Masuk ke Dunia Anak

Bagikan Artikel

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah film sederhana di Netflix berjudul Na Willa. Film ini diangkat dari novel karya Reda Gaudiamo dan bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Na Willa.

Film ini sederhana. Konfliknya pun sederhana. Tidak ada persoalan besar seperti yang biasa memenuhi cerita orang dewasa. Namun, justru di situlah kekuatannya. Film ini membawa saya masuk ke dunia seorang anak, melihat kehidupan sebagaimana Na Willa melihatnya.

Pertanyaan-pertanyaannya sederhana. Keinginannya sederhana. Namun, hal-hal yang bagi orang dewasa mungkin tampak sepele ternyata memiliki arti besar baginya. Konflik yang terlihat kecil dari kacamata orang dewasa menjadi sungguh penting ketika dilihat dari mata seorang anak.

Saya kira, inilah yang sering hilang dalam relasi orang dewasa dengan anak-anak.

Kita terlalu sering meminta anak masuk ke dunia kita. Mereka harus memahami kesibukan kita, mengikuti aturan kita, menerima keputusan kita, dan memenuhi ukuran yang kita tetapkan. Kita lupa bahwa anak belum hidup di dalam dunia yang sama dengan kita.

Dunia anak berbeda.

Apa yang kita anggap kecil mungkin terasa besar bagi mereka. Apa yang menurut kita tidak perlu dipikirkan mungkin memenuhi kepala mereka sepanjang hari. Apa yang kita sebut kenakalan mungkin sebenarnya merupakan cara seorang anak menyampaikan sesuatu yang belum mampu ia ungkapkan dengan bahasa orang dewasa.

Salah satu konflik dalam film Na Willa memperlihatkan bagaimana perilaku seorang anak dapat dipahami secara berbeda ketika dilihat dari sudut pandang orang dewasa dan ketika dilihat dari dunia anak itu sendiri.

Karena itu, memahami anak bukan sekadar mengetahui apa yang mereka lakukan. Memahami anak berarti berusaha melihat dunia dari tempat mereka berdiri.

Setelah selesai menonton film tersebut, saya langsung teringat pada sebuah buku karya Virginia Satir, seorang terapis keluarga, berjudul The New Peoplemaking. Buku tersebut banyak berbicara mengenai pentingnya keluarga dalam pembentukan self-worth atau rasa keberhargaan diri.

Satir menulis, “Every word, facial expression, gesture, or action on the part of a parent gives the child some message about self-worth.”

Setiap perkataan, ekspresi wajah, gerakan, dan tindakan orang tua membawa pesan tertentu tentang keberhargaan diri kepada anak.

Kalimat itu membuat saya berpikir bahwa cara kita memperlakukan anak sebenarnya sedang mengajarkan kepada mereka tentang siapa diri mereka.

Ketika seorang anak terus-menerus dibandingkan, ia mungkin belajar, “Aku tidak cukup baik.”

Ketika ia hanya mendapatkan perhatian ketika berhasil, ia mungkin belajar, “Aku berharga kalau aku berhasil.”

Ketika perasaannya selalu dianggap berlebihan, ia mungkin belajar, “Apa yang kurasakan tidak penting.”

Sebaliknya, ketika seorang anak didengarkan, diterima, dan dihargai, ia mendapatkan pengalaman yang jauh lebih mendasar: dirinya berharga.

Di sinilah peran orang dewasa menjadi sangat penting. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kita katakan kepada mereka. Mereka juga belajar dari cara kita memandang, mendengarkan, merespons, bahkan dari cara kita memperlakukan mereka ketika mereka melakukan kesalahan.

Persoalannya, kita sering merasa sudah memahami anak hanya karena kita adalah orang tuanya. Padahal, pengalaman seorang anak dalam hubungan dengan orang tuanya belum tentu sama dengan apa yang dirasakan atau dimaksudkan oleh orang tua.

Penelitian Kristen L. Frampton, Jennifer M. Jenkins, dan Judy Dunn terhadap anak-anak berusia 8 hingga 15 tahun menunjukkan bahwa perspektif anak mengenai hubungan mereka dengan ibu dapat berbeda dari perspektif sang ibu. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa cara anak memandang hubungan dengan ibunya, terutama ketika hubungan itu dipersepsikan secara negatif, berkaitan dengan kerentanan terhadap masalah internalisasi ketika anak menghadapi tekanan dalam keluarga.

Temuan semacam ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sederhana tetapi sering terlupakan: dalam sebuah relasi, apa yang dialami anak tidak selalu sama dengan apa yang dimaksudkan orang dewasa.

Seorang ibu mungkin berpikir, “Saya sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya.”

Sementara anaknya mungkin mengalami, “Ibu tidak pernah mendengarkan saya.”

Keduanya bisa merasa benar.

Masalahnya bukan selalu tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalannya adalah apakah orang dewasa bersedia berhenti sejenak untuk mendengarkan bagaimana anak mengalami hubungan tersebut.

Mungkin karena itu, salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan orang dewasa adalah turun dari posisi kita.

Duduklah ketika berbicara dengan anak. Tatap matanya. Dengarkan pertanyaannya. Beri kesempatan ia menyelesaikan ceritanya. Jangan terlalu cepat mengoreksi. Jangan buru-buru memberikan nasihat ketika yang sebenarnya ia butuhkan adalah seseorang yang mau mendengarkan.

Sikap seperti itu bukan berarti kita kehilangan otoritas sebagai orang tua. Justru melalui sikap tersebut kita sedang menyampaikan pesan yang sangat penting: “Aku mau datang ke duniamu.”

Anak membutuhkan orang dewasa yang mau hadir, mendengar, dan memahami.

Mereka membutuhkan orang dewasa yang tidak buru-buru memaksa mereka berpikir seperti orang dewasa, tetapi bersedia memahami mengapa seorang anak berpikir seperti seorang anak.

Sayangnya, budaya kita sering membuat anak berada pada posisi yang harus selalu mengikuti. Orang dewasa dianggap tahu, sementara anak dianggap belum tahu. Orang dewasa berbicara, anak mendengar. Orang dewasa menentukan, anak mengikuti.

Akibatnya, anak sering diatur tetapi tidak didengar. Dinasihati tetapi tidak dipahami. Dikoreksi tetapi tidak ditemani.

Padahal, anak memang seharusnya menjadi anak.

Mereka sedang bertumbuh. Mereka sedang belajar memahami dirinya, memahami orang lain, mengenali emosi, mengembangkan kemampuan berpikir, dan menemukan tempatnya di dunia.

Tugas orang dewasa bukan memaksa mereka segera menjadi seperti kita. Tugas kita adalah menyediakan ruang yang cukup aman agar mereka dapat bertumbuh menjadi dirinya sendiri.

Satir menekankan bahwa setiap manusia merupakan pribadi yang unik. Karena itu, orang tua perlu menemani anak menemukan siapa dirinya, bukan memaksanya hidup berdasarkan gambaran tentang anak ideal yang ada di kepala orang tua.

Barangkali di sinilah kita perlu belajar kembali menjadi anak.

Kita sudah pernah berada di dunia mereka.

Kita pernah takut pada hal-hal yang sekarang terasa sepele. Pernah menangis karena perkara yang bagi orang dewasa mungkin tidak berarti. Pernah merasa tidak dimengerti. Pernah ingin didengar. Pernah ingin dipeluk. Pernah ingin seseorang mengatakan bahwa kita berharga.

Tetapi setelah menjadi dewasa, kita sering lupa.

Kita begitu sibuk membangun dunia orang dewasa sampai lupa bahwa ada anak-anak yang sedang tumbuh di dalamnya.

Na Willa mengingatkan saya bahwa untuk memahami seorang anak, kita tidak selalu harus membawa mereka ke dunia kita. Kadang-kadang justru kitalah yang perlu melakukan perjalanan ke dunia mereka.

Melihat sesuatu dari ketinggian mata mereka.

Mendengar pertanyaan mereka tanpa menertawakannya.

Menganggap serius sesuatu yang menurut kita sepele.

Mencoba memahami kenakalan sebelum menghukumnya.

Dan memberi mereka ruang untuk menjadi anak-anak.

Mungkin kita tidak selalu berhasil. Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada pula orang dewasa yang selalu mampu merespons anak dengan cara yang tepat.

Namun, selalu ada kesempatan untuk berhenti, mendengarkan, dan mencoba lagi.

Sebab, ketika kita masuk ke dunia anak, kita bukan hanya sedang belajar memahami mereka. Kita sedang membantu mereka membangun cara pandang terhadap dirinya sendiri.

Dan mungkin, salah satu hadiah terbesar yang dapat diberikan orang dewasa kepada seorang anak adalah pengalaman sederhana bahwa dirinya dilihat, didengar, diterima, dan berharga.

Penulis: Rigop Darmiko, konselor Kristen yang tinggal di Rantauprapat. Pertanyaan dan topik seputar perkembangan dan kepribadian psikologis manusia dapat disampaikan melalui kolom komentar atau dikirim melalui email ke rigopsitorus@gmail.com. Topik yang dikirim melalui email akan dibahas tanpa menyebut identitas pengirim.

Referensi

Satir, Virginia. The New Peoplemaking. Revised and expanded edition. Palo Alto, CA: Science and Behavior Books, 1988.

Frampton, Kristen L., Jennifer M. Jenkins, dan Judy Dunn. “Within-Family Differences in Internalizing Behaviors: The Role of Children’s Perspectives of the Mother-Child Relationship.” Journal of Abnormal Child Psychology 38, no. 4 (2010): 557–568.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *