MEDAN, BONARINEWS — Garis putih yang membentang di belakang pesawat sering kali dianggap sebagai pemandangan biasa. Namun, jejak yang disebut contrails atau condensation trails itu kini menjadi perhatian para ilmuwan karena dalam kondisi tertentu dapat memperkuat pemanasan atmosfer.
Teknologi kecerdasan buatan mulai digunakan untuk mencari cara sederhana mengurangi dampak tersebut. Caranya bukan dengan menghentikan penerbangan, melainkan membantu pesawat menghindari wilayah atmosfer yang berpotensi membentuk contrails yang bertahan lama.
Contrails terbentuk ketika uap air dari pembakaran bahan bakar pesawat bertemu dengan udara yang sangat dingin di ketinggian. Dalam kondisi tertentu, uap tersebut berubah menjadi kristal es dan membentuk garis putih di belakang pesawat.
Sebagian jejak itu menghilang dalam waktu singkat. Namun, jika pesawat melintas di lapisan udara yang sangat dingin dan lembap, kristal es dapat bertahan lebih lama dan menyebar. Jejak tersebut kemudian dapat berkembang menjadi awan tipis yang memengaruhi keseimbangan panas di atmosfer.
Persoalannya, tidak semua contrails memiliki dampak yang sama. Karena itu, tantangan bagi para peneliti bukan sekadar menghilangkan garis putih di langit, melainkan menemukan jejak mana yang berpotensi memberikan dampak pemanasan lebih besar.
Di sinilah teknologi AI mulai mendapat peran.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah menggunakan data satelit, informasi penerbangan dan kondisi atmosfer untuk memperkirakan wilayah yang berisiko menghasilkan contrails persisten. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk menentukan apakah pesawat perlu melakukan perubahan ketinggian.
Pendekatan serupa diuji melalui Operation Blue Skies di Inggris. Program percontohan ini melibatkan pemerintah Inggris, Google, Met Office, penyedia layanan navigasi udara NATS, serta peneliti dari sejumlah universitas.
Wilayah udara Shanwick Oceanic di Atlantik Utara menjadi salah satu lokasi pengujian. Kawasan tersebut merupakan jalur penerbangan yang sibuk dan dinilai relevan untuk menguji teknologi prediksi contrails dalam kondisi penerbangan nyata.
Prinsipnya cukup sederhana. Sistem AI memetakan kondisi atmosfer dan memperkirakan lokasi yang berpotensi menghasilkan contrails. Informasi itu kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan pengendali lalu lintas udara dan pilot.
Jika diperlukan, pesawat dapat diarahkan untuk mengubah ketinggian penerbangan dalam jarak tertentu. Perubahan tersebut tidak harus berarti memutar jauh dari rute semula.
Dalam sejumlah pengujian, perubahan ketinggian sekitar 2.000 kaki atau sekitar 600 meter digunakan untuk menghindari lapisan atmosfer tertentu. Bagi penumpang, perubahan seperti ini kemungkinan besar tidak terasa karena penyesuaian ketinggian merupakan bagian dari operasi penerbangan.
Namun, persoalan lain segera muncul: apakah perubahan ketinggian tidak justru membuat pesawat membakar lebih banyak bahan bakar?
Pertanyaan itu penting karena penerbangan sendiri menghasilkan emisi karbon dioksida. Jika upaya mengurangi contrails menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat terlalu besar, manfaat lingkungannya dapat berkurang.
Hasil pengujian yang disampaikan dalam program tersebut menunjukkan tambahan emisi karbon dioksida akibat perubahan ketinggian dapat dijaga pada tingkat yang relatif kecil. Sementara itu, penghindaran wilayah yang berisiko menghasilkan contrails persisten berpotensi mengurangi dampak pemanasan dari jejak tersebut secara signifikan.
Temuan itu menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dalam penerbangan tidak selalu harus diselesaikan dengan teknologi yang mengubah pesawat secara total. Kadang-kadang, keputusan yang lebih tepat mengenai kapan dan di mana pesawat terbang juga dapat memberikan dampak.
Teknologi AI dalam konteks ini bukan pengganti pilot atau pengendali lalu lintas udara. AI berfungsi sebagai alat bantu untuk membaca pola yang sulit dianalisis secara cepat oleh manusia.
Data cuaca, kelembapan, temperatur, ketinggian dan pergerakan pesawat dapat diproses untuk menghasilkan prediksi. Dari sana, manusia tetap mengambil keputusan operasional dengan mempertimbangkan keselamatan penerbangan, efisiensi bahan bakar dan kondisi lalu lintas udara.
Teknologi ini sekaligus memperlihatkan arah baru dalam upaya mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan. Selama ini, perhatian besar tertuju pada emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar. Padahal, penerbangan juga memiliki dampak non-CO2, salah satunya melalui pembentukan contrails.
Tentu saja, AI bukan solusi tunggal untuk persoalan emisi penerbangan. Pesawat tetap membutuhkan bahan bakar, dan industri penerbangan masih menghadapi tantangan besar untuk menekan emisi karbon.
Namun, kemampuan memprediksi wilayah pembentukan contrails memberi pilihan tambahan. Jika sebuah pesawat hanya perlu mengubah ketinggian sedikit untuk menghindari kondisi atmosfer tertentu, pilihan itu dapat dipertimbangkan dibandingkan membiarkan contrails persisten terbentuk.
Keberhasilan pendekatan ini juga bergantung pada kualitas data dan koordinasi. Prediksi atmosfer harus akurat, informasi harus tersedia pada waktu yang tepat, dan sistem tersebut harus dapat terintegrasi dengan prosedur keselamatan serta pengelolaan lalu lintas udara.
Bagi Indonesia, teknologi semacam ini menarik untuk diperhatikan. Indonesia memiliki wilayah udara yang luas dan lalu lintas penerbangan yang padat, terutama di kawasan perkotaan dan jalur penerbangan antarpulau.
Jika teknologi prediksi contrails semakin matang, maskapai dan pengelola navigasi udara di Indonesia pada masa depan berpotensi memanfaatkannya sebagai bagian dari strategi penerbangan yang lebih ramah lingkungan.
Garis putih di langit, dengan demikian, bukan sekadar coretan yang muncul lalu menghilang. Di baliknya terdapat persoalan ilmiah yang berkaitan dengan atmosfer, bahan bakar, teknologi dan perubahan iklim.
AI mungkin tidak akan membuat langit sepenuhnya tanpa jejak pesawat. Namun, teknologi itu memberi manusia kemampuan baru untuk memilih jalur dan ketinggian penerbangan secara lebih cerdas.
Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar membuat pesawat terbang lebih cepat atau lebih jauh. Tantangannya adalah bagaimana pesawat tetap membawa manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan dampak yang lebih kecil terhadap bumi.
Penulis: Ahmad Amri Falah