MEDAN, BONARINEWS – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memuji model pendidikan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) yang dinilainya mampu menggabungkan mutu pendidikan dengan keberagaman dan keberpihakan kepada keluarga kurang mampu.
Pujian itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri peringatan HUT ke-39 YPSIM di halaman Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi Sunggal, Medan, Rabu, 26 Agustus 2026.
“Kalau semua lembaga pendidikan di Indonesia seperti ini, maka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tidak diperlukan lagi. Semua sudah selesai diurus oleh masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.
Menurut dia, pernyataan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap kiprah YPSIM yang selama hampir empat dekade ikut menjalankan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Abdul Mu’ti menilai YPSIM memiliki kekuatan yang tidak hanya terletak pada kegiatan akademik. Yayasan yang dirintis Sofyan Tan itu dinilai berhasil menjadikan sekolah sebagai ruang perjumpaan anak-anak dari berbagai agama, suku, budaya dan kondisi ekonomi.
Ia menyebut sekolah idealnya menjadi meeting point sekaligus melting point bagi anak-anak Indonesia. Perbedaan identitas, menurut dia, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi siswa untuk tumbuh bersama sebagai bagian dari satu bangsa.
“Persatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga mengapresiasi konsep subsidi silang yang sejak awal diterapkan YPSIM untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Ketua Dewan Pembina YPSIM Sofyan Tan mengatakan lembaga tersebut dibangun dari kondisi yang sangat terbatas. Pada awal berdiri, YPSIM menggunakan pinjaman bank sekitar Rp60 juta untuk membangun fasilitas pendidikan di atas lahan seluas 1.500 meter persegi.
Saat itu hanya terdapat tujuh ruang kelas dan tiga ruang administrasi untuk 171 siswa. Sebagian besar siswa bahkan tidak membayar uang sekolah.
Sofyan Tan, yang saat itu berprofesi sebagai dokter, menyisihkan penghasilannya untuk pengembangan sekolah. Ia juga turun langsung mencari anak-anak dari keluarga miskin di kawasan pinggir sungai agar dapat bersekolah.
Setelah 39 tahun, YPSIM kini berkembang menjadi tujuh lembaga pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sekolah-sekolah di bawah YPSIM memiliki 4.533 siswa, sedangkan Universitas Satya Terra Bhinneka menampung sekitar 7.500 mahasiswa.
Program anak asuh dan subsidi silang juga terus berjalan. Sofyan Tan menyebut lebih dari Rp71 miliar telah dialokasikan untuk membantu pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Sekolah boleh cantik, boleh mewah, tetapi isinya diperuntukkan bagi orang-orang yang terzalimi secara ekonomi,” kata Sofyan Tan.
Ia menawarkan YPSIM sebagai mitra pemerintah untuk mengembangkan model sekolah integratif yang menggabungkan kualitas pendidikan, keberagaman dan akses bagi masyarakat kurang mampu.
“Kalau ingin membangun sekolah integrasi, sekolah yang bermutu, Pak Menteri boleh belajar dari Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda,” ujarnya.
Sofyan Tan berharap pengalaman YPSIM dapat menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan pendidikan yang inklusif sekaligus mendukung agenda Indonesia Emas 2045.
Peringatan HUT ke-39 YPSIM turut dihadiri Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antarlembaga Biyanto, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar Rita Pranawati, para donatur, orang tua siswa, jajaran pengurus YPSIM, kepala sekolah, guru serta pimpinan Universitas Satya Terra Bhinneka.
Acara juga diisi pemberian penghargaan masa bakti kepada guru dan tenaga pendidik serta penghargaan bagi siswa berprestasi. Setelah potong tumpeng, Abdul Mu’ti secara spontan bernyanyi bersama Sofyan Tan dan para siswa paduan suara.
Penulis: Dedy Hutajulu