Kepala BGN Akan Pecat Kepala SPPG Berastagi

Bagikan Artikel

Karo, BONARINEWS–Penanganan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, memasuki babak serius. Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan sanksi tegas akan diberikan kepada pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Kepala BGN Sudaryono menyampaikan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan MBG dalam kasus tersebut tidak hanya akan dicopot dari jabatannya, tetapi juga diajukan untuk pemecatan dengan tidak hormat (PDTH) sebagai ASN.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono saat menjenguk salah seorang pelajar korban keracunan yang masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan, dan jenguk korban keracunan di RS Efarina Etaham Berastagi, Minggu (16/8).

Menurut Sudaryono, dapur SPPG yang berkaitan dengan kasus tersebut telah dikenakan sanksi berat berupa suspensi. Sementara terhadap Kepala SPPG, BGN akan mengusulkan sanksi kepegawaian paling berat apabila terbukti bertanggung jawab dalam kasus tersebut.

“Yang pertama dapurnya disuspen berat. Kemudian Kepala SPPG-nya, sanksi yang bisa saya berikan bukan hanya dicopot, tapi saya ajukan pemecatan dengan tidak hormat melalui Badan Kepegawaian Negara karena statusnya ASN,” tegas Sudaryono.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kepala SPPG Karo Berastagi Sempajaya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, diketahui bernama Eky Faisal Zendrato.

Meski demikian, SPPG tersebut masih dalam proses investigasi tim gabungan untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab terjadinya keracunan massal yang dialami para siswa SMA Negeri 1 Berastagi pada Kamis (13/8).

Sudaryono menegaskan kasus di Kabupaten Karo harus menjadi peringatan keras bagi seluruh SPPG di Indonesia. Menurutnya, penyediaan makanan dalam program MBG menyangkut keselamatan dan nyawa manusia sehingga tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

“Ini juga peringatan bagi yang lain. Harus ekstra hati-hati dan bekerja dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak bisa, mundur. Kalau merasa tidak mampu, mundur. Jangan nyawa orang jadi permainan,” tegasnya.
Ia juga meminta seluruh kepala dapur, chef maupun petugas SPPG memahami tanggung jawab besar yang mereka emban.

“Kalau tidak mampu jadi kepala dapur, tidak mampu jadi chef, tidak mampu jadi petugas di situ, mundur saja. Karena nyawa seseorang tidak bisa dipertaruhkan begini,” lanjut Sudaryono.

Kondisi Korban Berangsur Membaik
Saat meninjau korban di RSU Haji Medan, RS Efarina Berastagi, Sudaryono menyampaikan kondisi pelajar tersebut berangsur membaik setelah menjalani perawatan selama hampir tiga hari.

Ia menjelaskan, korban masih mendapat pemantauan intensif dari tim medis. Penanganan dilakukan dengan mengistirahatkan sistem pencernaan, pemberian antibiotik serta obat untuk mengatasi rasa nyeri, sesuai kondisi medis pasien.
“Kondisinya sudah dua hari di sini, ini hari yang ketiga. Menurut laporan tadi sudah membaik.

Treatment-nya adalah kondisi perut dipuasakan, kemudian karena ada bakteri diberikan antibiotik dan pain killer atau antinyeri,” jelasnya.
Sudaryono berharap dalam satu hingga dua hari ke depan kondisi korban semakin membaik dan dapat kembali normal.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution yang telah memfasilitasi penanganan korban, termasuk pembiayaan pengobatan yang ditanggung Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Kasus keracunan MBG di Berastagi Kabupaten Karo kini masih menjadi perhatian serius. Investigasi tim gabungan diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kejadian sekaligus memastikan adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.(Dedy Hu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *