Menkes Budi Pastikan Kasus Hantavirus di Jakarta Terkendali, Kontak Erat Dipantau 14 Hari

Bagikan Artikel

JAKARTA, BONARINEWS – Pemerintah memastikan situasi terkait kasus Hantavirus yang ditemukan di wilayah DKI Jakarta masih dalam kondisi terkendali. Kementerian Kesehatan RI terus melakukan pemantauan ketat terhadap kontak erat pasien selama masa inkubasi 14 hari.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Hantavirus tidak mudah menular antar manusia, sehingga masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik.

Kasus ini berawal dari seorang warga negara asing yang sempat berada di kapal luar negeri dan kemudian teridentifikasi sebagai kontak erat kasus Hantavirus. Setelah menerima laporan dari otoritas kesehatan internasional, pemerintah segera melakukan pelacakan dan penanganan cepat.

Pasien kemudian dievakuasi dan menjalani isolasi di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta untuk observasi dan penanganan lebih lanjut.

Kementerian Kesehatan menyatakan seluruh kontak erat yang telah diperiksa sejauh ini menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan hingga masa inkubasi selesai sebagai langkah pencegahan.

Pemerintah menjelaskan bahwa Hantavirus umumnya ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, bukan melalui penularan antarmanusia. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan urin, feses, atau air liur hewan terinfeksi.

Secara medis, Hantavirus dapat menyebabkan dua kondisi utama, yaitu gangguan pada ginjal dan demam berdarah dengan sindrom paru. Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan spesifik sehingga perawatan dilakukan secara suportif sesuai gejala.

Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa varian yang terdeteksi di Indonesia merupakan tipe Asia dengan tingkat kematian relatif lebih rendah dibanding varian di kawasan lain.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya sistem deteksi dini dan koordinasi internasional dalam menghadapi potensi penyakit menular baru di Indonesia.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *