IPB University Kembangkan Model Bisnis Lobster Dederan, Dorong Nelayan Naik Kelas

Bagikan Artikel

BOGOR, BONARINEWS – Peneliti IPB University mengembangkan konsep baru dalam rantai budi daya lobster melalui pengembangan lobster ukuran dederan. Inovasi ini dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat pemanfaatan benih bening lobster (BBL) secara berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan Dr Irzal Effendi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University memperkenalkan lobster dederan sebagai produk antara dalam industri budi daya lobster.

Selama ini, pasar lobster hanya didominasi dua segmen utama, yakni benih bening lobster (BBL) dan lobster konsumsi dengan ukuran di atas 150 gram per ekor.

Melalui konsep baru tersebut, lobster ukuran 10–50 gram diperkenalkan sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi tersendiri.

“Harapannya, ke depan akan ada produksi lobster konsumsi yang berasal dari hasil pembesaran masyarakat, bukan hanya mengandalkan tangkapan dari alam,” ujar Dr Irzal.

Ia menjelaskan, gagasan tersebut lahir dari kajian ilmiah mengenai siklus hidup lobster. Pada fase larva hingga benih, tingkat kematian alami lobster di laut sangat tinggi akibat predator dan kondisi lingkungan.

Dengan sistem akuakultur yang terkendali, tingkat kelangsungan hidup lobster dapat ditingkatkan sehingga sumber daya yang sebelumnya banyak hilang di alam bisa dimanfaatkan secara produktif.

Hasil penelitian menunjukkan lobster membutuhkan waktu sekitar 140 hari untuk mencapai ukuran 20–30 gram. Pemeliharaan BBL dengan sistem dasar laut juga memberikan performa produksi yang lebih baik dibandingkan metode lainnya.

Dari sisi bisnis, lobster dederan dinilai memiliki prospek yang menjanjikan. Berdasarkan kajian IPB University, lobster ukuran sekitar 50 gram dapat memiliki harga jual rata-rata Rp26.676 per ekor.

Sementara harga benih ideal diperkirakan tidak lebih dari Rp18 ribu per ekor agar usaha tetap menguntungkan dan nelayan penangkap tetap memperoleh manfaat ekonomi.

Perhitungan usaha menunjukkan nilai revenue cost (RC) ratio sebesar 1,28. Angka tersebut menunjukkan usaha lobster dederan layak dikembangkan secara ekonomi.

Permintaan pasar internasional terhadap lobster juga masih tinggi, terutama dari Vietnam dan Tiongkok. Pada momen tertentu seperti menjelang Tahun Baru Imlek, harga lobster mutiara bahkan dapat mencapai Rp950 ribu per kilogram ketika pasokan dari alam menurun.

Selain aspek teknologi, IPB University juga mendorong pengembangan model bisnis berbasis masyarakat.

Sejumlah daerah seperti Simeulue, Kaimana, dan Halmahera Selatan telah menunjukkan minat untuk mengembangkan program pelatihan serta pendampingan budi daya lobster bersama IPB University.

Menurut Dr Irzal, keberhasilan pengembangan lobster dederan sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia.

“Kuncinya ada di masyarakat. Kami ingin membangun kapasitas agar mereka mampu menjadi pembudi daya lobster yang baik,” katanya.

Saat ini, tingkat kelangsungan hidup lobster hasil riset IPB University telah mencapai 71 persen. Tim peneliti menargetkan peningkatan survival rate menjadi 73 persen pada 2026 dan 75–78 persen pada 2027 melalui penyempurnaan teknologi pemeliharaan, pakan, dan manajemen budi daya.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *