Jakarta, BONARINEWS – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan nilai dolar tidak menjadi ancaman besar bagi masyarakat desa di Indonesia. Menurutnya, desa memiliki ketahanan ekonomi yang kuat karena ditopang oleh sektor pertanian sebagai kekuatan utama ekonomi nasional.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Mentan Amran menyampaikan bahwa sektor pertanian justru menjadi bantalan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Hal ini terjadi karena sebagian besar kebutuhan pangan nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Ia menjelaskan, meskipun ada dampak pada sejumlah komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih, kondisi pertanian secara umum tetap kuat dan stabil.
Amran juga menyoroti peran besar desa yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, mulai dari beras, telur, ayam, cabai, hingga bawang yang seluruhnya berasal dari petani lokal.
Ia menyebut data Badan Pusat Statistik menunjukkan kinerja ekspor pertanian meningkat signifikan, sementara impor justru mengalami penurunan. Hal ini memperkuat posisi sektor pertanian sebagai penopang ekonomi nasional.
Menurutnya, kondisi saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa krisis ekonomi 1997–1998, karena cadangan beras nasional kini berada di atas 5 juta ton dan produksi pangan dalam kondisi surplus.
Pemerintah juga terus mendorong swasembada pangan untuk sejumlah komoditas yang masih bergantung pada impor, seperti bawang putih dan kedelai, melalui peningkatan produksi dan perluasan lahan tanam.
Selain itu, pemerintah memperkuat program hilirisasi pertanian dan perkebunan agar produk Indonesia memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum diekspor.
Komoditas seperti kelapa, kopi, kakao, sawit, hingga lada kini diarahkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi besar yang mampu meningkatkan pendapatan nasional.
Mentan Amran menegaskan bahwa penguatan sektor pertanian berbasis desa tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di tengah tekanan global.
Penulis: Lindung Silaban