Perpisahan Yesus Bikin Murid Bersukacita, Khotbah Pdt Esmar Sitorus Ungkap Rahasia Iman yang Menguatkan Hati

Bagikan Artikel

Perpisahan biasanya identik dengan kesedihan dan air mata. Namun khotbah yang disampaikan DS. Pdt. Esmar Sitorus dalam ibadah Peringatan Kenaikan Tuhan Yesus di GMI Pardamean justru menghadirkan pesan berbeda yang menyentuh hati jemaat.

Mengangkat tema “Perpisahan yang Membawa Sukacita” dari Lukas 24:44–53, Pdt. Esmar Sitorus menegaskan, kepergian Yesus ke surga bukanlah akhir dari pengharapan, melainkan awal sukacita baru bagi orang percaya.

Dalam khotbahnya, ia mengingatkan, keraguan sering muncul karena manusia kurang percaya terhadap penyertaan Tuhan. Sebaliknya, iman yang teguh akan melahirkan sukacita, bahkan di tengah kehilangan dan perpisahan.

“Yesus pergi, tetapi murid-murid justru pulang dengan sukacita besar. Itu karena mereka percaya janji Tuhan tidak pernah gagal,” ungkapnya di hadapan jemaat.

Ia lalu membagikan kisah perjuangannya saat terpanggil masuk sekolah teologi. Demi mengikuti panggilan Tuhan, dirinya rela menjual tanah seluas tiga hektar dan meninggalkan kenyamanan hidup demi pelayanan. Keputusan besar itu diambil karena keyakinannya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang setia pada panggilan-Nya.

Khotbah tersebut juga menekankan, keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus. Menurutnya, pengorbanan Yesus di kayu salib telah menggenapi misi Allah bagi manusia. “Hanya Yesus jalan keselamatan. Tidak ada jalan lain,” tegasnya.

Tak hanya berbicara soal iman, Pdt. Esmar Sitorus juga mengingatkan jemaat agar tidak jatuh dalam dosa ketika menerima banyak berkat dunia. Ia menegaskan bahwa berkat Tuhan seharusnya menjadi sarana berbagi kepada sesama, bukan membuat manusia semakin jauh dari Tuhan.

Pesan yang paling menyentuh muncul ketika ia membahas janji Roh Kudus sebagai Penolong dan Penghibur bagi orang percaya. Menurutnya, Roh Kudus menjadi bukti, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya meski Yesus telah naik ke surga.

Ia pun mengajak jemaat untuk meneladani kesetiaan para pendahulu iman yang telah menjadi saksi hidup tentang kasih dan pemeliharaan Tuhan.

Di akhir khotbah, jemaat diajak hidup dalam sukacita, tetap percaya pada penyertaan Tuhan, setia berbagi berkat, dan menjadi saksi bagi banyak orang di tengah kehidupan sehari-hari.

Penulis: Mardi Panjaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *