Oleh: Devilaria Damanik
Malam itu aku belajar bahwa sebuah kamar tidak selalu menjadi tempat berlindung.
Kadang-kadang ia hanya sebuah ruang sempit dengan dua kasur, dua lemari kecil, beberapa koper, dan sebuah pintu yang tidak benar-benar bisa dikunci.
Aku belum tahu itu ketika tertidur.
Aku bahkan tidak tahu apa-apa ketika seseorang berdiri di luar kamar kami.
Aku sedang tidur.
Dan aku tidur dengan sangat mudah.
—
Sejak kecil aku memang begitu. Selama matahari masih ada, tubuhku seolah tidak mengenal lelah. Tetapi selepas Magrib, kantuk datang seperti seseorang yang sudah hafal jalan pulang. Kalau kepalaku sudah menyentuh bantal, biasanya dunia selesai.
Aku menganggapnya keberuntungan.
Orang lain mungkin membutuhkan waktu untuk memejamkan mata. Aku hanya perlu berbaring.
Menjelang subuh, biasanya aku sudah bangun.
Hanya saja aku tidak pernah benar-benar bisa bangun dengan diam.
Aku sudah mencoba. Menahan langkah. Membuka mata pelan-pelan. Menggeser barang tanpa suara. Tetap saja selalu ada sesuatu yang berbunyi.
Lantai.
Tas.
Pintu.
Atau benda kecil yang tersenggol kaki.
Alvi pernah bilang, kalau aku bangun, satu kamar pasti ikut bangun.
Aku tertawa waktu itu.
Malam itu aku tidak tertawa.
—
Sekitar pukul sembilan malam waktu Indonesia tengah, aku terbangun oleh suara.
Bukan suara pintu.
Bukan suara orang berjalan.
Suara Alvi.
Aku membuka mata.
Ia sedang menangis.
“Ada orang.”
Aku masih setengah sadar.
“Di mana?”
Alvi tidak langsung menjawab.
Ia menunjuk ke arah pintu belakang.
Tangannya gemetar.
“Ngintip.”
Baru saat itu aku benar-benar terjaga.
—
Dua bulan kami tinggal di mes itu.
Bangunannya sederhana: bambu dan triplek, berdiri di lingkungan sekolah yang sedang direvitalisasi. Gedung lama dibongkar, dan untuk sementara kami ditempatkan di sana.
Kamar kami kecil.
Sangat kecil.
Dua kasur busa menghadap satu sama lain. Dua lemari pakaian mini berdiri di dekat masing-masing kasur. Koper dan tas menempati sisa ruang.
Di tengah hanya tersisa lorong selebar kira-kira penggaris tiga puluh sentimeter.
Kami sudah terbiasa bergerak menyamping jika salah satu hendak lewat.
Di depan ada pintu.
Di belakang juga ada pintu.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya aku memperhatikan bahwa benda-benda itu tidak sepenuhnya layak disebut pintu.
Pintu depan memiliki gorden. Di atasnya ada celah.
Pintu belakang tidak memiliki kunci. Hanya diganjal dengan kayu kecil.
Sebelumnya kami tidak mempersoalkannya.
Orang-orang mengatakan tempat itu aman.
Dan kami percaya.
Mungkin manusia memang seperti itu.
Kita lebih mudah percaya pada sesuatu yang dikatakan berkali-kali daripada memeriksa sendiri apakah sesuatu itu benar.
—
Alvi baru selesai makan ketika mendengar suara pintu.
Ia sempat mengira aku yang membukanya.
Sebab kalau aku bangun, biasanya ada bunyi.
Tetapi suara itu berbeda.
Alvi menggeser gorden.
Lalu melihatnya.
Aku tidak melihat apa yang pertama kali dilihat Alvi.
Aku hanya melihat wajah Alvi beberapa saat kemudian.
Wajah yang berubah.
Wajah yang membuatku segera duduk.
“Ada orang,” katanya lagi.
Kali ini suaranya pecah.
Aku menoleh ke pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku berdiri.
Alvi memegang lenganku.
“Jangan.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Ia menunjuk.
“Di situ.”
—
Orang-orang mulai datang.
Satu per satu.
Suara langkah memenuhi halaman. Beberapa tetangga bertanya apa yang terjadi. Alvi berusaha menjelaskan sambil menangis.
Aku ikut keluar.
Baru malam itu aku tahu apa yang sebenarnya dilihatnya.
Seorang laki-laki.
Tubuhnya pendek.
Baju hijau.
Rambut ikal.
Mata besar.
Kepalanya sudah masuk ke kamar kami.
Separuh tubuhnya masih di luar.
Ia tidak mengetuk.
Tidak memanggil.
Tidak meminta sesuatu.
Ia hanya melihat ke dalam.
Dan mungkin melihat kami.
Kami mencari laki-laki itu.
Bulan sedang terang.
Aneh sekali: seseorang bisa berdiri begitu dekat dengan kami, tetapi beberapa menit kemudian tidak seorang pun tahu ia pergi ke mana.
Kami berpencar.
Tidak banyak yang ikut. Hanya beberapa orang.
Kami menyusuri sekitar mes.
Tidak ada.
Tidak ada di balik bangunan.
Tidak ada di sekitar rak buku.
Tidak ada di jalan.
Tidak ada di tempat-tempat yang kami kira mungkin ia sembunyikan.
Seolah-olah malam menelannya.
Atau seolah-olah ia memang tidak pernah jauh.
Pikiran itu membuatku menoleh ke belakang.
Ke kamar.
Ke pintu.
Ke celah di atasnya.
—
“Aku tidak mau tidur di sini.”
Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Alvi diam.
“Temanku trauma,” kataku.
Padahal mungkin aku sedang berbicara tentang diriku sendiri.
Aku tidak bisa membayangkan kembali berbaring di kasur.
Tidak setelah mengetahui bahwa seseorang bisa berdiri di luar sana sementara aku tertidur tanpa tahu apa-apa.
Aku menatap pintu depan.
Celah di atasnya tiba-tiba terlihat lebih besar.
Aku menatap pintu belakang.
Kayu kecil yang selama ini kami anggap cukup untuk menahannya kini terlihat seperti benda yang sama sekali tidak berguna.
“Kenapa kita percaya waktu mereka bilang di sini aman?” kata Alvi.
Aku tidak menjawab segera.
Sebab malam itu aku mulai mengerti bahwa aman dan dikatakan aman adalah dua hal yang berbeda.
“Kita tidak tahu isi kepala orang,” kataku akhirnya.
Aku menatap pintu.
“Kejahatan bisa terjadi kalau ada kesempatan.”
Aku berhenti.
“Apalagi kita perempuan.”
—
Beberapa orang menawarkan rumah mereka untuk kami tempati malam itu.
Kami berterima kasih.
Tetapi aku tetap tidak bisa tidur.
Ada sesuatu yang sudah berubah.
Bukan kamarnya.
Bukan kasurnya.
Bukan malamnya.
Cara aku memandang semuanya yang berubah.
Aku tidak lagi melihat pintu sebagai pintu.
Aku melihat celah.
Aku melihat kayu kecil.
Aku melihat ruang yang bisa dimasuki seseorang.
Aku melihat kemungkinan.
Dan kemungkinan, kalau sudah masuk ke kepala, tidak mudah diusir.
Akhirnya kami memilih kantor.
Pintunya memiliki kunci.
Hanya itu yang kami butuhkan.
Sebuah pintu.
Sebuah kunci.
Sesuatu yang bisa menahan dunia di luar agar tetap berada di luar.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk dan menulis.
Mungkin karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
—
Pagi datang.
Cahaya mulai muncul di antara bukit.
Aku baru menyadari bahwa malam memang bisa berakhir tanpa rasa takut benar-benar berakhir bersamanya.
Jumat pagi kami membicarakan kejadian itu bersama tokoh masyarakat, kepala sekolah, guru, dan kepala tukang yang mempekerjakan laki-laki tersebut.
Mereka meminta maaf.
Mereka mengatakan laki-laki itu tidak akan dipekerjakan lagi.
Mereka juga mengatakan akan menjaga kami.
Salah seorang berkata bahwa laki-laki itu memang memiliki keterbatasan.
“Kalau tadi malam dia sampai dapat, mungkin sudah bonyok.”
Aku diam.
Kalau.
Aku mulai membenci kata itu.
Kalau tertangkap.
Kalau dipukul.
Kalau dia berniat jahat.
Kalau Alvi tidak membuka gorden.
Kalau aku sendirian.
Kalau kami sudah tidur.
Kalau ia kembali.
Terlalu banyak kalau untuk satu malam.
Dan tidak satu pun bisa dijadikan kunci.
—
Mereka bilang tempat itu aman.
Lagi-lagi kata itu.
Aman.
Aku mengingatnya.
Sebelum malam itu, kata tersebut terdengar seperti kepastian.
Setelah malam itu, kata tersebut terasa seperti pertanyaan.
Aman?
Kalau memang aman, mengapa seseorang bisa berdiri di depan kamar kami tanpa kami tahu?
Kalau memang aman, mengapa pintunya tidak bisa dikunci?
Kalau memang aman, mengapa keselamatan kami bergantung pada seseorang yang kebetulan belum mempunyai niat buruk?
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki itu.
Aku tidak tahu mengapa ia datang.
Aku tidak tahu mengapa ia memasukkan kepala ke kamar kami.
Dan mungkin aku tidak akan pernah tahu.
Orang-orang bisa menjelaskan banyak hal setelah kejadian.
Mereka bisa mengatakan ia tidak mengerti.
Mereka bisa mengatakan ia tidak berniat macam-macam.
Mereka bisa mengatakan selama ini tidak pernah terjadi apa-apa.
Tetapi tidak seorang pun bisa menjelaskan satu hal:
Mengapa ia berada di sana?
—
Malam Jumat itu tidak ada hantu.
Tidak ada setan.
Tidak ada suara gaib dari bukit.
Hanya ada seorang laki-laki.
Sebuah pintu.
Sehelai gorden.
Dan dua perempuan yang sedang berada di dalam kamar.
Aku sering memikirkan kembali detik ketika Alvi menggeser gorden itu.
Bagaimana jika ia tidak menggesernya?
Bagaimana jika ia memilih tidur?
Bagaimana jika aku sudah bangun lebih dulu?
Bagaimana jika tidak ada suara?
Bagaimana jika aku sendirian?
Aku berhenti sebelum pertanyaan berikutnya selesai.
Sebab ada beberapa kemungkinan yang lebih baik tidak diberi nama.
—
Sejak malam itu aku mengerti mengapa manusia bisa lebih menakutkan daripada setan.
Setan, kalau muncul, setidaknya membuat kita tahu bahwa kita sedang dalam bahaya.
Manusia tidak selalu begitu.
Kadang-kadang ia datang tanpa suara.
Berdiri di luar.
Menunggu.
Menggeser pintu.
Memasukkan kepala.
Melihat.
Lalu pergi.
Meninggalkan kita untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya ia inginkan.
Dan yang paling menakutkan bukan apa yang sudah terjadi.
Melainkan apa yang mungkin terjadi seandainya satu hal kecil malam itu berbeda.
Alvi tidak membuka gorden.
Aku tidak terbangun.
Tidak ada tetangga yang datang.
Tidak ada orang yang mencari.
Tidak ada kantor yang pintunya bisa dikunci.
Tidak ada siapa-siapa.
—
Aku masih mudah tidur.
Tubuhku belum berubah.
Matahari tenggelam, kantuk tetap datang.
Tetapi sekarang, sebelum tidur, aku selalu memperhatikan pintu.
Aku memastikan ia tertutup.
Aku memastikan ada sesuatu yang menahannya.
Aku memastikan tidak ada celah yang sebelumnya luput dari perhatian.
Lucu.
Dulu aku mengira keberuntungan adalah bisa tidur cepat.
Sekarang aku tahu, keberuntungan kadang-kadang jauh lebih sederhana.
Malam itu, keberuntungan kami hanya satu:
Alvi belum tidur.
Ia menggeser gorden.
Ia melihat sepasang mata.
Dan ia berteriak.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau malam itu ia tertidur lebih dulu.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Mungkin memang itulah yang paling menakutkan dari semua ini.
Bukan bahwa seseorang pernah mengintip kamar kami.
Melainkan bahwa keselamatan kami malam itu mungkin bukan karena tempat itu aman.
Kami hanya sedang beruntung.