika seseorang perlahan belajar menjalani kehidupan baru sambil membawa kenangan tentang orang yang telah pergi.
Masalahnya, kita sering tidak memberi cukup ruang bagi seseorang untuk berduka.
Ketika ia menangis, kita buru-buru berkata, “Jangan menangis.” Ketika ia marah, kita segera mengoreksinya. Ketika ia merasa hancur, kita sibuk menjelaskan mengapa semua itu terjadi.
Kita ingin menghibur. Namun, kadang-kadang, keinginan untuk segera menghibur justru membuat orang yang berduka merasa tidak memiliki izin untuk merasakan kesedihannya.
Padahal, duka tidak selalu membutuhkan penjelasan.
Kadang-kadang, duka hanya membutuhkan kehadiran.
Duduk bersamanya ketika ia menangis. Mendengarkan ketika ia ingin bercerita. Diam ketika tidak ada kata-kata yang cukup. Memberi ruang ketika ia sedang marah. Tetap hadir ketika proses berdukanya ternyata lebih panjang daripada yang kita bayangkan.
Orang yang berduka tidak membutuhkan seseorang yang memaksanya segera baik-baik saja. Ia membutuhkan seseorang yang melalui kehadirannya berkata, “Tidak apa-apa kalau hari ini kamu masih berduka. Aku akan menemanimu.”
Mungkin di situlah kita kembali memahami Chairil Anwar. Kematian datang pada satu waktu, tetapi duka memiliki waktunya sendiri.
Menghormati seseorang yang kehilangan bukan dengan memintanya segera berhenti berduka. Barangkali, yang lebih manusiawi adalah memberinya ruang untuk mengalami dukanya, sampai suatu hari ia mampu berkata kepada orang yang telah pergi:
Aku kehilanganmu.
Aku merindukanmu.
Tetapi aku akan belajar menjalani hidup ini tanpamu.
Penulis adalah konselor Kristen yang tinggal di Rantauprapat. Pertanyaan dan topik seputar perkembangan serta kepribadian psikologis manusia dapat disampaikan melalui kolom komentar atau email rigopsitorus@gmail.com. Topik yang dikirim melalui email akan dibahas tanpa menyebut identitas pengirim.