Relasi Orangtua dan Anak Adopsi

Bagikan Artikel

Ada sebuah film di Netflix yang menarik perhatian saya, Aku Sebelum Aku. Film ini berbicara tentang salah satu fase paling rumit dalam kehidupan manusia: masa ketika seorang remaja berusaha menemukan sekaligus membentuk identitas dirinya. Pergulatan identitas tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Ia dibentuk oleh keluarga, relasi, pengalaman masa lalu, serta berbagai pertanyaan mendasar tentang siapa dirinya.

Salah satu tokoh dalam film tersebut adalah seorang anak adopsi. Konflik mulai muncul ketika ia secara tidak sengaja mengetahui bahwa dirinya bukan anak biologis dari orangtua yang selama ini membesarkannya. Film ini cukup baik menggambarkan pergulatan batin yang kemudian muncul. Bukan semata-mata karena ia merasa tidak dicintai, tetapi karena pengetahuan baru itu mengubah cara ia memandang dirinya, orangtuanya, bahkan masa lalunya.

Pertanyaan yang muncul kemudian sangat mendasar: Mengapa aku dibuang? Mengapa aku dilahirkan jika pada akhirnya tidak diinginkan? Siapa sebenarnya aku?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa menjadi anak adopsi bukan sekadar persoalan berpindahnya seorang anak dari satu keluarga ke keluarga lain. Di dalamnya terdapat dinamika psikologis yang kompleks, terutama berkaitan dengan identitas, keterikatan, kehilangan, dan kebutuhan untuk memahami asal-usul diri.

Anak Bukan Properti Pelengkap Keluarga

Dalam masyarakat kita, anak masih sering dipandang sebagai bagian yang membuat sebuah keluarga menjadi “lengkap”. Ketika pasangan belum memiliki anak, mereka kerap dianggap belum utuh. Karena itu, adopsi terkadang dipahami sebagai salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.

Masalahnya muncul ketika anak ditempatkan sebagai “pelengkap keluarga”. Kebutuhan orang dewasa akhirnya dapat menjadi pusat perhatian, sementara kebutuhan psikologis anak justru terabaikan.

Mengadopsi anak bukan sekadar menyediakan rumah, pendidikan, makanan, dan kasih sayang. Anak adopsi membawa sejarah hidupnya sendiri. Bahkan ketika ia masih kecil dan belum memahami statusnya, sejarah tersebut tetap menjadi bagian dari dirinya.

Karena itu, anggapan bahwa mengadopsi anak pasti merupakan “hal terbaik” bagi anak perlu dilihat secara lebih utuh. Adopsi memang dapat menjadi bentuk kasih yang sangat berarti, tetapi relasi di dalamnya membutuhkan kesiapan, pengetahuan, keterbukaan, serta pendampingan yang serius.

Ketika Status Adopsi Terungkap

Salah satu titik penting dalam perjalanan seorang anak adopsi adalah ketika ia mengetahui status dirinya.

Sebelum mengetahui hal tersebut, ia mungkin memandang orangtua yang membesarkannya sebagai satu-satunya keluarga yang ia kenal. Namun ketika mengetahui bahwa dirinya diadopsi, tiba-tiba sebuah jarak dapat muncul. Bukan karena orangtuanya berubah, melainkan karena cara anak memahami dirinya dan keluarganya ikut berubah. Ia bahkan dapat merasa asing di rumahnya sendiri.

Di satu sisi, ia mengetahui bahwa orangtua asuhnya telah menyayangi dan merawatnya. Namun di sisi lain, muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang melahirkannya. Kesadaran tersebut dapat memunculkan berbagai pertanyaan tentang penolakan, kehilangan, asal-usul, dan identitas dirinya.

Karena itu, kemarahan seorang anak kepada orangtua asuh tidak selalu berarti bahwa ia tidak menghargai kasih sayang mereka. Bisa jadi, di balik kemarahan tersebut terdapat rasa kehilangan dan kebingungan yang belum mampu ia ungkapkan.

Yang sedang ia hadapi bukan hanya pertanyaan, “Mengapa kalian tidak memberitahuku?” tetapi juga pertanyaan yang jauh lebih dalam: “Siapa aku sebenarnya?”

Jangan Memaksa Anak Membalas Kasih

Di sinilah orangtua asuh sering kali menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ketika anak mulai mempertanyakan keberadaan mereka atau bahkan menunjukkan sikap memberontak, orangtua dapat merasa terluka.

Mereka mungkin berpikir, “Setelah semua yang kami lakukan untukmu, mengapa kamu masih mempertanyakan kasih sayang kami?”

Respons seperti ini sangat manusiawi. Namun, jika tidak disadari dan dikelola dengan baik, respons tersebut justru dapat menambah luka anak.

Anak tidak perlu dipaksa untuk segera menerima orangtua asuhnya sebagai “orangtua” dalam pengertian yang sama dengan orangtua biologis. Ia juga tidak perlu diyakinkan berulang kali bahwa kasih sayang orangtua asuh lebih baik daripada kasih sayang orangtua biologisnya. Sebab, persoalannya bukan kompetisi tentang siapa yang lebih baik.

Anak sedang berusaha memahami bagian dari sejarah hidupnya yang baru saja terbuka. Ia membutuhkan ruang untuk bertanya, marah, sedih, kecewa, bahkan bingung, tanpa harus merasa bersalah karena memiliki perasaan-perasaan tersebut.

Tugas orangtua bukan memenangkan perdebatan, melainkan menemani anak melewati pergulatan tersebut.

Menjadi Orang Dewasa yang Aman

Relasi yang sehat dengan anak adopsi mungkin justru dimulai ketika orangtua berhenti memaksakan bentuk relasi tertentu.

Orangtua dapat menyampaikan, baik secara tersirat maupun terbuka: “Kami ada di sini. Kamu boleh bertanya. Kamu boleh marah. Kamu boleh mencari tahu tentang masa lalumu. Kami tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu sedang bingung tentang siapa kami bagimu.”

Dalam posisi seperti itu, orangtua tidak kehilangan otoritas. Sebaliknya, mereka menjadi orang dewasa yang aman bagi anak untuk menjalani pergulatan identitasnya.

Seiring waktu, melalui pengalaman hidup bersama, keterbukaan, dan relasi yang aman, anak dapat membangun dan memaknai kembali ikatan emosionalnya dengan orangtua asuh. Pada titik tertentu, ia dapat menemukan sendiri makna keluarga dan menentukan bagaimana ia memandang relasi tersebut.

Di sinilah relasi orangtua dan anak dapat tumbuh bukan karena tuntutan, melainkan karena kepercayaan.

Maka, mengadopsi anak seharusnya bukan sekadar usaha untuk melengkapi keluarga karena tekanan sosial. Adopsi membutuhkan kesiapan untuk menerima seorang manusia dengan sejarah, kehilangan, pertanyaan, serta kebutuhan identitasnya sendiri.

Anak adopsi bukan properti yang diberikan untuk melengkapi keluarga. Ia adalah manusia yang sedang belajar memahami siapa dirinya.

Karena itu, tugas orangtua asuh bukan menghapus fakta bahwa ia adalah anak adopsi, melainkan menolongnya berdamai dengan fakta tersebut. Ketika sejarahnya dapat dibicarakan secara terbuka, ketika pertanyaannya diterima tanpa ancaman, dan ketika kasih tidak dijadikan tuntutan untuk membalas, di sanalah relasi yang sehat mulai bertumbuh.

Bukan relasi yang dipaksakan, melainkan relasi yang perlahan-lahan dipilih dan dibangun oleh dua pihak yang belajar saling menerima.

Penulis: Rigop Darmiko
Penulis adalah konselor Kristen yang tinggal di Rantauprapat. Pertanyaan dan topik seputar perkembangan dan kepribadian psikologis manusia dapat disampaikan melalui kolom komentar untuk dibahas, atau dikirimkan melalui email ke rigopsitorus@gmail.com. Topik yang dikirim melalui email akan dibahas tanpa menyebutkan identitas pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *