Dari Barang Bekas Jadi Busana, GNI Medan Ajak Anak Belawan Peduli Lingkungan

Bagikan Artikel

BELAWAN, BONARINEWS — Barang-barang yang biasanya berakhir di tempat sampah berubah menjadi busana di tangan anak-anak. Ada yang dibuat dari bahan bekas, ada pula yang dipoles menjadi sesuatu yang layak tampil di atas panggung. Di situlah pesan tentang lingkungan disampaikan: tidak lewat ceramah panjang, melainkan melalui kreativitas.

Pemandangan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI Medan) bersama sekitar 300 pelajar di Kantor Camat Medan Belawan, 6 Agustus 2026.

Anak-anak mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari lomba mewarnai, bernyanyi, hingga fashion show menggunakan bahan daur ulang. Kegiatan tersebut tidak hanya dirancang sebagai perayaan HAN, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk berekspresi sekaligus mengenal isu kesehatan dan lingkungan sejak dini.

Project Manager GNI Medan CDP, Anwar Suhut, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar anak-anak memperoleh ruang yang aman dan menyenangkan untuk menunjukkan potensi mereka.

“Peringatan Hari Anak Nasional ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami ingin anak-anak mendapatkan ruang untuk tampil, berkreasi, menyampaikan pendapat, sekaligus belajar menjaga kesehatan dan lingkungan sejak dini,” ujar Anwar.

Ketika Barang Bekas Menjadi Karya

Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah fashion show berbahan daur ulang.

Di atas panggung, anak-anak mengenakan busana yang dibuat dari material yang sebelumnya dianggap tidak lagi berguna. Barang bekas tersebut memperoleh bentuk baru melalui kreativitas dan imajinasi.

Bagi GNI Medan, pendekatan ini menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan kepedulian lingkungan kepada anak-anak.

Anwar mengatakan pesan tentang menjaga lingkungan akan lebih mudah dipahami apabila disampaikan melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak.

“Melalui fashion show berbahan daur ulang, kami ingin menunjukkan bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang kreatif dan bernilai. Pesan tentang menjaga lingkungan akan lebih mudah diterima anak-anak jika disampaikan melalui kegiatan yang menyenangkan,” katanya.

Pesan itu sederhana: sesuatu yang dianggap sampah belum tentu kehilangan seluruh nilainya. Dengan kreativitas, barang yang sudah tidak digunakan dapat dipakai kembali dan memiliki fungsi baru.

Bagi anak-anak, pelajaran tersebut hadir dalam bentuk yang menyenangkan. Mereka tidak sekadar mendengar tentang pentingnya menjaga lingkungan, tetapi mengalami sendiri proses mengubah barang bekas menjadi sebuah karya.

Tidak Berhenti pada Lingkungan

Peringatan HAN 2026 di Medan Belawan juga diisi dengan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.

Anak-anak diajak mengenali kebiasaan sederhana yang penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan diri hingga memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.

Bagi penyelenggara, pengetahuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan. Karena itu, edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat tidak cukup dilakukan dalam satu kegiatan atau hanya ketika Hari Anak Nasional diperingati.

Anwar mengatakan pembentukan kebiasaan hidup bersih dan sehat membutuhkan dukungan dari lingkungan tempat anak tumbuh.

“Anak-anak membutuhkan dukungan dari lingkungan di sekitarnya. Karena itu, edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat harus terus dilakukan, bukan hanya pada saat peringatan HAN,” ucapnya.

Keluarga, sekolah, komunitas, dan pemangku kepentingan di tingkat wilayah memiliki peran yang saling berkaitan. Anak dapat belajar menjaga kebersihan, tetapi lingkungan di sekitarnya juga harus memberi contoh dan menyediakan ruang yang mendukung kebiasaan tersebut.

Anak Sebagai Pelaku, Bukan Sekadar Peserta

Sekitar 300 pelajar yang terlibat dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hari Anak Nasional dapat dikemas lebih dari sekadar seremoni.

Anak-anak bukan hanya hadir sebagai penonton. Mereka menjadi pelaku kegiatan: mewarnai, bernyanyi, tampil di panggung, mengenakan busana hasil kreativitas, dan mengikuti edukasi tentang kesehatan serta lingkungan.

Pendekatan seperti ini memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman.

Kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu tumbuh dari nasihat. Ia dapat dimulai dari hal sederhana yang dilakukan berulang-ulang—memanfaatkan kembali barang yang masih bisa digunakan, menjaga kebersihan, dan memahami bahwa lingkungan tempat mereka tumbuh adalah bagian dari masa depan mereka sendiri.

Di Medan Belawan, pesan tersebut disampaikan melalui panggung anak-anak.

Barang bekas yang semula dianggap tidak bernilai berubah menjadi busana. Busana itu kemudian menjadi bagian dari pertunjukan. Dan pertunjukan tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Pada akhirnya, peringatan Hari Anak Nasional bukan hanya tentang merayakan anak.

Ia juga tentang menyiapkan lingkungan tempat anak-anak itu akan tumbuh.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *