ASB Bergerak Lagi, Bantuan untuk Penyintas Banjir Sumut Tak Hanya Sembako Tapi Juga Trauma Healing yang Menyentuh

Bagikan Artikel

Medan, Bonarinews.com — Upaya pemulihan korban banjir di Sumatera Utara terus berlanjut dan kini semakin menyentuh aspek yang lebih dalam. Aliansi Sumut Bersatu kembali menunjukkan aksi nyata dengan menyalurkan bantuan sekaligus menghadirkan program trauma healing khusus untuk perempuan dan anak yang menjadi kelompok paling terdampak.

Banjir yang terjadi sejak November 2025 lalu masih menyisakan luka, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis. Melihat kondisi tersebut, Aliansi Sumut Bersatu tidak hanya berhenti pada bantuan logistik, tetapi juga fokus pada pemulihan mental para penyintas.

Pada tahap awal, sebanyak 100 paket sembako disalurkan ke Desa Pantai Gemi, Kabupaten Langkat, untuk membantu kebutuhan dasar warga. Program ini didukung oleh Kitabisa dan donasi dari aktris Dian Sastrowardoyo.

Aksi berlanjut pada Maret 2026 di Kabupaten Tapanuli Tengah. Di Desa Pasir Bidang, tim menyalurkan 100 paket dignity kit untuk perempuan dan 40 paket untuk anak-anak. Yang menarik, kegiatan ini juga disertai trauma healing yang membuka ruang bagi anak-anak dan ibu-ibu untuk mengekspresikan pengalaman mereka saat bencana.

Anak-anak menggambar dan menuliskan kata tolong sebagai refleksi ketakutan mereka, sementara para ibu menyampaikan harapan kepada pemerintah terkait penanganan pascabencana, termasuk pembersihan lingkungan dan penyediaan hunian sementara.

Tak berhenti di situ, sejak Februari hingga Mei 2026, program berlanjut di Desa Pantai Cermin, Langkat, dengan distribusi 160 paket dignity kit serta edukasi kesehatan reproduksi bagi perempuan dan remaja di masa krisis.

Selain bantuan langsung, kampanye tas siaga bencana berperspektif gender juga digencarkan. Program ini mengedukasi masyarakat agar lebih siap menghadapi situasi darurat, khususnya bagi kelompok rentan.

Direktur Aliansi Sumut Bersatu, Veryanto Sitohang, menegaskan bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana sehingga membutuhkan perhatian khusus, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar tetapi juga pemulihan mental dan keberlanjutan hidup.

Kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Grab Indonesia, Yayasan Benih Baik, dan Yayasan IPAS menjadi kunci keberhasilan program ini dalam menjangkau lebih banyak penyintas.

Langkah berkelanjutan ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Sumatera Utara. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *