Setelah sempat terhenti sejak 2022, budidaya ikan konsumsi di BBIS Noekele kembali hidup. Hari pertama penjualan ikan nila langsung menghasilkan ratusan kilogram dan disalurkan ke Kota Kupang hingga Kabupaten Kupang.
NTT, BONARINEWS.com – Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Noekele yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali menunjukkan taringnya di sektor perikanan budidaya. Pada Minggu (11/05), BBIS Noekele resmi melaksanakan penjualan perdana ikan air tawar konsumsi hasil penebaran sejak 20 Desember 2025.
Kegiatan ini menjadi momentum penting kebangkitan budidaya ikan konsumsi di BBIS Noekele yang sempat terhenti sejak tahun 2022. Tak tanggung-tanggung, pada hari pertama penjualan, sebanyak 221 kilogram ikan nila siap konsumsi berhasil dipasarkan dari total potensi panen mencapai 400 kilogram.
Ikan nila hasil budidaya tersebut langsung disalurkan ke konsumen hingga kolam pemancingan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Tingginya minat masyarakat disebut menjadi sinyal positif meningkatnya kebutuhan ikan air tawar segar di NTT.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Merry M Foenay, hadir langsung memantau proses panen dan penjualan didampingi Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL Muhammad Saleh Goro beserta jajaran teknis BBIS Noekele.
Dalam arahannya, Merry menegaskan bahwa BBIS Noekele kini tidak hanya difungsikan sebagai pusat produksi benih ikan, tetapi juga sebagai motor penggerak pengembangan teknologi budidaya modern sekaligus penyedia ikan konsumsi untuk masyarakat.
“Keberhasilan budidaya hingga penjualan hari ini membuktikan bahwa NTT memiliki potensi besar di sektor perikanan air tawar, meskipun selama ini dikenal sebagai provinsi maritim. BBIS Noekele memiliki peran penting dalam menghasilkan benih unggul sekaligus menjaga ketersediaan ikan konsumsi di pasaran,” ujarnya.
Pengelolaan BBIS Noekele saat ini diarahkan menggunakan teknologi budidaya modern, mulai dari sistem pengairan yang lebih efektif, efisiensi pakan, hingga penggunaan indukan unggul yang mampu beradaptasi dengan lingkungan lokal.
Penerapan teknologi tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas hingga 40 persen dibanding metode konvensional. Bahkan tingkat kelangsungan hidup ikan disebut dapat mencapai lebih dari 85 persen.
Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam daerah, BBIS Noekele juga diproyeksikan menjadi pemasok benih unggul bagi wilayah-wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses ikan segar. Tahun ini, target produksi BBIS Noekele mencapai 500 ribu ekor benih unggul yang akan disebarkan ke kabupaten dan kota se-NTT.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL, Muhammad Saleh Goro, mengatakan pihaknya terus melakukan inovasi agar BBIS Noekele berkembang menjadi pusat pelatihan pembudidaya ikan masyarakat.
Menurutnya, kawasan pembesaran ikan di BBIS Noekele juga dirancang berkembang menjadi lokasi pemancingan eksklusif berbasis ekowisata yang terintegrasi dengan sektor pertanian masyarakat sekitar.
“Kami tidak hanya memproduksi ikan, tetapi juga membina pembudidaya di desa-desa melalui kolaborasi bersama dinas perikanan kabupaten dan kota di seluruh NTT. Benih unggul bersertifikasi CPIB dari BBIS Noekele akan terus disebarkan agar masyarakat bisa ikut meningkatkan produksi dan pendapatan,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTT sendiri menempatkan sektor perikanan budidaya air tawar sebagai salah satu prioritas dalam Roadmap Pembangunan Perikanan 2026–2030. Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan ikan dari luar NTT.
Sebagian hasil panen perdana BBIS Noekele telah disalurkan ke pasar induk Kupang. Sementara benih ikan unggul dalam waktu dekat akan didistribusikan ke wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, dan Malaka melalui program Bioflock Tematik Ditjen Perikanan Budidaya.
Dengan capaian ini, BBIS Noekele semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra perikanan air tawar terpenting di Indonesia Timur yang berperan besar menjaga pasokan pangan sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat.
Penulis: Faidin