Angel Bukan Malaikat

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Orang-orang mengenal Angel sebagai gadis yang keras kepala.

Sebagian mengenalnya sebagai perempuan yang pemberani. Sebagian lagi mungkin akan memilih kata yang lebih buruk.

Tidak ada yang sepenuhnya salah.

Angel memang bukan malaikat.

Ia bisa tersenyum ketika orang lain ketakutan. Bisa mengucapkan ancaman dengan suara datar. Bisa berdiri di depan orang yang lebih tua, lebih kaya, dan lebih berkuasa tanpa menundukkan kepala.

Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan orang: manusia tidak selalu bisa dinilai dari wajahnya ketika sedang marah.


Ketika masih menyelesaikan tugas akhir di kampus, Angel bekerja mengajar di sebuah bimbingan belajar milik Tina.

Tina mempercayainya lebih daripada karyawan lain.

Angel tidak lagi perlu membayar kos. Tina memberinya sebuah kamar untuk tidur dan menyimpan barang-barangnya. Karena Angel dianggap pintar dan dapat dipercaya, ia lebih sering mendapat murid privat. Kadang-kadang Tina bahkan memberinya kunci mobil untuk mengantar anak-anak, berbelanja, atau menemani keperluannya.

Kepercayaan, kalau diberikan terlalu banyak kepada seseorang yang belum selesai mengenal dirinya sendiri, bisa berubah menjadi godaan.

Suatu hari Tina pergi ke luar negeri.

Angel memegang kunci mobil itu.

Awalnya ia hanya memanaskan mesin.

Lalu ia berpikir, mengapa tidak berkeliling sebentar?

Mobil bergerak meninggalkan rumah.

Satu putaran menjadi beberapa putaran.

Kota Medan terbentang di depan matanya.

Seorang rekan kerja melihatnya.

“Jangan dibawa ke mana-mana. Itu bukan mobilmu.”

Angel mengabaikannya.

Bahkan mobil itu sampai ke kampus.

Sore harinya, ketika mencoba mengembalikannya ke garasi, sebuah kesalahan kecil terjadi.

Bodi mobil bergesekan dengan gerbang.

Baret.

Angel memandang bekas gesekan itu lama.

Ia mencoba memperbaikinya sendiri.

Tangannya bekerja dengan peralatan seadanya. Tetapi menghilangkan baret mobil bukan perkara keberanian. Ada keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh nekat.

Bekasnya tetap ada.

Dan rahasia, seperti baret pada mobil, ternyata sulit disembunyikan.


Ketika Tina pulang, kemarahannya pecah.

Angel diminta mengganti kerugian.

Barang-barangnya dikeluarkan dari kamar.

Saat itu Angel sedang berada di rumah orang tuanya.

Tina memotret barang-barang yang telah dikeluarkan dan memintanya segera datang ke Medan.

Angel datang.

Ia meminta maaf.

Ia berjanji membayar.

Seribu ribu rupiah ia serahkan sebagai uang muka.

Setelah itu, ia kembali kos di sekitar kampus.

Namun janji berikutnya tidak pernah benar-benar datang.

Bagi Angel, biaya memperbaiki mobil itu terlalu mahal.

“Mungkin ada asuransinya,” katanya.

Kalimat pendek yang terdengar seperti pembelaan.

Padahal mungkin yang sedang ia lakukan adalah melarikan diri dari kesalahan.


Suatu hari, Tina berhasil menemukannya.

Angel sedang bersepeda.

Sebuah mobil berhenti.

Rekan kerja lamanya turun.

Perdebatan terjadi di pinggir jalan.

Angel kembali berjanji.

Tetapi ketika ia sedang berbicara dengan Tina, rekan kerjanya mengambil sepeda Angel dan menggowesnya pergi.

“Woi!”

Angel mengejar.

Ia mengayuh sekuat tenaga.

Tidak berhasil.

Ia kemudian menghentikan seorang pemuda yang kebetulan lewat dengan sepeda motor.

“Kejar itu, Bang!”

Pemuda itu menoleh.

“Sepedaku.”

Mereka mengejar.

Angel menunjuk sepeda yang dibawa rekan kerjanya.

“Pulangkan itu! Bapakku yang ngasih!”

Ketika sepeda itu berhasil dihentikan, Angel kehilangan kendali atas kemarahannya.

“Kalau nggak kau pulangkan, kutusuk kau!”

Ia bahkan meminta pisau kepada pemuda yang memboncengnya.

Padahal tidak ada pisau.

Tidak pada Angel.

Tidak pula pada pemuda itu.

Yang ada hanya amarah.

Dan kadang-kadang, amarah yang besar sudah cukup membuat orang percaya bahwa seseorang mampu melakukan apa saja.

Angel mendapatkan sepedanya kembali.

Ia lalu mengayuh masuk ke gang-gang sempit.

Semakin jauh.

Semakin kecil jalan yang dilewatinya.

Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah rumah.

Wajahnya lelah.

Tuan rumah mempersilahkannya masuk.

Di sana ada dua tamu lain.

Salah satunya seorang dosen dari kampus Angel.

Mereka mendengar ceritanya.

“Pulang saja,” kata mereka.

“Kampus itu tempatmu. Dia tidak akan berani macam-macam di sana.”

Angel pulang.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya kepada keluarganya.

Dan keluarganya tidak membelanya.

Mereka justru memarahinya.

“Kau yang salah. Kau harus bertanggung jawab.”

Barangkali itulah kalimat yang paling dibutuhkan Angel saat itu.

Bukan pembelaan.

Bukan orang yang mengatakan bahwa ia benar.

Melainkan seseorang yang berani mengatakan:

Kau salah. Hadapi.


Angel kembali ke rumah Tina.

Di sebuah ruangan, kedua tangannya dipegang oleh karyawan Tina.

“Lepaskan.”

Suami Tina terus memarahinya dalam bahasa Inggris.

Kata-kata keras berjatuhan seperti benda tajam.

Angel meminta berbicara berdua dengan Tina.

Akhirnya mereka tinggal berdua.

Tina mendekat.

Tangannya menyentuh leher Angel.

Tubuh Angel didorong ke dinding.

“Kau menyalahgunakan kepercayaan yang kuberikan,” kata Tina. “Karena kau, aku dan suamiku bertengkar. Ganti kerugiannya. Kalau tidak, kau akan berurusan dengan masalah yang lebih besar.”

Angel menatap mata Tina.

Anehnya, ia tersenyum.

“Kau pikir aku takut sama kau?”

Ia berhenti sebentar.

“Kau pun bisa kubunuh.”

Tina melepaskan tangannya.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang.

Tidak ada yang tahu apakah Angel sungguh-sungguh.

Mungkin ia sendiri tidak tahu.

Yang pasti, Tina melihat sesuatu di mata Angel yang membuat tangannya berhenti.

“Bila kau bisa bayar?”

“Minggu depan.”

Angel pergi.

Ia mengayuh sepeda pulang dengan dada penuh sesuatu yang sulit disebut bangga.

Bukan karena ia menang.

Tetapi karena ia melihat ketakutan di wajah orang yang tadi menekannya.

Manusia kadang memiliki kemenangan yang aneh.

Ia bisa merasa menang hanya karena orang lain takut kepadanya.


Seminggu kemudian Angel datang lagi.

“Aku tidak punya uang.”

Ia mengeluarkan telepon genggamnya.

“Tapi ini bisa kau ambil.”

Tina menerimanya.

Selesai.

Itulah pertemuan terakhir mereka.

Tidak ada perdamaian yang dramatis.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada permintaan maaf yang sempurna.

Hanya sebuah telepon genggam yang berpindah tangan dan sebuah hubungan yang berakhir.


Angel kemudian wisuda.

Di rumahnya diadakan syukuran.

Ada makanan.

Ada musik keras.

Ada orang-orang yang tertawa dan berjoget.

Tina tidak diundang.

Namun mereka masih bisa melihat status WhatsApp satu sama lain.

Kadang-kadang seseorang memang sudah tidak berada dalam hidup kita, tetapi masih meninggalkan bayangan di layar ponsel.


Setelah wisuda, Angel membuka bimbingan belajar sendiri.

Persis seperti tempat ia dulu bekerja.

Ia tinggal sendirian di sebuah rumah yang sebenarnya dulu hanya digunakan keluarganya sebagai tempat singgah.

Lokasinya strategis.

Dekat pom bensin, apotek, toko-toko, dan jalan utama.

Orang tuanya pernah ingin mengontrakkan rumah itu.

Angel menolak.

“Aku yang akan tinggal di sini.”

Rumah itu punya cerita sendiri.

Ketika Angel masih mahasiswa, rumah tersebut kosong.

Lalu muncul rumor bahwa rumah itu berhantu.

Anak-anak tidak berani melewatinya ketika Magrib.

Malam hari, rumah itu semakin ditakuti.

Bahkan maling seolah sepakat bahwa rumah kosong itu bukan tempat yang layak dicoba.

Kemudian Angel tinggal di sana seorang diri.

Rumah yang dulu dianggap menyeramkan perlahan hidup kembali.

Anak-anak datang belajar.

Buku-buku memenuhi ruangan.

Suara mereka menggantikan kesunyian.

Tetapi gangguan juga datang.

Suatu malam Angel mendengar suara obeng mengutak-atik jerajak pintu.

Ia berjalan perlahan.

Membuka tirai.

Seorang manusia terlihat menjauh dengan langkah cepat.

Angel tidak mengejar.

Malam berikutnya, ia justru membuka jerajak itu lebar-lebar.

Seolah berkata kepada dunia:

Kalau memang mau masuk, masuklah.

Ketika tidur, ia tidak menyalakan lampu.

Rumah itu gelap.

Dan di dalam gelap, Angel merasa nyaman.

Ia seperti menyerahkan dirinya kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Kadang-kadang ia terbangun hanya karena merasa rumah itu kedatangan seseorang.

Entah benar.

Entah hanya nalurinya.


Tetangganya punya kebiasaan lain.

Musik keras.

Dari Magrib sampai larut malam.

Suatu malam Angel keluar membawa parang.

Ia berdiri di depan rumah tetangganya.

“Bisa tolong dimatikan musiknya? Sudah malam.”

Musik berhenti.

Namun perang kecil belum selesai.

Ketika anak-anak sedang belajar di rumah Angel, tetangganya beberapa kali sengaja menggeber motor dan membunyikan klakson panjang di depan rumah.

Angel diam.

Ia tidak membalas.

Tidak hari itu.

Setelah anak-anak pulang, Angel mendatangi rumah tetangganya.

Ia berdiri di depan rumah itu.

Lalu menggeber motornya.

Panjang.

Keras.

Seolah motornya sedang membuka bengkel di tengah malam.

Kemudian klakson dibunyikan terus-menerus, seperti tombolnya rusak.

Sejak hari itu, tidak ada lagi suara motor dan klakson ketika anak-anak belajar.

Angel mungkin bukan orang yang paling bijaksana.

Tetapi ia tahu satu hal:

Jika seseorang memilih mengganggunya, ia akan mencari cara untuk membuat orang itu mengerti bagaimana rasanya diganggu.


Tahun-tahun berlalu.

Suatu hari Angel jatuh sakit.

Pemeriksaan menunjukkan adanya penyempitan arteri.

Ia diminta mengurangi kelelahan dan menjaga makanan.

Di rumah sakit, Angel berbaring di ruangan yang hanya berisi dua pasien.

Ia memandang langit-langit.

Kemudian bercerita tentang darahnya.

“Golongan darahku sangat langka,” katanya. “Rh-null. Darah emas.”

Ia menjelaskan bahwa darah itu amat jarang dan memiliki karakteristik yang membuat transfusi kepadanya menjadi persoalan serius.

Lalu ada ironi yang hanya bisa dimiliki oleh hidup.

Angel sendiri adalah pendonor darah.

Selama tubuhnya dinyatakan sehat dan memenuhi syarat, ia bersedia memberikan darahnya.

Ia tidak pernah bertanya siapa penerimanya.

Orang baik?

Boleh.

Orang jahat?

Boleh.

Orang kaya?

Boleh.

Orang miskin?

Boleh.

Baginya, darah tidak mengenal reputasi.

Ketika seseorang kehilangan darah, yang dibutuhkan bukan penilaian.

Yang dibutuhkan adalah kehidupan.


Mungkin itulah sebabnya kisah Angel tidak pernah bisa selesai hanya dengan menyebutnya baik atau buruk.

Ia pernah menyalahgunakan kepercayaan.

Pernah membawa mobil yang bukan miliknya.

Pernah menghindari tanggung jawab.

Pernah mengancam orang.

Pernah berdiri dengan amarah sedemikian besar hingga orang lain melihatnya seperti seorang pembunuh.

Tetapi ia tidak pernah membunuh manusia.

Sebaliknya, ketika memiliki sesuatu yang paling berharga—darahnya—ia memberikannya kepada orang yang bahkan tidak dikenalnya.

Tanpa bertanya orang itu siapa.

Tanpa bertanya apakah orang itu pantas.

Tanpa meminta mereka menjadi baik terlebih dahulu.

Mungkin manusia memang tidak pernah sesederhana malaikat dan monster.

Kita bisa melukai seseorang pada pagi hari dan menolong orang lain pada sore harinya.

Kita bisa menjadi buruk dalam satu perkara dan menjadi sangat baik dalam perkara lain.

Angel adalah manusia semacam itu.

Ia bukan malaikat.

Ia juga bukan monster.

Ia hanya seseorang yang kadang-kadang tidak mampu mengendalikan amarahnya, tetapi masih tahu bagaimana memberikan hidup.

Dan mungkin, pada akhirnya, ukuran seseorang bukanlah seberapa mengerikan ia ketika marah.

Melainkan apa yang ia lakukan ketika memiliki kesempatan untuk menyelamatkan orang lain.

Angel bukan malaikat.

Ia hanya manusia yang pernah menjadi gelap, tetapi memilih memberikan darahnya agar orang lain tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *