Medan, Bonarinews.com – Kepergian Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd pada Senin (27/4/2026) meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendidikan. Di balik sosok akademisi dan pemimpin besar itu, tersimpan kisah perjuangan luar biasa seorang “anak workaholic” dari Samosir yang meniti karier dari bawah hingga menjadi orang nomor satu di Universitas Negeri Medan (Unimed).
Prof Syawal dikenal sebagai pekerja keras yang nyaris tak mengenal waktu. Baginya, bekerja bukan sekadar kewajiban, melainkan kenikmatan, terutama ketika mampu menghasilkan karya terbaik.
Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: mengejar mutu dalam setiap pekerjaan.
Semasa muda, Syawal bahkan kerap bekerja hingga tengah malam saat para atasannya sudah beristirahat. Guru Besar Antropologi Unimed, Usman Pelly, pernah mengingatkannya agar tidak terlalu keras bekerja.
“Hei, jangan terus-terusan kerja. Nanti kau jadi workaholic,” begitu teguran yang pernah diterimanya.
Namun bagi Syawal, kerja keras adalah jalan hidup. Saat masih menjadi staf biasa di Unimed, ia rela mengangkat tas, mengetik dokumen, hingga mengerjakan berbagai tugas untuk para pembantu rektor.
Dari pekerjaan-pekerjaan kecil itulah, Syawal belajar tentang manajemen akademik, kepemimpinan, kesabaran, hingga cara menghargai orang lain.
“Menjadi stafnya pembantu rektor itu adalah orang yang disuruh-suruh mengerjakan apa saja. Di situ saya belajar tentang manajemen akademik, tentang menahan perasaan, tentang menghargai orang lain, dan tentang menahan diri kalau dimarahi. Saya belajar banyak hal,” ungkap Syawal dalam satu kesempatan wawancara kepada saya beberapa tahun lalu.
Perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkannya menjadi Rektor Unimed dan tokoh pendidikan nasional. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kemendikbud di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Syawal dikenal dekat dan banyak belajar dari para tokoh besar Unimed seperti Yunus Salim, Sukarna, Darmono, hingga Djanius Jamin. Dari mereka, ia menyerap ilmu seperti kerang mengolah pasir menjadi mutiara.
Prinsip kerja keras itu diwarisinya dari sang ayah, seorang petani di Samosir yang selalu mengerjakan segala sesuatu dengan sebaik mungkin.
“Meski petani, ayah selalu mendesain pekerjaannya sebaik mungkin,” kenangnya.
Banyak tokoh mengagumi kecerdasan dan ketangguhan Syawal. Profesor Abdul Hamid menyebutnya kaya ide-ide cemerlang. Profesor Manihar Situmorang menilai Syawal selalu mampu membuat gagasan besar menjadi sederhana dan aplikatif.
Sementara Bambang Winarji, Kepala LPMP, menyebut Syawal sebagai sosok tangguh dan konsisten terhadap ide serta keyakinannya.
Lahir dan besar di Samosir, masa kecil Syawal tak jauh berbeda dengan anak-anak kampung lainnya. Ia bermain gasing, berlari di pematang sawah, dan tumbuh di tepi Danau Toba.
Lingkungan itu membentuk filosofi hidupnya.
“Hidup harus seperti danau, semakin merendah, semakin limpah airnya, semakin raya ikan di dalamnya.”
Filosofi itu pula yang membuatnya tetap rendah hati di tengah kesuksesan.
Kisah hidup Prof Syawal Gultom menjadi inspirasi bahwa proses panjang, kerja keras, dan kesediaan terus belajar adalah jalan menuju keberhasilan.
Kini sang “anak workaholic” itu telah berpulang. Namun dedikasi, gagasan, dan warisan pemikirannya akan terus hidup dalam dunia pendidikan Indonesia.
Penulis: Dedy Hu
Benar suri teladan prof, tenanglah di keabadian