Tarutung, BONARINEWS.com – Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 kembali diwarnai kritik dari kalangan mahasiswa. Ketua BEM IAKN Tarutung, Yosef Aprian Simanjuntak, menilai negara belum mampu memfasilitasi pendidikan secara optimal, terutama dalam hal realisasi beasiswa bagi mahasiswa berprestasi.
Sorotan tersebut muncul setelah beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) yang diumumkan sejak Januari 2026 hingga kini belum juga dicairkan. Memasuki bulan Mei, mahasiswa penerima masih belum mendapatkan kepastian terkait dana yang sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan pendidikan.
Yosef mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan persoalan ini kepada pimpinan kampus sejak April 2026. Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan yang diterima mahasiswa.
“Kami sudah melaporkan langsung ke pihak kampus, tetapi belum ada kepastian. Ini tentu sangat mengecewakan bagi kami,” ujarnya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga melakukan konfirmasi ke Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen. Dari hasil komunikasi tersebut, diperoleh informasi bahwa dana beasiswa masih dalam kondisi terblokir di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Menurut Yosef, kondisi ini menunjukkan lemahnya komitmen negara dalam menjamin keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa keterlambatan pencairan beasiswa bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut hak dasar mahasiswa.
“Hardiknas seharusnya jadi momen refleksi. Tapi yang kami lihat, negara belum mampu memfasilitasi pendidikan dengan baik. Beasiswa yang sangat dibutuhkan mahasiswa justru belum terealisasi,” tegasnya.
Sebagai Koordinator Wilayah Sumatera Utara BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Yosef mendesak pemerintah untuk segera memberikan kejelasan dan merealisasikan pencairan beasiswa tanpa penundaan lebih lanjut.
Ia juga mengingatkan bahwa jika persoalan ini terus berlarut, kepercayaan mahasiswa terhadap komitmen pemerintah dalam sektor pendidikan dapat semakin menurun.
Menutup pernyataannya, Yosef menegaskan bahwa mahasiswa akan terus mengawal isu ini hingga ada kepastian dan solusi konkret. Ia berharap peringatan Hardiknas tidak hanya menjadi seremoni, tetapi benar-benar menjadi titik evaluasi bagi perbaikan sistem pendidikan nasional.
Penulis: Dedy Hu